Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja

Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja
Luka Dan Kebahagiaan


__ADS_3

"TIDAK!. SAYA TIDAK MAU TANGGUNG JAWAB APAPUN DARI PRIA BA*INGAN ITU!!!!."


Anya menolak dengan tegas maksud baik Agung. Pria tua itu hanya bisa menghela nafas. "Kamu tidak boleh egois. Pikirkan bayi yang ada dikandungan kamu. Dia butuh kasih sayang lengkap dari kedua orang tuanya. Lagipula, apa kamu sanggup mendengar hinaan orang jika anakmu nanti lahir tanpa ayah!."


Anya tertawa sinis, "Anda bilang saya jangan egois? Disini putra anda-lah yang egois!!. Dia telah menghancurkan masa depan saya. Dia bahkan bersikap seolah-oleh tidak terjadi apa-apa. Jangankan berniat mencari, mengingat saya-pun, saya rasa tidak pernah. Lalu anda datang dan ingin mempertemukan saya juga meminta putra anda bertanggung jawab atas bayi yang saya kandung. Anda mau memasukkan saya sebagai duri didalam pernikahan putra anda. Dan membuat hidup saya makin susah karena dibenci istri putra anda, begitu?. Saya menolak tuan Agung yang terhormat. Saya tegaskan sekali lagi, saya menolak!!!."


"Jangan keras Anya, pikirkan anakmu!!."


"Jangan khawatir masalah anak ini. Saya bisa merawat dan membesarkannya seorang diri. Buktinya banyak perempuan yang nasibnya seperti saya tapi mereka bisa survive!", ucap Anya yakin, walau ada keraguan didalam hatinya.


"Bagaimanapun dia cucu saya, Anya. Jangan lupakan itu!."


Anya menatap Agung dengan tajam, "Anda benar. Dia memang cucu anda, tapi hanya saya yang berhak atas bayi ini. Karena apa, karena ayahnya saja tidak tahu keberadaannya. Ah bukan tidak tahu, tapi tidak mau tahu!!."


"Kamu keras kepala Anya. Kamu pikir mudah membesarkan anak seorang diri? Tanpa suami dan dengan status kamu yang belum menikah?."


Tangan Anya mengepal, "Mengapa harus memikirkan ucapan orang. Saya yang menjalani hidup saya. Saya sudah berteman dengan hidup yang keras. Tidak akan sulit hidup berdua dengan anak ini!."


"Bagaimana jika suatu saat dia bertanya siapa dan dimana ayahnya?."


Deg


Anya menatap Agung, lalu memalingkan wajah. Bagaimanapun dia bersikeras menolak kehadiran ayah dari bayinya, tapi suatu saat pertanyaan itu pasti terlontar dari mulut anaknya. Dan dia harus siap dengan alasan yang masuk akal.

__ADS_1


"Saya akan mengatakan jika ayahnya sudah meninggal!!."


*


*


*


*


"Bagaimana?", tanya Januar antusias, pria tua itu bahkan sudah menunggu kedatangan putra dan menantunya diteras rumah.


Dirga dan Gita tersenyum, "Alhamdulillah, Pa. Doa papa terkabul, Gita hamil. Usianya sudah 6 minggu!", jelas Dirga


Dirga dan Gita saling tatap lalu tersenyum, "Pa, aku ini hamil. Bukan sakit, jadi tetap bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Tapi tidak boleh yang berat!."


"Tetap saja. Kesehatan kamu dan bayimu yang nomor satu!."


Gita tersenyum, "Aku akan menjaga kehamilanku dengan baik. Papa sama Mas Dirga nggak perlu khawatir. Lagipula yang mengalami gejala kehamilan kan Mas Dirga. Jadi aku masih bisa beraktivitas seperti biasa!," ucap Gita yang membuat Dirga mendengus kecil.


"Apapun akan aku lakukan demi kamu dan anak kita!."


"Terima kasih, suamiku. Papa juga tidak perlu terlalu khawatir. Semua akan berjalan dengan baik. Dan aku janji, akan menjaga kandunganku dengan baik!."

__ADS_1


Januar menghela nafas, ia hanya terlalu khawatir pada sang menantu. "Papa tidak bisa melarang. Semua papa kembalikan sama kamu dan Dirga. Papa yakin kalian akan menjaga anak kalian dengan baik!," ucap Januar pasrah.


"Sebaiknya kita masuk, papa juga harus istirahat kan?."


Januar mengangguk, "Kamu istirahatlah dikamar. Sebentar lagi aku menyusul!", Gita mengangguk. Dirga mendorong kursi roda papanya dan membawanya ke kamar. Setelah mengantar papanya, Dirga menyusul istrinya ke kamar. Dilihatnya Gita berdiri didepan jendela, perempuan itu tampak menikmati angin yang menerpa wajahnya.


"Sayang, jangan terlalu lama menikmati angin . Nanti kamu bisa masuk angin. Kasian bayi kita!", Gita menoleh pada suaminya.


"Papa sudah tidur?", bukan menanggapi ucapan suaminya. Gita justru bertanya mertuanya.


"Sudah. Sebaiknya kamu juga istirahat sekarang!."


"Tapi aku belum ngantuk!."


"Mau aku buat ngantuk?", tanya Dirga dengan senyum nakalnya. Namun sedetik kemudian wajahnya berubah, "Astaga, aku lupa bertanya pada dokter masalah bobo bareng kamu!!",


*


*


*


Hiya ... Mas Dirga kok lupa soal jatahnya sih... puasa dah bang

__ADS_1


__ADS_2