Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja

Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja
Siasat


__ADS_3

"Dengarkan aku Mentari, jika kau masih menggangu dan membuat Gita menderita. Aku tidak segan-segan memberi tahu Danar semuanya!",


Deg


Wajah Tari terlihat pias, tangannya sedikit gemetar. Dirga seperti malaikat pencabut nyawa yang siap mencabut nyawanya saat ini juga.


"Apa yang kalian sembunyikan dariku?", Danar menatap Dirga dan Tari bergantian


"Ti-tidak ada sayang, aku bahkan tidak mengenalnya. Jangan percaya omong kosongnya!", elak Tari


Dirga kembali tersenyum licik


"Menyedihkan sekali kau ini. Kau bahkan tidak tahu apa-apa tentang siapa istrimu ini. Ah ya, dia sudah membuatmu terlena dengan servicenya!!", cibir Dirga


"Sebaiknya kau enyah dari rumahku. Dan aku peringatkan, jangan lagi ikut campur masalah kami!!", ucap Danar marah


"Tentu, tapi aku akan membawa Gita bersamaku. Aku tidak mau dia dalam bahaya jika bersama kalian!", jawab Dirga


"Terserah!!, bawa saja jalangmu pergi!!",


Danar membawa Tari masuk tanpa menghiraukan mereka. Gita berusaha menahan air matanya. Ia tak mau Dirga mengasihaninya. Kata-kata Danar tidak hanya menyakiti hatinya tapi juga harga dirinya. Tidak, ia belum mau menyerah saat ini, Gita masih kuat untuk berdiri dan bertahan. Dia tidak akan menyerah hanya karena hal kecil seperti ini.


"Dir, aku mohon jangan ikut campur masalahku. Aku tahu kamu peduli padaku, tapi ini hidupku, ini rumah tanggaku. Jangan melewati batasanmu!!", pinta Gita


Dirga menatap Gita dengan raut tak terbaca,


"Ikutlah denganku!", Gita menggeleng


"Bukankah kau sudah berjanji akan mendukung apapun yang aku lakukan?", Gita mengingatkan Dirga akan janjinya.


"Tapi aku tidak berkata akan membiarkanmu tertindas seperti ini. Kenapa kamu bertahan Git?, Danar bahkan menyuruhmu menyerah!", lirih Dirga


Gita menatap Dirga dengan senyum,


"Karena dia suamiku. Dia imamku, terlepas bagaimana dia memperlakukanku. Aku tidak akan menyerah sebelum mas Danar sendiri yang mengakhiri semuanya!",


Jujur, Dirga sedikit kecewa dengan perkataan Gita. Lebih tepatnya dia iri pada Danar. Setelah tahu semuanya, ternyata tak membuat Gita berpaling dari suaminya. Walau tak mau memaksa Gita akan perasaannya. Tapi, apa salah jika dia berharap Gita membuka hati untuknya?.


"Sekarang pulanglah, kakak!!",


Dirga tersenyum miris, kata kakak yang Gita ucapkan sudah menegaskan bahwa status mereka hanya sebatas itu. Dan mungkin, sampai kapanpun nanti.


"Hubungi aku jika terjadi sesuatu!",


Gita mengangguk saat Dirga mulai melangkah pergi.


****


Didalam kamar, Danar menatap Tari dengan tatapan penuh selidik. Hal itu membuat Tari sedikit ketakutan,


"Siapa sebenarnya Dirga itu?. Aku yakin kalian saling mengenal sebelumnya!!", ucapnya dingin


"Kau mulai meragukan aku?", jawab Tari dengan suara bergetar


"Aku tidak pernah meragukanmu. Tapi aku juga tidak tahu, apa kau sedang menutupi sesuatu dariku atau tidak. Dua kali Tar, dua kali dia mengancammu. Dan dua kali pula kau menampakkan raut ketakutan saat itu!!", ucap Danar tegas


Tari mulai pucat, dia tak mau Danar mengetahui semuanya saat ini. Dia tidak mau kehilangan ataupun ditinggalkan oleh Danar.


"Aku tidak pernah menutupi apapun darimu mas. Semua yang Dirga katakan, aku juga tidak tahu maksudnya apa. Kenapa kamu seolah menuduhku mengenalnya?. Apa kamu juga berfikir aku seperti Gita?. Kamu juga mengira aku sebagai jalangnya?", Danar terkejut dengan ucapan istrinya. Bukan seperti itu maksudnya, entah kenapa Danar merasa Tari menyembunyikan sesuatu darinya.


"Arggg ....!", Tari mengerang sambil memegang perutnya


"Sayang kenapa?. Apa perutmu sakit?", tanya Danar panik


Tari mulai menitikkan air mata palsunya


"Tiba-tiba perutku nyeri. Mungkin karena aku terlalu banyak pikiran!", jawabnya lemah


Danar merasa sangat bersalah, semua ini karena dirinya.


"Maafkan aku, semua ini salahku. Aku yang membuatmu seperti ini. Sekarang istirahatlah, aku tidak mau terjadi sesuatu padamu juga calon anak kita!", Danar menuntun Tari merebahkan dirinya diranjang. Tak lupa menyelimuti juga mengecup keningnya.


Tari memejamkan mata, bukan tidur, tapi dia sedang menyusun siasat untuk keluar dari masalah ini.


Danar akan semakin curiga, aku harus melakukan sesuatu. Bathin Tari


Hembusan nafas halus terdengar ditelinganya. Tari membuka ponselnya dan mengirim pesan pada sesorang.


Beberapa saat kemudian, ponsel Tari berdering menandakan adanya pesan masuk. Perempuan itu berjalan mengendap keluar kamar dan tepat saat berada di depan pintu samping, perempuan itu membukanya.

__ADS_1


"Terima kasih, aku akan membayarmu mahal untuk ini!", Tari menerima bungkusan itu dari seseorang yang menyelinap lewat pintu samping. Dimana disana aman dari jangkaun CCTV rumahnya. Pria itu mengangguk lalu pergi.


Kali ini aku yakin, Danar tidak akan mengampuni perempuan sialan itu. Tari tersenyum licik lalu kembali ke kamarnya


****


Gita baru saja bangun, dia melihat jam menunjukkan pukul 5 pagi. Karena merasa haus, dia keluar kamar untuk mengambil air minum didapur. Gita berjalan melewati tangga, hingga


Bruk


Mata Gita membulat melihat Tari jatuh dari tangga, bahkan banyak darah keluar dari kakinya.


"Aargg!", teriak Tari


Gita segera mendekat, dia berusaha menolong Tari


"TARI!!", Danar berlari menuruni tangga, dia menghempas tangan Gita yang memegang lengan madunya.


"Apa yang kau lakukan hah!!", teriaknya pada Gita


"A-aku ti....!",


"Dia mendorongku mas, arrgg sakit!!", ucapan Tari membuat keduanya membeku,


"Kau akan membayar mahal jika terjadi sesuatu pada istriku!!!" Danar menggendong Tari lalu membawa keluar.


Gita masih membeku, tubuhnya lemas apalagi saat melihat banyaknya darah dilantai. Apa yang sebenarnya terjadi?. Benarkah dia mendorong Tari?.


Tidak ..., aku tidak melakukan apa-apa. Dia jatuh sendiri. Aku tidak mendorongnya. Ucap Gita dalam hati


Gita menutup wajahnya dengan dua tangan. Perempuan cantik itu menangis dalam keheningan.


****


"Sakit mas!", keluh Tari


"Sabar sayang, kita akan segera sampai dirumah sakit!", Danar menggenggam erat tangan istrinya. Tak lupa dia berdoa semoga Tari dan calon bayinya baik-baik saja.


Sepuluh menit kemudian. Mereka sudah tiba dirumah sakit,


"Suster, tolong istri saya!!", teriak Danar


"Anda dilarang masuk tuan, silahkan tunggu diluar!", ucap suster


Danar menunggu dengan perasaan cemas juga takut. Apalagi saat melihat raut kesakitan istrinya. Pria itu berjalan mondar-mandir seperti setrika rusak. Danar terus berdoa semoga Tari baik-baik saja. Sementara didalam ruangan, Tari malah rebahan dengan santai, ia menghapus lipstiknya lalu menggantinya dengan warna pucat. Seorang suster membawakan baju pasien dan dengan segera Tari mengganti bajunya.


"Aku akan memasangkan infus ini ditanganmu!", ucap seseorang berbaju dokter


"Lakukanlah!!", jawabnya santai


Setelah infus terpasang sempurna, Tari kembali rebahan.


"Ingat, jangan sampai kau membocorkan rahasia ini. Aku sudah mempromosikanmu menjadi wakil direktur di rumah sakit Harapan. Dalam seminggu, kau akan segera menduduki posisi tersebut. Tapi jika rahasiaku terbongkar, aku akan menariknya kembali!!", ucap Tari


"Tenang saja, semua aman. Kau tidak perlu khawatir. Aku jamin rahasia ini tidak akan terbongkar!!", jawabnya yakin


Diluar, Danar masih menunggu dengan cemas. Sudah setengah jam namun dokter belum juga keluar.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?", tanya Danar sesaat setelah dokter keluar dari ruang UGD


"Maafkan saya pak, kami tidak bisa menyelamatkan bayinya!",


Deg


Kaki Danar lemas seketika, bahkan pria itu luruh ke lantai. Hatinya hancur seiring air mata yang meluncur begitu saja dari wajah tampannya.


"Yang sabar tuan!", ucap dokter tersebut


Danar mengusap air matanya


"Bagaimana keadaan istri saya?", tanyanya pilu


"Nyonya Tari masih belum sadar. Tapi semuanya baik-baik saja. Dia akan dipindahkan keruang perawatan. Anda bisa mengunjunginya!", Danar mengangguk


Pria itu berjalan gontai menuju ruangan istrinya. Membuka handle pintu lalu masuk ke kamar dimana istrinya berada. Tari berbaring dengan wajah pucat dan selang infus ditangannya. Entah bagaimana reaksinya nanti jika istrinya itu mengetahui jika bayinya dudah pergi. Danar duduk disamping istrinya lalu menggenggam tangannya


"Maafkan aku sayang. Aku gagal melindungimu juga dia. Dia sudah pergi, dia meninggalkan kita. Aku harap kamu kuat setelah ini!", Danar mengecup tangan istrinya


Dia teringat pada Gita, rahangnya langsung mengeras dengan wajah yang memerah.

__ADS_1


Kau akan membayar mahal semua ini, perempuan sialan!!!


"Mas ...!", Danar memandang Tari


"Sayang, kau sudah sadar?", Tari mengangguk lemah


"Anak kita?", Danar menatap Tari sendu. Ia tak tega harus mengatakan kenyataan mengenai bayi mereka


"Kenapa kamu diam mas?. Dia baik-baik saja kan?", tanya Tari bergetar. Danar masih bergeming, dia sungguh tak tega harus mengatakan kabar duka ini pada istrinya.


"Jawab aku mas!!", teriak Tari


"Dia - dia sudah pergi sayang!",


Tari langsung menangis histeris,


"Tidak, dia tidak mungkin pergi. Dia tidak mungkin meninggalkan aku. Kamu bohong mas, kamu bohong!!",


Danar memeluk istrinya, dia ikut menangis melihat Tari yang frustasi. Bukan hanya Tari yang kehilangan, tapi dirinya juga.


"Dia sudah pergi sayang, dia sudah tidak ada. Kamu harus kuat, dia akan sedih jika mepihatmu seperti ini!", ucapnya menenangkan sang istri. Tari mulai sedikit tenang namun masih terdengar isakan dari bibir istrinya,


"Kenapa Gita jahat padaku mas?. Kenapa dia tega membunuh anak kita. Dia mendorongku, dia membuatku kehilangan calon bayi kita!. Aku lelah mas, dia tidak akan berhenti melukaiku. Sebaiknya ceraikan aku saja!!", ucapnya parau


"TIDAK!!. AKU TIDAK AKAN MELAKUKAN ITU. AKU TIDAK MAU KEHILANGANMU JUGA. Aku mohon jangan berkata seperti itu sayang. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku akan menceraikan Gita dan memberinya pelajaran!!", Tari mengangguk dan tersenyum dibalik dada suaminya.


Flash Back On


"Terima kasih, aku akan membayar mahal untuk ini!", Tari menerima kantong darah dari pria tersebut


"Jangan lupa hubungi dokter itu. Perintahkan seperti yang aku suruh. Jangan sampai dia gagal atau berkianat seperti Mayra. Dan pastikan semua berjalan lancar!", lanjutnya


Pria tersebut mengangguk lalu pergi.


Kau akan segera berakhir, Gita sayang ....!


Flash Back Off


Semua karena wanita sialan itu. Kau harus membayar mahal semuanya Git. Kau tidak akan pernah memaafkanmu!!, bathin Danar


Tari sudah bernafas teratur, artinya perempuan itu sudah terlelap. Setelah memastikan Tari tidur dengan nyaman, Danar segera meninggalkan rumah sakit.


Pria itu kembali dilanda amarah, Danar mengemudi dengan kecepatan tinggi. Dia tidak terima dengan perbuatan Gita dan Danar akan membuat Gita membayar semuanya.


Perjalanan dari rumah sakit yang seharusnya memakan waktu setengah jam lebih, hanya tempuh selama 20 menit. Danar turun dari mobil dengan rahang mengeras, dia berjalan cepat memasuki rumah lalu mencari keberadaan Gita.


"Pembunuh!"


Deg


Gita menatap Danar dengan raut wajah sendu, pria itu terlihat sangat marah.


"Kau sudah membunuh anakku!!", Danar mencengkram rahang Gita lalu mendorongnya hingga membentur meja makan. Wanita itu meringis, namun Danar tidak peduli. Dia kembali mencengkram rahang istrinya itu.


"Mas, lepaskan. Sakit!!", ucap Gita.


"Seharusnya aku tidak pernah menikahi wanita sialan sepertimu. Apa salah Tari hingga kau tega membunuh anak kami!!", Gita menggeleng


"Aku tidak mendorongnya, dia jatuh sendiri!!", ucap Gita


"Beraninya kau berbohong padaku. Aku sungguh muak denganmu. Kau harus dihukum, kau harus merasakan hal yang sama seperti yang Tari rasakan!!",


Danar menyeret Gita dan membawanya naik ke lantai atas.


"Mas lepaskan aku, apa yang akan kau lakukan?!!", teriak Gita


"Lebih baik kau mati!!. Nyawa harus dibalas nyawa!!", Danar mendorong Tari dari tangga lantai atas. Perempuan itu berguling terjatuh hingga ke lantai bawah.


"To-long aku mas!!", pinta Gita memohon. Darah mengalir dari kepalanya, tubuhnya terasa sakit luar biasa. Namun bukannya menolon, Danar justru pergi meninggalkan Gita. Perempuan itu perlahan mulai kehilangan kesadarannya


"Tolong ....!", suara Gita mulai lemah.


"Dirga ..., tolong aku!!", ucapnya lalu tak dasarkan diri


****


Ramaikan like dan komennya ya


makasih

__ADS_1


__ADS_2