
Pengajian meninggalnya Tari telah selesai digelar. Artinya sudah satu minggu perempuan itu meninggalkan dunia. Walau kesedihan masih meliputi keluarga Dirga, namun semua sudah ikhlas melepaskan kepergian Tari.
"Kenapa melamun, hmm?," tanya Gita yang melihat suaminya melamun dihalaman belakang. Dirga tersenyum lalu menepuk kursi disampingnya, Gita yang mengerti maksud suaminya langsung duduk disamping Dirga.
"Tari pasti bahagia kan?", tanyanya lirih. Gita turut bersedih kehilangan Tari. Walau sikapnya selalu menyakitinya, namun Gita tahu jika semua yang Tari lakukan karena dia takut kehilangan cinta dari Danar. Dan Gita baru tahu, jika ternyata Dirga menyayangi Tari seperti adiknya sendiri. Terlihat jelas penyesalan Dirga setelah kepergian Tari. Dia juga mendengar cerita Januar bagaimana dulu hubungan mereka. Dirga menyayangi Tari dengan caranya sendiri.
"Tentu, dia sudah bahagia dan hidup dengan tenang. Dia akan didoakan banyak orang atas kebaikannya selama di dunia!."
Beberapa hari yang lalu, datang seorang pengacara kerumah Dirga. Kepergian Tari yang membawanya kesana. Rupanya, Tari sudah menyerahkan harta yang dia miliki untuk yayasan panti asuhan. Mungkin dia sudah mendapat firasat akan kepergiannya. Tari bahkan menitipkan surat untuk mantan suaminya kepada pengacaranya. Sebagai amanat terakhir, tentu saja Dirga memberikannya pada Danar.
*
*
*
Danar duduk dikursi roda dihalaman rumahnya. Tangannya masih memegang surat dari mantan istrinya, Tari. Entah apa yang Tari tulis untuknya, Danar belum memiliki keberanian untuk membaca surat terakhir mantan istrinya.
"Bacalah, Mas. Kamu akan tahu apa yang ditulis Mbak Tari!," ucap Anya. Dia terus memantau suaminya. Bahkan mendampingi Danar serta membantu apapun yang suaminya perlukan.
__ADS_1
"Aku tidak memiliki keberanian untuk membukanya, Nya. Aku takut, rasa bersalahku semakin besar saat membaca surat terakhir darinya!."
Anya henya bisa menghela nafas, setelah keluar dari rumah sakit, Danar memang sedikit pendiam. Mungkin rasa bersalah lah yang membuatnya seperti ini.
"Mbak Tari menulis itu untukmu. Tentu ada yang ingin dia sampaikan. Kalau kamu tidak membukanya, kamu tidak akan tahu apa yang akan disampaikan Mbak Tari!."
Danar menatap istrinya, dia begitu beruntung karena masih ada Anya yang mau menemaninya disaat susah seperti ini. Semua hartanya habis, rumah Anisa bahkan bukan lagi milik mereka. Untung saja perusahaan kosmetik milik Anisa tidak ikut di alihkan atas nama Tari, kalau tidak, tentu sekarang mereka sudah jadi gelandangan.
"Bukalah, dengan begitu mungkin akan memberikanmu ketenangan!."
Danar mengangguk pelan, perlahan dia membuka amplop surat tersebut. Dan pertama yang dia lihat adalah foto usg hitam putih atas nama Mentari. Ada dua tespeck bergaris dua dan sebuah surat yang ia yakin adalah tulisan tangan mantan istrinya.
Anya mengelus bahu sang suami, memberikan kekuatan atas kerapuhan yang dialami suaminya.
"Yang sabar, Mas. Aku yakin Mbak Tari sudah tenang di alam sana!." Danar kembali mengangguk. Lalu dia membuka surat dari Tari.
Mas, entah kenapa tiba-tiba aku ingin menulis surat ini untukmu. Aku ... tidak tahu kenapa aku merasa lelah belakangan ini. Aku mulai menyadari semua kesalahanku, dan aku menyesal pernah berbuat jahat pada semua orang. Kamu, Mama Anisa, Dirga dan juga Gita.
Kau tahu, saat kamu mulai berubah, aku merasa jika separuh jiwaku pergi begitu saja. Aku ingin menjadi yang pertama untukmu, aku ingin menjadi pelipur laramu seperti dulu. Tapi sepertinya, semua sudah mustahil karena rasa sayangmu yang mulai terkikis dan pergi untuk hati yang lain. Sebagai seorang wanita dan sebagai seorang istri, tentu aku tidak mau berbagi dengan siapapun. Tapi apalah dataku, sepertinya takdir memang tidak berpihak padaku. Dan aku harus menerimanya.
__ADS_1
Aku bahagia bisa menjadi istrimu, aku bahagia bisa hidup denganmu. Namun semua terasa hampa saat semua menuntutku menjadi seperti yang kalian inginkan. Aku tertekan, aku frustasi, bahkan saat aku butuh kamu. Kamu malah pergi. Dari situ aku sadar, cintamu bukan lagi milikku. Dan aku tidak ingin egois untuk kesekian kali. Aku memutuskan untuk pergi meninggalkanmu setelah aku tahu ada dia dirahimku. Tidak masalah aku kehilanganmu, karena aku sudah memiliki sebagian dari dirimu. Aku berusaha ikhlas melepaskan mu.
Tapi, aku semakin kecewa saat tahu kamu akan memiliki anak dengan wanita lain, padahal aku juga sedang hamil anak kita. Tidak ada yang peduli padaku, tidak ada yang khawatir padaku bahkan semua orang menjauhiku. Hahah, aku egois, bukan? Aku bahkan marah dan menolak Anya menjadi istrimu, padahal kamu harus bertanggung jawab atas kehamilannya dan juga anakmu yang ada di perutnya.
Jujur aku marah, aku sakit hati. Maaf karena diam-diam aku mengambil alih semua hartamu, tapi semua aku lakukan bukan untukku tapi untuk aku berikan kepada mereka yang membutuhkan. Itulah caraku membalas sakit hatiku padamu. Aku harap kamu mau Memaafkanku akan hal ini. Kamu pria hebat, aku yakin kamu akan dengan mudah kembali seperti dulu. Anggap apa yang aku rebut darimu, adalah kompensasi atas luka hati yang kamu torehan untukku.
Aku masih mencintaimu, Mas. Sekarang, besok dan selamanya ....
Hiduplah dengan baik setelah ini, jadilah ayah yang baik untuk anakmu kelak dan buatlah dia bangga memiliki ayah sepertimu.
Aku dan anak kita akan menunggumu disini, semoga kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti.
Salam sayangku
Mentari
Danar tergugu, dia menangis sejadi-jadinya. Penyesalan selalu datang belakangan, dan kini dia kembali menyesali perbuatannya pada Tari. Anya ikut menangis melihat suaminya begitu pilu.
Tanpa mereka tahu, dari kejauhan seseorang menatap mereka dengan marah.
__ADS_1
"Kalian akan menerima balasan dariku atas kematian putriku dan juga cucuku. Tidak akan aku biarkan kalian hidup bahagia diatas derita, Tari!."