Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja

Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja
Bisanya Apa?


__ADS_3

"Iya. Sekarang, ayo kita bersiap. Mama meminta kita tinggal dirumahnya dan aku sudah menyetujui hal ini!",


Deg


Apa lagi ini?. Danar paham betul bagaimana sifat mamanya. Tidak mungkin Anisa merestui mereka begitu saja setelah kehilangan menantu kesayangannya. Danar curiga, mamanya pasti merencanakan sesuatu.


"Kamu yakin akan tinggal dirumah mama?", tanya Danar memastikan


"Tentu saja Mas. Tidak ada alasan lagi untuk aku menolaknya. Ini kesempatan emas bagiku, aku harus membuktikan pada mamamu, bahwa hanya aku yang pantas menjadi istrimu!", ucap Tari bersemangat.


Danar menghela nafas. Jika sudah begini, dirinya tak tega menolak permintaan Tari. Dia hanya bisa berdoa semoga mamanya tidak merencanakan sesuatu yang buruk pada sang istri.


Jam 7 malam mereka berangkat kerumah Anisa. Wajah Tari masih terlihat berseri. Perempuan itu tak henti-henti tersenyum. Sementara Danar, dia justru merasa cemas. Ia hanya takut mamanya akan melakukan hal yang membuat Tari kembali sakit hati.


"Aku tanya sekali lagi, kamu yakin dengan keputusanmu untuk tinggal bersama mama?", pertanyaan Danar membuat Tari menghentikan senyumnya. Perempuan itu kini memasang wajah masam.


"Kamu nggak mau aku dekat dengan mama kamu?", tuduhnya pada sang suami.


"Bukan itu maksudku. Aku hanya takut kamu kecewa, nanti!",


"Ck, apa semua ini gara-gara Gita?. Kamu nggak mau aku dekat sama mama kamu karena kamu masih mengharapkan Gita kembali?",


Danar menghela nafas kasar, dia mengacak rambutnya frustasi. Tari sungguh keras kepala.


"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi. Kita akan tinggal dirumah mama seperti kemauanmu!", putus Danar.


Selama perjalanan, keduanya memilih diam. Tari masih sebal pada suaminya, sedangkan Danar sendiri diam-diam masih memikirkan Gita. Dimana mantan istrinya itu berada?. Apa dia baik-baik saja?.


Jarak yang tidak terlalu jauh, hanya mereka tempuh dalam waktu 30 menit. Anisa terlihat menunggu kedatangan mereka di teras rumah. Keduanya turun dari mobil kemudian menghampiri Anisa yang tersenyum pada anak dan menantunya.


"Kalian sudah datang?", tanyanya ramah. Tari tersenyum membalas senyuman mertuanya.


"Iya Ma. Maaf membuat mama menunggu lama, tadi kami masih mengepak barang-barang!", jawab Tari


"Tidak masalah, sebaiknya kita masuk dulu ke dalam!", Tari dan Danar mengikuti Anisa masuk kedalam rumah. Hingga wanita itu berhenti diruang tamu.


"Kamar kalian sudah mama siapkan. Kita makan malam dulu setelah ini. Danar, taruh dulu barang-barang kalian dikamar!", perintah Anisa pada putranya


"Baik Ma!", Danar langsung membawa koper miliknya juga milik Tari ke dalam kamar.

__ADS_1


"Kita tunggu Danar diruang makan saja!", ajak Anisa


"Iya Ma!",


Tari kembali mengekori mertuanya, mereka berjalan ke ruang makan. Dia mengira, di meja makan sudah terhidang makanan yang siap mereka makan. Nyatanya belum ada apa-apa. Hal itu membuat Tari menatap mertuanya heran,


"Apa bibi belum masak, Ma?", tanya Tari kebingungan


"Bibi sedang sakit!", jawab Anisa dengan santai


"Terus, makan malam kita bagaimana?", tanyanya kemudian.


"Kamu tidak kebertaan kan, kalau mama minta kamu yang masak?",


Wajah Tari mendadak pucat. Masak?. Seumur hidup dia tidak pernah memasak. Jangankan memasak makanan, masak air saja tidak pernah. Sekarang dia harus bagaimana?. Mau menolakpun, Tari gengsi. Harusnya dia mengatakan jika dirinya tidak bisa memasak?.


"Ma ... Sebenarnya a-aku!",


"Ga apa-apa, masak yang simpel aja. Mama ke kamar sebentar ya. Kamu masak aja, semua bahan ada di kulkas!", potong Anisa cepat kemudian meninggalkan Tari begitu saja.


Perempuan itu masih mematung, dia bingung harus bagaimana. Akhirnya setelah berfikir keras, Tari membuka ponselnya dan mencari tutorial memasak. Dia memilih nasi goreng karena bahan dan cara memasaknya yang gampang.


Setelah menyiapkan bahan seperti di tutorial video yang dia lihat. Tari mulai memasak,


"Ini mah gampang!", ucapnya tersenyum


"Oke, masukkan garam!",


Namun perempuan itu bingung antara garam dan gula. Akhirnya Tari memilih sesuai keyakinannya.


"Wah, tampilannya lumayan. Pasti rasanya juga lumayan!", ucapnya bangga


Setelah nasi goreng siap, tak lupa Tari membuat telur ceplok. Walau sedikit gosong, tapi Tari cukup berbangga diri. Setidaknya ini tidak terlalu buruk untuk dirinya yang pemula.


Wanita seksi itu berjalan menuju kamarnya. Ia melihat sang suami baru saja selesai mandi. Wajahnya yang masih sedikit basah membuat Danar terlihat begitu tampan. Sungguh beruntung ia bisa menjadi istrinya.


"Mas!!", ucapnya manja


Danar menatapnya lalu tersenyum

__ADS_1


"Kita kebawah yuk, aku sudah masak makan malam buat kita!",


Mata Danar membulat, apa dia tidak salah dengar. Tari memasak?. Bukan tergiur, Danar justru menelan salivanya kasar. Pasti sebentar lagi akan terjadi Perang Memar (Menantu-Mertua).


"Ayo Mas, kamu harus cicipi masakan perdana aku!", Tari menggandeng lengan suaminya keluar kamar. Mereka menuruni tangga dan berpapasan dengan Anisa.


"Kebetulan Mama ada disini. Ayo Ma, kita makan sekarang!", ajak Tari


Mereka bertiga berjalan keruang makan, mata Danar mendelik melihat menu yang tersaji di atas meja. Nasi goreng tanpa warna, alias pucat juga tak lupa telur ceplok gosong dibagian pinggirnya.


"Kamu yakin, ini bisa dimakan?", tanya Anisa ragu


"B-bisa kok Ma!", jawab Tari gugup


Anisa, Danar dan Tari duduk dikursi masing-masing, kemudian mulai menyantap masakan yang Tari buat.


Bruhh


Ibu dan anak itu kompak menyembur nasi goreng buatan Tari.


"K-kenapa?", tanyanya panik


"Tadi kamu sudah cicipi ini belum?", kali ini pertanyaan itu dari suaminya. Tari menggeleng pelan membuat Danar menghela nafas. Ia menatap mamanya yang diam-diam tersenyum mengejek ke arahnya. Sudah Danar duga, inilah alasan Anisa mengajak mereka tinggal bersama.


"Jadi kamu ga bisa masak?", pertanyaan Anisa membuat Tari menatapnya kemudian menunduk,


"Huh, jadi selama ini kamu ga bisa masak?. Terus apa dong yang selalu anak saya makan?. Pantas saja putra saya semakin kurus. Kamu itu gimana sih, jadi perempuan masak saja ga bisa. Terus kamu bisanya apa?", tanya Anisa menyelidik


Hati Tari mulai dongkol, sekarang kan jaman serba instan. Tinggal pencet ponsel saja, makanan akan datang. Kenapa harus repot masak segala?. Belum lagi kalau kena cipratan minyak juga bau dapur. Uh, sungguh mengjijikkan.


"Perempuan itu harus tahu semua hal. Masak, nyapu, ngepel, cuci baju, cuci piring. Jangan cuma tahu ngangkang saja. Mulai besok, mama akan mengajari kamu semua hal itu!",


Glek


****


Yang udah terlanjur baca tadi, aku harap kalian baca ulang ya. Soalnya belum selesai ngetik udah ke upload. Jadinya bab nya ngambang.


Maaf ya, kalo udah ngantuk. Fokus buyar

__ADS_1


__ADS_2