
"Aku sudah menghubungi dokter kepercayaanku. Ayo kita periksakan kandunganmu!!", Tari terperanjat. Dia begitu terkejut melihat kedatangan mertuanya.
"Ma-mama. Ah, silahkan duduk ma!", ucapnya sok ramah
Anisa duduk disofa, dia menatap ruang tamu rumah putranya. Beberapa bungkus makanan ringan berserakan, juga ada gelas bekas jus tergeletak diatas meja. Sungguh tidak mencerminkan sikap yang baik.
"Tidak baik terlalu banyak mengkonsumsi makan ringan, makanan itu tidak sehat, apalagi kau sedang hamil!", tegur wanita paruh baya tersebut
"Em, aku hanya ingin ngemil ma. Perutku mual jika makan nasi!", alibinya
"Kau bisa makan buah atau cemilan yang lebih sehat. Jangan racuni calon cucuku dengan makanan seperti itu!!", omel Anisa, " Sekarang ganti bajumu, kita akan memeriksakan kandunganmu!", lanjutnya
Tari tampak panik,
"Ma ..., aku sudah mengatakan bukan, aku sudah menghubungi dokter Mayra!", tolak Tari
Anisa kembali memandang menantunya, dia mulai curiga dengan gelagat Tari.
"Kenapa kau terlihat takut dan gugup?. Apa kau menyembunyikan sesuatu?. Atau mungkin kau berbohong tentang kehamilanmu!", Tari menggeleng cepat
"Tidak ma ..., aku tidak mungkin berbohong untuk masalah seperti ini!. Em, sebenarnya aku sudah memeriksakan kandunganku!", Anisa mengangkat alisnya sebelah
"Bukankah kau bilang doktermu sedang keluar kota. Kenapa sekarang kau bilang sudah periksa?", Tari gelagapan
"Em, dokter Mayra kemarin sudah pulang. Dan aku sudah memeriksakan kandunganku!", ucap Tari sedikit gugup
"Kau pergi bersama Danar?", Tari menggeleng
Kecurigaan Anisa semakin kuat. Mulai dari gelagat Tari, kegugupannya juga alasannya yang tidak masuk akal.
"Aku ingin melihat hasil pemeriksaan calon cucuku!", Tari terlihat gusar.
"Aku akan mengambilnya, mama tunggu sebentar!", Tari berjalan menaiki tangga.
Saat Tari pergi ke kamarnya, Anisa langsung menghubungi seseorang. Perempuan itu menutup telponnya saat menantunya datang.
"Ini ma!", Tari menyerahkan bukti foto usg kepada mertuanya
Anisa menatap foto hitam putih tersebut, ada titik hitam ditengahnya, namun entah kenapa dia tidak merasakan getaran apa-apa. Jika memang foto yang dia pegang adalah cucunya. Seharusnya dia merasakan sesuatu. Tapi kenapa dia merasa biasa saja.
"Danar sudah melihatnya?", Tari mengangguk
"Mas Danar terlihat sangat senang. Dia semakin manis padaku!", ucap Tari tersenyum
Anisa mengembalikan foto itu pada menantunya.
"Aku akan pulang, jangan lupa jaga kondisi calon cucuku baik-baik. Perbanyak makan makanan sehat dan jangan lupa mengaji!", Anisa berlalu setelah mengatakan hal tersebut. Tari berdecak sebal,
"Untung aku lebih pintar, wanita tua itu pasti percaya padaku sekarang!", Tari bermonolog sendiri. Wanita itu kembali merebahkan diri disofa.
Untuk beberapa hari ini, Tari sengaja menikmati waktu luangnya sambil menunggu butiknya selesai direnovasi. Dan seminggu lagi butiknya sudah siap dibuka. Tentu Tari begitu bahagia, punya suami yang baik, kaya dan sangat mencintainya terutama royal. Apalagi yang perlu dia pikirkan. Dia termasuk wanita yang beruntung bukan?. Jadi tidak ada yang perlu dia pikirkan.
__ADS_1
****
Sementara Anisa tidak kembali ke kantornya. Dia akan menemui seseorang untuk memastikan sesuatu.
"Kita kerumah sakit Medika pak!", ucapnya pada sang supir
Mobil yang dikendari supirnya melaju menuju rumah sakit Medika. Anisa sudah menghubungi orang suruhannya untuk mengatur pertemuannya dengan dokter yang menangani kehamilan menantunya. Dia merasa janggal dengan sikap Tari dan merasa perlu menyelidikinya.
Kali ini, Anisa tidak mau mengalah pada keadaan. Dia akan memperjuangkan hak menantunya. Cukuplah dia yang mengalah dan mengalami nasib rumah tangga tragis dimasa lalu. Dia tidak ingin Danar dan Gita juga mengalaminya. Karena itu, dia harus menyadarkan Danar secara perlahan.
"Kita sudah sampai nyonya!", ucap sopirnya
Anisa turun dari mobil, lalu berjalan masuk menuju salah satu ruangan dokter kandungan.
"Dia sudah menunggu didalam nyonya!", ucap asistennya.
"Terima kasih, kau boleh kembali ke kantor!", Qinar mengangguk lalu pergi.
Anisa memasuki ruangan yang bertuliskan Mayra Rosalia
"Selamat siang nyonya!", sapanya ramah
"Selamat siang dokter!", Anisa duduk didepan dokter Mayra
"Seperti yang sudah asisten saya sampaikan. Saya ingin informasi mengenai menantu saya Mentari!", dokter Mayra nampak sedikit tegang
"Maaf nyonya, saya tidak bisa memberikan data pasien kepada sembarang orang!", ucap dokter Mayra
"Aku hanya ingin mengetahui kebenaran yang kalian sembunyikan. Tidak masalah jika anda tidak bersedia memberikan informasi. Tapi, anda tentu tidak mau kehilangan pekerjaan anda bukan?",
Deg
Dokter Mayra terlihat semakin gusar, bahkan tangannya sedikit gemetar.
"Saya tahu anda tidak pandai berbohong. Tapi alangkah baiknya jika anda tidak mengorbankan karir anda hanya demi keegoisan pribadi!", dokter Mayra terdiam
Flash Back On
"Aku ingin kau membantuku!", ucap Tari
"Apa yang kau inginkan dariku!", jawabnya
"Aku ingin kau memberikan keterangan palsu tentang kehamilanku!"
Mayra menatap Tari tak percaya, bagaimana mungkin dia akan melakukan hal itu.
"Aku tidak bisa melakukannya, kau cari dokter lain saja!", tolak Mayra
Tari tersenyum sinis,
"Baiklah kalau begitu, sepertinya kau lebih senang jika suamimu dipenjara!",
__ADS_1
Deg
Wajah Mayra memerah, bahkan terlihat pucat. Apa mungkin wanita ini tahu rahasianya.
"Apa maksudmu?", tanya Mayra resah
"Suamimu adalah pelaku tabrakan yang menyebabkan korbannya meninggal. Meskipun kalian sudah bertanggung jawab dan memberi santunan pada keluarga korban, tapi saat itu suamimu dalam kondisi mabuk. Jika aku melaporkannya pada polisi, dia akan dijerat dengan pasal kelalaian berkendara!", ucap Tari tersenyum menyeringai. Berbeda dengan Mayra yang terlihat semakin pucat,
"Pikirkan baik-baik. Permintaanku hanya hal kecil yang akan menyelamatkan keluargamu!".
Flash Back Off
"Baiklah, kalau anda tidak mau mengatakan apapun, saya permisi dulu!", Anisa berdiri dan akan meninggalkan ruangannya.
"Tunggu ....!",
Anisa tersenyum penuh arti.
****
Danar baru saja pulang dari kantor, dia memasuki rumah dan melihat Tari sudah menyambutnya diruang tamu.
"Sayang, aku kangen banget!", ucapnya bergelayut manja
Danar tersenyum, dia memeluk istrinya lalu mengecupnya dengan sayang.
"Yang kangen istriku, atau calon bayiku?", tanya Danar menoel hidung Tari
"Dua-duanya!", mereka berpelukan tanpa menghiraukan Gita yang mematung didepan pintu. Entah sudah berapa kali dirinya harus melihat kebahagiaan mereka dan tak terhitung pula rasa sakit yang dia rasakan, tapi apa mau dikata, dirinya hanya istri yang tidak diinginkan. Sampai kapanpun Danar tidak akan pernah mencintainya. Dan sebagai istri yang baik, ia hanya bisa mendoakan kebahagian suaminya.
Gita sadar dirinya siapa, dia hanya figuran yang tak pernah terlihat. Perempuan cantik itu berjalan pelan melewati mereka.
"Oh, kau sudah pulang Git?", tanya Tari
Gita hanya tersenyum lalu kembali berjalan masuk,
"Karena kamu sudah pulang. Tolong buatkan makan malam untuk kami. Anakku sedang ingin makan opor ayam dan rendang!",
"Jangan pernah memerintah menantuku!", ucapan Anisa membuat mereka terperangah.
Tari dan Danar membeku begitupun dengan Gita. Anisa berjalan mendekati mereka, lalu berdiri didepan menantu keduanya.
"Kau pikir kau siapa, seenaknya memerintah menantuku. Bukankah kau punya dua tangan untuk melakukan semuanya sendiri?. Jangan berlagak sebagai nyonya karena kau hanya menumpang disini!", sinis Anisa
Tari terlihat gemetar, dia mencengkram lengan suaminya
"Ma, kenapa mama membentak Tari?. Lagipula apa yang salah jika dia meminta Gita memasak makanan yang ingin dia makan. Gita sedang hamil, dan semua itu permintaan bayi kami. Aku rasa Gita juga tidak keberatan. Lihat ma, mama sudah membuatnya ketakutan dan itu tidak baik untuk kandungannya, untuk cucu mama!", bela Danar
"Kandungan palsunya, maksudmu?!"
Deg
__ADS_1