
"M-maksud dokter, istri saya hamil?", tanya Dirga yang langsung berdiri dari berbaringnya.
Ya Allah, benarkah aku akan menjadi ibu?. Aku sedang hamil, dan di rahimku sedang tumbuh anak kami. Semoga saja ini bukan hanya mimpi. Bathin Gita
"Saya menduganya seperti itu. kapan ibu Gita terakhir kali datang bulan?."
Gita nampak berfikir, dia baru ingat kalau dirinya bulan ini belum datang bulan. Terakhir ketika satu minggu setelah pulang dari bulan madu.
"Sepertinya satu bulan lebih dok!", jawab Gita dengan sedikit gugup juga bahagia.
"Jadi kamu benar hamil, sayang?", tanya Dirga. Pria iti langsung memeluk istrinya. "Terima kasih, sayang. Aku bahagia sekali!!."
Dirga mengecup kepala Gita berkali-kali bahkan dia melupakan keberadaan dokter Samuel.
"Sebaiknya kalian pergi ke dokter kandungan untuk memastikannya. Nanti, biar dokter yang meresepkan vitamin untuk ibu Gita!!."
"Baik dok!!."
"Kalau begitu, saya permisi!!."
Setelah dokter keluar dari kamar mereka, Dirga kembali memeluk istrinya. Tak lupa memberikan kecupan diseluruh wajah sang istri.
"Aku bahagia sekali, sayang. Terima kasih atas kado terindahmu!!", ucap Dirga dengan haru. Gita mengusap sudut mata suaminya, dia juga sama bahagianya seperti sang suami. Tapi mereka harus memastikannya dulu agar benar-benar pasti.
"Tapi kita harus memeriksakannya ke dokter kandungan, sayang. Kita harus memastikannya dulu!." Dirga mengangguk.
"Aku akan menemanimu kerumah sakit sekarang!", ucapnya bersemangat
Gita hanya mengangguk, ia juga bahagia jika benar dirinya hamil. Setelah berganti pakaian, mereka berdua berjalan menuruni tangga sambio bergandengan tangan.
"Kalian mau bekerja? Apa kata dokter Samuel?", tanya Januar
Dirga dan Gita tersenyum, "Kami mau kerumah sakit dulu untuk memastikannya, Pa!!."
"Apa sakitnya parah? Kenapa sampai kerumah sakit segala?", sahut Januar khawatir
Gita berjalan ke arah mertuanya kemudian berjongkok didepan kursi roda Januar. "Doakan saja, semoga cucu papa memang sudah hadir di rahimku!!."
Januar langsung menatap Dirga yang tersenyum padanya, "Papa doakan yang terbaik. Semoga cucu papa memang sudah tumbuh dirahimmu, Nak!!."
Gita mengangguk, dia bisa melihat jika Januar begitu terharu dengan kabar kehamilannya. Semoga saja dia benar-benar hamil dan tidak mengecewakan orang-orang yang dia sayangi.
"Kami berangkat dulu, Pa!."
"Ya, dan hati-hati dijalan!."
Mereka berjalan keluar. Dirga membukakan pintu mobil untuk istrinya, kemudian memutar dan duduk di kursi kemudi.
Sepanjang perjalanan, raut bahagia selalu terpancar dari wajah Dirga. Pria itu sungguh merasa bahagia karena sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.
"Kamu tersenyum sepanjang jalan, Mas!", celetuk Gita yang memang sedari tadi memperhatikan suaminya
"Itu karena aku teramat sangat bahagia sayang. Aku akan menjadi seorang ayah!", jawabnya dengan senyum
"Tapi ... Kalau aku ternyata belum hamil, bagaimana?", tanya Gita ragu
Dirga mengambil tangan istrinya kemudian mengecupnya pelan. "Artinya, kita harus bekerja lebih ekstra!!", jawab Dirga dengan nada nakal. Tapi dia yakin jika istrinya memang hamil.
Gita hanya tersenyum kaku, dalam hati dia terus berdoa agar semua dugaanya bukanlah harapan kosong belaka.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, mereka akhirnya tiba dirumah sakit. Dirga tampak antusias. Dia menyuruh Gita duduk manis sementara dirinya yang mendaftar. Setelah mendapat nomor antrian, keduanya duduk menunggu giliran dikursi pasien.
__ADS_1
Suasana tampak sedikit ramai, banyak pasangan lain yang juga datang dengan pasangan mereka masing-masing. Ada yang perutnya belum terlihat, ada puka yang sudah sebesar bola.
"Sayang, aku mau ke toilet sebentar!", ucap Gita
"Baiklah, ayo aku antar!."
"Kamu tunggu disini saja. Nantu siapa tahu kita dipanggil. Lagipula, aku cuma sebentar!!."
Akhirnya Dirga mengalah, dia tetap duduk dikursinya.
Gita berjalan menuju toilet wanita yang tidak jauh dari poli kandungan. Rasa yang sudah di ujung membuatnya terburu-buru masuk kedalam toilet.
"Ah, leganya!!."
Samar-samar Gita mendengar suara isak tangis. Wanita itu kembali menajamkan pendengarannya. Dan benar, suara itu berasal dari samping toiletnya. Setelah selesai mencuci tangan, Gita melangkah ke toilet yang dia yakini ada orang didalamnya.
"Hallo, kamu tidak apa-apa!!", tanya Gita sambil mengetuk pintu toilet. Tidak ada sahutan, Gita kembali mengetuk pintu tersebut hingga beberapa kali. Hingga beberapa saat pintu terbuka.
"A-anya!", pekik Gita. Dia menatap wajah karyawan suaminya itu. Mata Anya tampak begitu sembab dengan wajah yang pucat.
"B-bu, Gita!!", sahut Anya tergagap. Dia tidak menyangka akan bertemu istri dari bosnya disini.
"Kamu kenapa? Kenapa menangis disini?."
Anya menggeleng, "Saya tidak apa-apa, Bu!."
Gita menghela nafas, Anya memang orang yang tertutup dan jarang bicara. Dulu saat dia masih bekerja di kantor suaminya. Seringkali ia melihat Anya menyendiri.
"Kamu sakit? Atau butuh sesuatu?."
Anya kembali menggeleng, "Saya baik-baik saja, Bu. Kalau begitu, saya duluan!."
Gita menatap kepergian Anya dengan heran. Apa benar wanita itu baik-baik saja, tapi dilihat dari penampilannya tentu dia tidak baik-baik saja.
"Enggak kok. Aku tadi ketemu karyawan kamu. Dia lagi nangis di dalam toilet!", terang Gita
"Siapa?", tanya Dirga penasaran
"Anya!."
"Anya si kuper?", tanya Dirga memastikan
"Iya, Anya siapa lagi?. Kan dikantor kamu yang namanya Anya cuma dia saja!."
Dirga hanya ber'oh ria. "Dia sakit apa ya yank. Sampai nangis di toilet!," tanya Gita pada suaminya
"Hamil kali!", jawab Dirga asal
"Hus, jangan sembarangan ngomong. Aku tahu kalau Anya gadis yang baik!."
"Ya sudahlah, jangan mikirin orang lain. Yang penting fokus sama kamu!."
Gita akhirnya diam, benar juga kata suaminya. Lagipula, dia tidak punya urusan dengan masalah Anya.
"Ibu Gita!."
"Saya sus!."
Semua pasien lain tersenyum melihat Dirga yang menjawab panggilan suster dengan antusias. Yang dipanggil nama Gita, kenapa dia yang menjawab.
"Silahkan masuk."
__ADS_1
Dirga menggandeng tangan Gita memasuki ruangan dokter.
"Ada yang bisa saya bantu?", tanya dokter
"Saya ingin memeriksakan kehamilan istri saya!", sahut Dirga antusias
"Em, maksud suami saya. Kami ingin memeriksakan dugaan kehamilan saya dok!", jelas Gita
"Sama aja, yank!", celetuk Dirga
Dokter tersenyum melihat tingkah pasangan didepannya ini.
"Ibu Gita silahkan berbaring!."
Gita melakukan seperti yang dokter perintahkan. Setelah berbaring, dokter memberikan gel diperutnya kemudian menggerakkan alat transduser di pertu Gita.
"Kalian lihat titik hitam ditengah?", Gita dan Dirga mengangguk. "Itu bayi kalian, usianya baru enam lima minggu!!."
Gita dan Dirga saling pandang, "Jadi saya benar-benar hamil, dok?",
"Benar bu. Anda memang hamil!."
Gita tak mampu menutupi kebahagiaannya begitupun dengan Dirga. Pria itu masih menatap layar monitor yang menampilkan titik hitam dimana itu adalah bayinya.
"Aku beneran hamil, sayang!!",
"Iya. Terima kasih, sayang. Aku bahagia sekali!."
Dirga memeluk istrinya kemudian membantu Gita turun dari ranjang. Lalu duduk didepan dokter.
"Apa ibu Gita ada keluhan selama ini?."
"Tidak ada dok. Tapi suami saya yang mengalami mual dan muntah!", jelas Gita
"Oh, berarti bayinya adil. Mamanya yang hamil, papanya yang merasakan gejala kehamilan!", ucap dokter tersenyum. "Apa yang terjadi pada bapak Dirga itu namanya kehamilan simpatik. Dimana suami yang mengalami semua gejala kehamilannya. Kehamilan diawal agak rentan. Ibu tidak boleh bekerja terlalu berat dan banyak pikirian karena bisa menggangu perkembangan janin!", terang dokter
"Kalau makanan, apa ada yang tidak boleh dimakan selama hamil, dok?."
"Semua boleh dimakan, Pak. Tidak ada pantangan apapun. Perbanyak makan makanan berguzi sepeti buah dan sayur. Ditambah susu kehamilan juga lebih bagus!", Dirga dan Gita mengangguk paham.
"Saya akan meresepkan vitamin untuk ibu Gita. Bisa ditebus di apotik rumah sakit!",
Pasangan itu keluar dengan wajah sumringah.
"Awhk!", pekik seseorang karena tak sengaja ditabrak oleh Dirga
"Kalau jalan pakai mata!!", teriaknya
"Maa ... !", ucapan Dirga terhenti saat melihat siapa yang tak sengaja dia tabrak.
"Ck, aku tarik lagi perkataan maafku!!", ucap Dirga dingin. Dia menatap Tari dan Danar dengan tatapan dingin. Sedangkan Danar menatap Gita dengan tatapan rindu. Tentu Dirga tidak suka melihatnya.
"Ayo sayang. Kita harus menebus vitaminmu!", ucap Dirga menarik tangan istrinya pergi dari sama sana.
"Senang bisa melihat mantan tercintamu!", ucap Tari sengit
"Jangan mulai. Aku sedang tidak ingin berdebat!", Danar masuk lebih dulu keruangan dokter. Tanpa mereka sadari sepasang mata tengah menatap mereka dengan tatapan kebencian.
"Pria ba*ingan. Gara-gara kamu hidupku hancur. Aku tidak akan pernah memaafkanmu!!."
**
__ADS_1
**
Kira-kira siapa ya?