Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja

Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja
Diatas Angin


__ADS_3

Setelah tidak berhasil mendapat restu dari mertuanya. Terpaksa Tari mengajak Danar pulang. Bahkan dengan berpura-pura hamil tak membuat Anisa luluh. Perempuan seksi itu segera mencari cara untuk meyakinkan mertuanya.


"Maaf, mama masih belum merestui pernikahan kita. Tapi kamu tidak usah khawatir. Aku tidak akan menyerah untuk membujuknya!", kata Danar


Tari tersenyum, kemudian wajahnya berubah sendu


"Sayang, aku masih bisa bersabar jika mamamu belum merestui kita. Bahkan meski aku sudah hamil anakmu pun, mama belum merestui kita, aku masih bisa sabar. Aku hanya kecewa, mamamu menerima cucunya tapi tidak menerima menantunya, miris sekali nasibku bukan?!", ucap Tari sendu, dia berusaha menahan air matanya.


"Apa yang salah denganku?. Apa kurangnya aku. Kenapa mama menomorsatukan Gita yang jelas-jelas tidak kamu inginkan. Aku iri mas, aku iri. Aku yang kamu cintai, tapi mama lebih menyayangi dia. Aku bukan mau menuduh, tapi bisa saja semua ini karena Gita. Bukankah tadi pagi dia berbicara tentang iri, mungkin dia iri padaku karena kamu hanya mencintaiku. Jadi dia mengadu pada mama!", ujar Tari mendrama


Danar nampak berfikir,


"Dia begitu pandai memikat hati orang. Mamamu sudah lebih dulu mengenalnya, tentu mamamu lebih memilih dia. Dan jangan lupakan, kamu juga mulai terpikat olehnya. Buktinya, kamu juga makan berdua dengannya, bahkan terlihat sangat nyaman dilayani oleh perempuan itu!",


"Maaf untuk makan malam itu sayang. Gita memasak untukku, dan sayang jika makanannya tidak dimakan. Hanya sebatas itu, tidak ada yang terjadi diantara kami. Aku bisa pastikan hal itu!", jelas Danar


Tari tersenyum saat Danar terlihat menyesal,


"Sudahlah, mungkin mama akan merestui kita setelah bayi ini lahir!", lagi-lagi Tari berdrama


"Aku akan terus membujuk mama. Dan masalah Gita, aku akan memberinya peringatan!!", ucap Danar sinis


Tari bersorak menang karena berhasil membuat suaminya kembali membenci istri pertamanya. Dan akan Tari pastikan, jika Danar tidak akan pernah jatuh hati pada Gita.


****


"Kenapa kau selalu terlihat banyak pikiran?", Dirga mengagetkan Gita, entah kapan pria itu datang. Yang jelas dia sudah berdiri didepan mejanya.


"Kenapa anda senang sekali mengagetkan saya pak!!", Tanya Gita, "Ada yang bisa saya bantu?", tanyanya lagi


"Maaf mengegetkanmu. Kau melamun, dan aku takut kau malah akan kesurupan jika tidak segera disadarkan!!", Dirga terkekeh melihat Gita mencebikkan bibirnya, "Apa jadwalku hari ini??", kali ini Dirga bertanya dengan serius


"Pukul 8 ada pertemuan dengan tuan Michel untuk membahas kelanjutan desain hotel Royal yang baru. Pukul 11 anda akan meninjau Royal Mall pusat. Pukul 14 ada penandatanganan kerja sama dengan Antariksa company!!", jelas Gita


"Untuk besok??",


"Besok hanya ada meeting dengan para investor pukul 10 pagi. Selebihnya tidak ada pak!", lanjut Gita


"Baiklah, besok setelah makan siang, temani aku ke suatu tempat!!", kata Dirga


Gita hanya mengangguk mengiyakan.


****


Anisa menatap jendela ruang kerjanya. Pikirannya kembali berkelana ke masa 13 tahun yang lalu. Masa dimana dirinya berada di titik paling rendah dalam hidupnya. Masa dimana dia harus bekerja keras menghidupi putra semata wayangnya seorang diri. Tidak ada sosok suami, tidak ada sosok ayah yang menemani mereka.


"Haruskah aku membuka hati?. Padahal luka lama itu masih terasa meski sudah 13 tahun berlalu. Kenapa kau mewariskan sikap burukmu pada putra kita?. Tidak cukupkah perlakuanmu dulu padaku?. Kenapa sekarang Danar juga membuatku kecewa sepertimu!!", gumam Anisa sendiri


Cinta memang bisa membutakan seseorang, dan dia harus kembali merasakan sakit itu. Dulu suaminya, sekarang putranya. Jika dulu Anisa menyerah dan lebih memilih mundur, tidak dengan kali ini. Sekarang dia bukan wanita polos dan lemah lagi, Anisa yang sekarang adalah wanita tangguh juga tegar. Dia sudah pernah terombang-ambing oleh pahitnya hidup, dan menyerah kali ini sama saja membunuh harga dirinya. Tidak, apapun yang terjadi, Anisa akan mempertahankan pernikahan Danar dan Gita.


Apalagi Anisa sedikit curiga dengan kehamilan Tari. Wanita itu terlihat tidak seperti wanita hamil pada umumnya. Bisa saja perempuan itu berpura-pura hanya untuk menarik simpatinya bukan?.


"Aku harus menyelidiki hal ini. Kalau wanita itu memang berbohong, akan kubuat Tari sendiri yang mengakui kebohongannya!", ucap Anisa


****


Gita baru pulang dari kantor. Hari ini cukup melelahkan karena Dirga meminta menemaninya bertemu para klien.

__ADS_1


"Bagus, kali ini apa lagi yang kau katakan pada mama hingga dia meragukan kehamilan Tari?", tanya Danar bersedekap dada. Pria itu sengaja menunggu kedatangan Gita diruang tamu


"Aku tidak mengadu apapun pada mama!!", jawab Gita pelan


"BOHONG, KALAU KAU TIDAK MENGADU APA-APA, TIDAK MUNGKIN MAMA MERAGUKAN ANAK DALAM KANDUNGAN TARI!!", teriak Danar


Tari hanya menonton pertunjukan seru ini dari lantai dua. Menurutnya begitu seru melihat suaminya memarahi bahkan menyakiti rivalnya itu.


"Kau iri karena Tari mengandung anakku, jadi kau kembali menghasut mama supaya kau juga bisa mengandung anakku?. Huh, bahkan dalam mimpimupun, aku tak sudi memiliki anak darimu!", ucap Danar dingin


Gita memandang Danar sendu, baru kemarin pria itu bersikap hangat padanya. Tapi dalam sekejab, Danar kembali berubah dingin padanya. Bahkan kembali menyakiti dirinya dengan kata-kata pedasnya.


"Kenapa hanya diam. Kau mau mengakui, kalau semua yang aku katakan memang benar?", lanjut Danar


"Terserah apapun yang kau ucapkan. Yang jelas, semua tuduhanmu tidak benar!!", jawab Gita tak kalah dingin.


"Kenapa aku harus mengenal perempuan munafik sepertimu. Aku sudah salah karena menuruti mama menikahi wanita sepertimu. Apa yang sebenarnya kau inginkan?, hartaku??", Gita menggeleng keras,


"Kau sadar dengan apa yang kau katakan mas?. Jika aku menginginkan hartamu, aku bisa saja meracunimu lalu mengalihkan semua hartamu atas namaku. Tapi apa yang aku lakukan?, aku bahkan diam saja ketika kau tidak menafkahiku. Aku bekerja untuk menghidupi diriku sendiri. Bukankah miris, ketika aku mempunyai suami kaya raya tapi tidak bersikap adil!!", lirih Gita


"Aku sudah memberimu upah ....!",


"UPAH ITU BUKAN NAFKAH!!!, Bukankah kamu tahu jika suami wajib menafkahi istrinya?. Aku selalu menjalankan tugasku, tapi kamu melalaikan tanggung jawabmu. Kamu berlaku tidak adil, kamu berdosa mas. Kamu berdosa!!", teriak Gita


Wanita itu melampiaskan kekecewaannya pada sang suami. Danar memberinya dua juta sebulan, itupun untuk memenuhi kebutuhan dapur. Sedangkan untuk Tari, milyaran pun dengan mudah Danar memberikannya.


"Sayang, tiba-tiba aku ingin makan sate di ujung komplek ini!", ucap Tari yang baru saja turun ke bawah karena melihat Danar mulai terpojokkan


"Baiklah, aku akan segera membelikannya!", jawab Danar lembut.


"Suruh Gita yang beli!", langkah Gita terhenti saat mendengar permintaan madunya. Apa Tari sedang menyuruhnya?.


"Kau dengar kan?, belikan sate di ujung komplek ini!", perintah Danar


"Aku lelah, beli saja sendiri!" tolak Gita


"Tapi anakku ingin bibinya yang membelinya. Kau mau kan?", Gita menghela nafas, tanpa menatap dua manusia dihadapannya, dia segera keluar rumah untuk membeli sate permintaan Tari.


Gita berbesar hati menuruti keinginan madunya yang sedang ngidam. Wanita itu berjalan melewati beberapa rumah hingga akhirnya sampai di tempat sate itu dijual.


"Bang, satenya satu porsi. Dibungkus ya!!",


"Mau yang kambing apa ayam mbak??", tanya si pedagang


"Em, dua-duanya saja. bumbunya dipisah ya bang!!", pinta Gita


"Ok mbak, silahkan duduk sebentar!!",


Beruntung sedang tidak ramai, jadi Gita bisa cepat pulang setelah mendapatkan pesanan madunya. Perempuan itu kembali berjalan sambil menenteng kresek berisi sate ayam dan kambing.


Gita memasuki rumah, dia dibuat menganga dengan kondisi ruang tamu yang berantakan. Bantal sofa berjatuhan, juga banyak bungkus snack berceceran disana.


"Tolong bersihkan ruang tamunya ya!", ucap Tari enteng membuat Gita kembali menghela nafas


"Apa kau sengaja melalukannya??", tanya Gita datar


Tari tersenyum lalu mendekat ke arahnya

__ADS_1


"Tentu saja, kau harus sadar posisimu dirumah ini tak lebih dari seorang pembantu. Mas Danar hanya mencintaiku. Dan sekarang, aku sedang mengandung buah hatinya. Kau lihat kan?, betapa dia menyayangi aku dan calon bayiku!", ucap Tari bangga. Dia merasa berada di atas angin karena menjadi ratu satu-satunya dihati Danar.


"Oh ya, satenya untukmu saja, aku sudah tidak ingin!!", Tari melenggang pergi tanpa menghiraukan tatapan Gita yang tengah menahan amarah.


Gita masuk kedalam kamarnya lalu membersihkan diri. Dia mengguyur tubuhnya dengan air shower. Gita berusaha meredam emosinya, dia lagi-lagi menghela nafas dalam. Sikap Tari semakin menjadi-jadi semenjak hamil.


Jangan mengeluh Git, semua akan segera berlalu. Bathinnya menyemangati dirinya sendiri


****


Pagi ini Gita sengaja bangun dan berangkat lebih awal. Tari bisa saja meminta ini itu yang akan memperlambatnya berangkat ke kantor. Lagipula ada Danar yang akan siap siaga 24 jam memenuhi apapun yang Tari inginkan.


"Pagi mbak Gita, tumben pagi sekali?", sapa satpam kantornya


"Pagi pak Agus. Ya, saya sepertinya terlalu bersemangat hingga tidak tahu jika ini masih pagi!!", jawab Gita tersenyum. Perempuan cantik itu segera melangkahkan kakinya menuju lantai 10, dimana ruangannya berada.


Lampu kerja Dirga masih menyala, apa mungkin pria itu tidak pulang semalam?. Gita mengintip dibalik celah pintu. Dirga terlihat bersandar dikursinya dengan mata terpejam. Wajahnya begitu damai didalam lelapnya.


Tiba-tiba pria itu membuka mata, dan tatapan mereka bertemu beberapa saat. Gita segera kembali ke mejanya saat Dirga melihatnya. Dirga yang mengetahui Gita mengintipnya, segera bangkit dan menghampiri sekertaris cantiknya.


"Diam-diam kau suka mengintipku ya?", goda Dirga, pria itu tersenyum manis didepannya


"Ti-tidak pak. Sa-ya, tadi ....!",


"Hahah, kenapa kau begitu panik. Aku hanya bercanda!!", Dirga kembali tersenyum manis.


"Meeting dengan para investor sudah dilakukan tadi malam. Jadi seperti perkataanku kemarin, hari ini temani aku ke suatu tempat!!", ucapnya sambil memasukkan tangannya kedalam saku celana.


"Sekarang pak??", tanya Gita dengan polos


"Apa perkataanku kurang jelas?", tanya balik Dirga


"Ah tidak!!", Gita segera mengambil tasnya lalu mengikuti sang CEO


Mereka berjalan beriringan melewati beberapa karyawan yang baru datang. Pesona Dirga memang sangat kuat, selain tampan- pria itu juga terlihat sangat berkharisma. Tentu saja banyak para karyawan yang mengidolakannya khususnya kamu wanita.


"Pak Dirga tampan sekali!!",


"Duh, calon suamiku tampannya ey!!",


Begitulah ocehan para karyawan wanita saat melihat Dirga. Namun pria itu hanya cuek dan tak pernah menanggapinya.


"Fans anda banyak juga ya pak!!", ujar Tari


Dirga hanya melirik lalu mengedikkan bahu. Mereka langsung masuk ke mobil Dirga yang memang sudah ada di depan lobi. Pria tampan itu menghidupkan mesin dan menjalankan mobilnya.


Seperti biasa, perjalanan mereka diiringu keheningan. Gita menatap jalanan yang entah kemana arahnya, dia sendiri kurang tahu. Yang jelas, banyak pohon besar disisi kiri dan kanan jalan. Sudah setengah jam lebih, tapi mereka belum juga sampai. Mau bertanyapun, Gita enggan. Dia memilih diam sesekali melihat ponselnya. Dan karena asyik melihat ponselnya, Gita tidak menyadari jika mereka sudah tiba di tujuan.


"Ayo turun, kita sudah sampai!!", Gita menatap bosnya, melihat sekeliling dan benar. Kini mereka berada didepan teras sebuah rumah yang besar. Desainnya agak kuno, namun terlihat mewah.


Gita turun dari mobil lalu mengikuti bosnya masuk kedalam rumah. Rumah tersebut begitu besar juga megah. Gita masih mengekori Dirga yang sepertinya menuju ke arah belakang rumah. Benar saja, disana ada taman yang terlihat begitu indah dan seorang pria sedang duduk di kursi roda.


"Pagi pa!",


****


Selamat subuh semua. Jangan lupa like dan komennya ya... ramaikan ceritanya yuk.

__ADS_1


__ADS_2