
Danar turun dari mobilnya, ia menatap rumah Gita yang tampak sepi. Pria itu mengetuk pintu. Namun tidak ada sahutan, sepertinya rumah ini kosong. Dimana Gita?. Apa mungkin dia ada dirumah Dirga?. ****!!. Danar menggeram.
Tak mau menyerah, Danar mencoba menghubungi Gita. Sayangnya, tidak dijawab. Bahkan setelah beberapa kali dia melakukan panggilan, masih saja tidak diangkat.
"Untuk apa kamu mencari Gita?!!",
Danar berbalik, dia menatap pria yang esok akan menjadi suami mantan istrinya. Danar tidak bisa menerima semua begitu saja. Rasa penyesalan yang begitu dalam membuat Danar ingin kembali memiliki Gita, dia tidak mau Gita menjadi milik orang lain. Termasuk Dirga.
"Dimana Gita berada?", tanya Danar sengit
Dirga tersenyum mengejek pada pria angkuh tersebut.
"Aku tidak akan memberitahumu!"
"Cih, kenapa?. Apa kau takut Gita akan kembali padaku?", ucap Danar dengan begitu sombong.
"Hahah, itu tidak mungkin terjadi. Karena apa?. Karena besok, Gita akan menjadi milikku seutuhnya. Kami akan hidup bahagia, aku mencintainya dan dia, mencintaiku. Ah, kami juga berencana memiliki banyak anak!!",
Tangan Danar terkepal kuat, dia maju hendak memukul Dirga, sayangnya, pria itu menghindar dengan cepat dan Danar jatuh tersungkur.
"Kau pikir aku bodoh?. Aku tidak akan membiarkan Gita berada disini. Karena aku tahu kau akan terus mengejar calon istriku!!",
"Aku masih berhak mendapat maaf dan kesempatan dari Gita!!", jawab Danar tak mau kalah
Dirga kembali tertawa sinis,
__ADS_1
"Kau memang pria tak tahu malu. Bukankah Gita sudah menolakmu?. Sebagai pria sejati, harusnya kau mundur dan merelakan Gita bahagia bersama pria yang dicintainya!!",
"Bedebah, dia itu mencintaiku!!", bentak Danar
"Ck, aku sungguh kasihan padamu. Jika aku jadi dirimu, aku tidak akan mengganggu wanita yang sudah memilih pria lain sebagai pendamping hidupnya. Ah iya, kenapa kau terus mengejar wanitaku?, bukankah kamu sudah memiliki wanita yang sangat kau cintai?. Kalau kau lupa, dialah wanita yang membuatmu berbuat jahat pada mantan istrimu. Dimana dia?. Apa kau sudah bosan dengannya?. Atau dia yang bosan padamu?",
Danar berdiri kemudian berjalan kearah Dirga dan mencengkram kerah baju calon suami Gita itu.
"Kau tidak punya urusan mengomentari hidupku. Sekarang katakan, dimana Gita berada??",
Dirga menghempas kasar tangan rivalnya lalu mengebaskan kerahnya seolah baru saja tersentuh kuman.
"Aku menyuruhnya perawatan. Besok dia akan menjadi istriku dan malam harinya kami akan menghabiskan malam bersama. Ah, aku sudah tak sabar untuk itu. Lalu kami akan memiliki anak yang banyak!!", jawab Dirga dengan santai
Danar akan meninju Dirga, tapi kalah cepat oleh Dirga. Justru Danar lah yang mendapat bogeman dari Dirga.
"Ini terakhir kalinya, Danar. Jika setelah menikah kau masih mengganggu calon istriku, ah bukan tapi istriku", Dirga sengaja menekankan kata istri agar Danar tahu jika sebentar lagi Gita akan menjadi miliknya. "Aku tidak akan tinggal diam jika kau berani mengusik kebahahiaan kami", Dirga membetulkan jasnya, "Sebaiknya kau pulang, aku yakin istri yang kau cintai itu pasti sedang menunggumu!!",
Dirga pergi setelah mengucapkan hal tersebut. Danar terlihat sangat marah, dia meninju tanah berkali-kali, bahkan dia tak menghiraukan tangannya yang berdarah.
*
*
*
__ADS_1
Danar sampai dirumah pukul 8 malam. Entah kemana perginya dia setelah bertemu dengan Dirga.
"Danar, kamu dari mana saja?. Astaga, ada apa dengan tanganmu?", tanya Anisa khawatir
Danar hanya menatap mamanya dengan sendu. Jika saja dulu ia menuruti semua perkataan mamanya, mungkin sekarang dirinya sudah bahagia dengan istri dan anaknya.
"Mas, kamu darimana?", tanya Tari yang baru turun dari tangga. Ia merasa jengah melihat Danar yang terus-menerus seperti ini. "Jangan bilang kamu habis menemui perempuan murahan itu!!",
"Tari, jaga ucapan kamu. Gita bukan perempuan murahan seperti yang kamu tuduhkan!", ucap Anisa, dia tentu tak terima mantan menantunya dicap seperti itu.
"Apa mama tidak lelah terus membelanya?. Sudah bagus dia pergi dari hidup mas Danar. Kenapa dia harus kembali sih, lihat mas Danar sekarang. Dia jadi berubah karena perempuan itu. Dia datang hanya untuk merebut perhatian mas Danar, apa coba namanya kalau bukan murahan!!",
"Tari!!. Jaga mulutmu. Gita bukan wanita murahan. Kenapa kamu selalu mengatakan hal itu!!. Apa kamu tidak sadar, siapa yang lebih pantas disebut murahan disini!!", bentak Danar
Tari dan Anisa terperangah, baru kali ini Danar terlihat sangat marah. Dan Tari lebih terkejut mendengar ucapan suaminya.
"Jadi sekarang kamu mau mengatakan kalau aku yang murahan??", tanya Tari tak terima
"Kamu lebih membela perempuan itu dibanding aku??. Atau jangan-jangan, kamu sekarang mencintai dia, iya??!",
Danar menatap istrinya dengan tajam,
"Aku memang mencintai Gita, dan kami akan bahagia jika aku tidak termakan omong kosongmu!!"
Deg
__ADS_1