
Tari sudah menandatangani surat persetujuan agar suaminya bisa menikahi Anya secara sah. Setelah melalui beberapa tahapan pengajuan pernikahan ke pengadilan agama. Akhirnya pengadilan memutuskan memberikan ijin kepada Danar untuk menikah lagi karena semua pihak sudah menyetujuinya, khususnya istri pertama.
Tidak ada pesta mewah, bahkan pernikahannya dengan Anya terkesan tertutup. Hanya ada pihak keluarga, penghulu juga saksi yang menyaksikan pernikahan mereka. Tari sendiri memilih pergi dari rumah daripada harus menyaksikan pernikahan suaminya dengan madunya.
Anya memakai kebaya putih yang terlihat anggun dipakainya. Tanpa riasan dan hiasan berlebihan. Danar mengenakan jas yang senada dengan kebaya milik Anya. Mereka berkumpul diruang tamu untuk segera melangsungkan pernikahan.
"Saya terima nikah dan kawinnya Anya Rosalia binti Afandi Nugraha dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan seberat 25 gram dibayar tunai!."
"Bagaimana saksi?."
"SAH!!."
Anisa tersenyum lega begitupun dengan Danar. Walau cemas karena Tari tidak berada dirumah, ada perasan lega karena dengan pernikahan ini, Danar akan segera mendapatkan momongan.
Setelah penandatanganan buku nikah, Danar menyematkan cincin kawin dijari Anya. Perempuan itu mencium tangan suaminya tanpa menatap Danar.
"Selamat nak, kalian sudah resmi menjadi suami istri. Anya, kamu sudah menjadi menantu mama. Jangan sungkan jika kamu butuh sesuatu. Atau kamu bisa mengatakannya pada suamimu!", ucap Anisa, Anya hanya tersenyum. Perempuan itu seolah enggan untuk berbicara.
Acara berlangsung tidak terlalu lama, setelah penghulu pulang. Rumah kembali sepi seperti sebelumnya.
"Danar, antar Anya ke kamarnya. Dia pasti lelah!". Danar mengangguk, dia menuntun Anya menaiki tangga menuju kamar.
"Lepaskan!!", Anya menghentak tangan Danar dengan kasar setelah mereka memasuki kamar.
"Kenapa?", tanya Danar keheranan.
"Sudah cukup dramanya, tuan Danar. Tidak usah bersikap sok baik padaku. Kau pikir, aku senang bisa menikah denganmu? Hahaha, kau salah besar!!. Aku ... Sangat membencimu. Kalau bukan karena anak dalam kandunganku, aku tidak sudi menikah dengan pria b*engsek sepertimu. Kau sudah menghancurkan hidupku, menghancurkan masa depanku dan membuat hidupku menderita!!."
Danar terperangah, dia tidak mengira jika Anya menyimpan kebencian padanya begitu dalam.
__ADS_1
"Anya ... Maafkan aku. Sungguh aku tidak bermaksud menghancurkan hidupmu. Semua terjadi diluar kendaliku. Aku ...!"
"Kau tidak perlu memberikan alasan apapun. Satu hal yang pasti, kau pria paling jahat dan serakah yang pernah aku temui. Kau menyakiti hati banyak wanita hanya demi egomu sendiri. Kau pikir aku mau menghabiskan waktuku untuk hidup dengan pria sepertimu? Dengarkan ini baik-baik, setelah anak ini lahir dan mendapatkan identitas yang jelas. Kita akan bercerai!!.".
Deg
Jantung Danar seolah berhenti berdetak, ijab qobul baru ia ucapkan beberapa menit yang lalu dan sekarang istrinya sudah mengatakan kata cerai.
"Anya, apa yang kamu ucapkan? Kita baru saja menikah. Kau tahu? Pernikahan bukanlah permainan. Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak. Aku tidak suka!!."
Anya tersenyum sinis, "Jika kau tahu pernikahan bukanlah sebuah permainan, harusnya kau tidak mempermainkan pernikahanmu. Menikahi kekasihmu dengan dalil saling mencintai disaat kau berstatus sebagai seorang suami wanita lain. Cih, kau sungguh ba*ingan. Tanpa memikirkan perasaan istri pertama dan dengan bangga memamerkan kebahagiaan diatas luka wanita tak berdosa, kau pikir kau hebat? Kau sudah mempermainkan pernikahanmu sendiri, tuan Danar yang terhormat. Kau yang menghancurkan pernikahanmu sendiri. Lalu setelah mantan istrimu menemukan kebahagiaan lain dan kau muak dengan sikap posesif istri tercintamu, kau baru menyadari bahwa kau kehilangan dan melampiaskan semua kepadaku? Kau Triple ba*ingan!", Anya bertepuk tangan didepan wajah Danar.
Air muka Danar berubah menjadi sedikit pucat. Ternyata banyak kesalahan yang sudah dia lakukan tanpa dia sadari.
"A-aku tidak bermaksud melampiaskan semuanya padamu. Aku memang bersalah, aku aku akan berusaha menebusnya!."
"Dengan cara apa!!?", tanya Anya sinis.
Anya menatap Danar dengan tajam, "Entahlah dari hidupku!!."
*
*
*
"Wah - wah, lihat siapa yang ada disini?", sindir Tania.
Tari berdecak, dia kembali meminum alkohol yang ada ditangannya. Lalu menyesap rokok ditangan kirinya.
__ADS_1
"Kau menyerah? Hanya segini kemampuanmu? Tidak berguna!!."
"Jangan menghakimiku. Mama pikir, aku akan diam saja setelah ini? Tentu saja tidak. Aku memang kalah sekarang dan aku juga hancur dalam waktu yang bersamaan. Tapi jangan panggil aku Tari jika tidak bisa membalas orang - orang yang menyakitiku!!."
Tania tersenyum menyeringai, "Apa yang akan kamu lakukan sekarang?."
"Pertama, aku harus memberi Gita pelajaran. Dialah sumber masalah dari semua yang menimpaku. Harusnya sejak awal aku melenyapkannya. Dia sudah merebut hati Danar, dan membuat Danar mengabaikan aku. Mari kita bersenang-senang dengannya sebentar. Dia pasti senang menerima kejutan dariku!", Tari menyeringai tipis.
"Jangan khawatir, sayang. Mama akan selalu ada untuk mendukungmu. Tidak peduli siapa musuh kita. Yang jelas, kita akan membalas semua perbuatan jahat mereka!."
"Biarkan mereka bersenang - senang sekarang. Kita lihat, sampai mana mereka akan bahagia!!."
*
*
*
"Nona, ada paket untuk anda!", ucap bibi pada Gita.
"Dari siapa? Aku tidak pernah memesan paket!", Gita berjalan ke arah pembantunya. Menerima paket yang ditujukan untuknya dengan raut wajah penasaran dan heran.
Gita membawa masuk paket tersebut lalu membukanya diruang tamu. Raut wajahnya berubah pias, seketika bibir Gita mengatur dengan tangan gemetar.
"Nak, siapa yang berani mengirim barang seperti itu padamu?!."
*
*
__ADS_1
Kira-kira apa yang diterima Gita ya?