
Tari baru saja memasuki rumah. Wajahnya terlihat cukup lelah setelah bekerja seharian.
"Kalau kamu selalu sibuk mengurus butik, kapan kamu akan hamil?. Mama sudah sangat menginginkan cucu, Tari!", ucap Anisa yang duduk diruang tamu.
Tari memutar bola matanya malas, selalu saja hal ini yang Anisa bahas.
"Mama ingin menggendong cucu seperti teman-teman mama yang lain!", Anisa sudah menghampiri menantunya.
"Aku juga ingin Ma. Tapi mau bagaimana lagi kalau memang belum dikasih!", jawab Tari sedikit malas.
"Kalian sudah menikah tiga tahun. Coba kamu pergi ke dokter. Siapa tahu salah satu dari kalian ada yang kurang subur!",
Tari langsung menatap mertuanya,
"Maksud mama apa bicara seperti itu. Mama menuduh aku mandul, begitu?", tanya Tari tak terima
Danar yang baru datang, hanya bisa menghela nafas saat mendengar perdebatan istri dan ibunya.
"Mama tidak mengatakan kamu mandul. Mungkin salah satu dari kalian ada yang kurang subur. Itukan yang mama katakan. Kenapa kamu sensitif sekali!",
"Ya, karena mama berkata seolah akulah masalahnya. Sudah aku tegaskan pada mama bukan, aku ini baik-baik saja. Mungkin saja mas Danar yang kurang sehat!", ucap Tari dengan santainya. Anisa yang mendengar hal itu tentu tidak terima.
"Buktinya Gita bisa hamil!",
"Lalu menurut mama, memang akulah masalah utamanya?", tanya Tari sengit
"Mama tidak berkata seperti itu. Mama hanya minta kalian pergi ke dokter untuk melakukan pemeriksaan. Dokter pasti punya solusi untuk masalah ini!",
__ADS_1
Tari semakin dongkol mendengar ucapan Anisa
"Aku bosan membahas hal ini!", ucap Tari pergi begitu saja
"Mama belum selesai bicara, Tari!!",
"Ma, sudahlah. Kenapa mama selalu membahas hal ini. Wajar jika Tari bersikap seperti itu. Tari tertekan dengan sikap mama yang selalu menuntut anak!",
Anisa menatap putranya dengan tajam,
"Bela terus istrimu itu. Seharusnya kamu bisa tegas. Suruh dia dirumah dan istirahat agar bisa cepat hamil. Lagipula, uang belanja darimu sudah lebih dari cukup untuk memenuhi gaya hidupnya yang mewah. Kenapa masih harus bekerja. Bukankah dia bisa meminta stafnya untuk menghandle pekerjaan dibutik. Kalau seperti ini terus, kapan mama punya cucu?. Andai kamu tidak bertindak bodoh. Cucuku dari Gita pasti sudah besar!!!", Anisa meninggalkan Danar begitu saja.
Danar mengusap rambutnya frustasi. Dia bingung harus bersikap seperti apa. Mamanya selalu menuntut anak. Siapa yang tidak menginginkan seorang anak. Dia juga ingin, tapi masalahnya, Allah belum menitipkan bayi dirahim istrinya. Dia dan Tari sudah berusaha, tapi mau bagaimana lagi jika memang belum diberi kepercayaan.
Pria itu berjalan menaiki tangga kemudian masuk kedalam kamarnya. Dia langsung disuguhi wajah istrinya yang ditekuk seperti kain kusut.
Danar kembali menghela nafas.
"Kamu tahu kan, mama tidak mengizinkan kita pergi!", jawabnya sambil membuka kemeja yang ia kenakan lalu menaruhnya di keranjang kotor.
"Ya, kamu harus tegas dong mas. Aku bisa gila kalau terus-menerus tinggal bareng mama kamu. Dia selalu menuntut anak, anak dan anak. Aku capek tahu nggak!",
"Mama kesepian Tari, kamu juga harus berfikir diposisi mama!",
Tari menatap suaminya kesal,
"Terus aku harus gimana?. Kita juga sudah usaha, Mas. Apa kamu juga seperti mamamu?. Mengira aku yang mandul?",
__ADS_1
Danar mendesah frustasi. Dua wanita itu selalu membuatnya pusing.
"Aku tidak pernah berfikir seperti itu, Tari. Mama juga tidak mengatakan kamu mandul. Kamu saja yang terlalu sensitif!",
"Tapi kamu dengar sendiri kan Mas. Mama bilang, Gita saja bisa mengandung anakmu. Itu sama saja mama menuduh aku yang mandul!",
Danar benar-benar lelah. Dia bekerja seharian, tubuh dan pikirannya sudah terkuras. Dirumahpun diajak berdebat. Tidakkah dia bisa tenang sejenak.
"Jangan bahas masalah ini lagi. Aku lelah Tari, aku baru saja pulang kerja. Aku capek!",
"Semua ini karena mama kamu. Pokoknya aku mau keluar dari rumah ini. Kalau kamu tidak mau ikut denganku. Kita berpisah saja!",
Deg
"Jangan seenaknya bicara, Tari. Kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu ucapkan?", ucap Danar dengan nada tidak suka.
"Kenapa?. Aku sudah tidak tahan lagi tinggal disini. Aku sudah menuruti semua kemauan mamamu. Aku bahkan harus repot belajar ini itu untuk menjadi menantu yang mamamu sukai. Tapi lihat yang aku dapat?. Mamamu selalu menuntut, menuntut dan menuntut. Aku juga punya batas sabar, Mas. Kamu selalu tidak bisa tegas jika berhadapan dengan mama. Jadi sebaiknya, kita berpisah saja!",
Danar mulai kesal, Tari memang sangat keras kepala.
"Semua masalah bisa dibicarakan dengan baik-baik Tari!. Jangan mengambil keputusan gegabah apalagi saat sedang emosi. Mama hanya menginginkan anak dari kita. Hanya itu masalahnya!", ucap Danar tegas.
"Menurut kamu itu memang hal yang simpel. Tapi tidak bagiku yang sebagai perempuan, Mas. Anak adalah hal sensitif, apalagi selalu dibahas setiap saat. Aku juga ingin memiliki anak, tidak ada wanita yang tidak ingin menjadi seorang ibu, termasuk aku!", lirih Tari
Danar mendekat lalu memeluk istrinya,
"Aku minta maaf karena mama selalu menuntutmu soal anak. Seharusnya, aku juga memikirkan perasaan kamu. Aku mohon kali ini kamu mengalah ya, kita turuti permintaan mama periksa ke dokter!",
__ADS_1
Deg