
"Dia istri kedua mas Danar!", potong Gita
"WHAT!!", teriak Ana kaget
Gita menatap Ana kesal, pasalnya semua orang kini menatap ke arah mereka.
"Bisa ga sih An, kamu pelanin suaramu!", pinta Gita
"Maaf, aku hanya kaget Git. Jadi ....!!",
"Dia maduku, kekasih mas Danar sejak kuliah dan wanita yang dicintai mas Danar!", jelas Gita
Ana menatap sahabatnya sendu. Ia ingat betapa bahagianya Gita saat akan menikah dengan Danar. Ana juga tahu jika Gita memang menyukai Danar sejak SMA. Tapi kenapa Danar tega menduakan Gita?, yang Ana tidak habis pikir. Jika memang Danar tidak mencintai sahabatnya, kenapa dia mau menikahinya.
"Jangan menatapku seperti itu. Aku lebih kuat dari yang kau kira!!", ucap Gita santai
"Kenapa kamu tidak pernah menceritakan hal ini padaku?. Kamu sudah tidak menganggapku sahabat lagi?", tanya Ana
Gita menghela nafas
"Maafkan aku An, ini aib rumah tanggaku. Aku istri yang tidak dicintai suamiku bahkan mas Danar membawa madunya untuk tinggal bersama kami. Orang-orang akan menganggap perbuatan mas Danar adalah hal yang buruk. Sebagai seorang istri, dan aku harus menjaga nama baiknya!", jelasnya
"Tapi tetap saja Git, aku sahabatmu. Kita bersahabat sejak SMP. Dan masalah seberat ini kau tanggung sendiri?. Kau sungguh keterlaluan!!", ucap Ana kesal
"Maaf, aku hanya tidak mau merepotkan siapapun!!", ucap Gita pelan
"Termasuk aku??", ucap Ana merajuk
"Baiklah, lain kali aku akan menceritakan semuanya padamu!", putus Gita
Ana kembali memandang sahabatnya, dibalik kekesalan hatinya. Dia juga merasa iba dengan nasib Gita.
"Kali ini aku memaafkanmu!", Gita tersenyum mendengar ucapan sahabatnya
"Em, apa kamu ....?",
"Belum!", jawab Gita yang mengerti maksud pertanyaan Ana
"Astaga Git, kamu menikah hampir setengah tahun dan masih virgin, Danar gila!", Ana terlihat menahan kesal, " Cari pria lain!", ujarnya memerintah
"An, pernikahan adalah hal yang sakral. Kau tahu bukan, aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup!!", tegas Gita
"Dengan bersabar menjadi wanita bodoh yang membiarkan suaminya menikah lagi, begitu?!", tanya Ana sebal
Gita kembali menghela nafas,
"Ini hanya masalah waktu, aku yakin suatu saat mas Danar juga akan mencintaiku!",
"Kalau itu tidak terjadi??", alis Ana terangkat
"Aku akan menyerah jika sudah tidak mampu menahan semuanya!!",
Jujur Ana kesal pada sahabatnya. Bukan hanya tidak bercerita tentang poligami Danar. Tapi karena Gita juga keras kepala.
"Ayo kita kembali, waktu makan siang tinggal lima belas menit lagi!", ajak Gita
Mereka berdua berjalan menuju ruangan masing-masing. Keduanya saling diam, dan Gita tahu jika sahabatnya tengah kesal.
__ADS_1
"Hei, jangan marah. Bagaimana kalau aku akan mentraktirmu popcorn!!", ucap Gita sambil merangkul bahu sahabatnya.
Ana memutar mata malas
"Aku sudah tidak suka popcorn!!", jawab Ana kesal
"Baiklah, bagaimana kalau Andre?!!", Gita menaik turunkan alisnya
"Git ... jangan macam-macam!!", ancam Ana. Gita tertawa, dia tahu jika Ana menyukai Andre, teman satu divisinya.
"Tapi jangan marah lagi!!", pintanya
"Baiklah-baiklah!", jawab Ana pasrah
****
"Aku suka tempatnya mas. Ini bagus sekali!", ucap Tari senang. Saat ini mereka sedang melihat tempat untuk butiknya.
"Tempat ini sudah siap dipakai. Kau tinggal mengatur seperti apa yang kau inginkan!!",
Tari memeluk suaminya, tak lupa satu kecupan ia berikan di bibir Danar.
"Kau memang suami yang luar biasa. Terima kasih banyak!", ucapnya senang
Danar tersenyum, ia juga senang kalau istrinya senang.
"Aku akan segera menemui temanku di Perancis. Dia yang akan mengatur desain butiknya!!", gumam Tari
"Kau akan ke Perancis?, kenapa tidak memberitahuku??", Tari langsung menatap suaminya. Ia lupa mengatakan hal ini
"Kenapa tidak dia yang datang kemari?, kenapa kamu harus kesana?", ucap Danar kesal
"Mas maaf, aku lupa mengatakan ini. Em, dia arsitek yang sibuk mas. Jadi tidak punya waktu untuk kemari, karena itulah aku yang harus kesana. Lagipula, butik ini adalah impianku sejak dulu. Dan aku ingin butik ini menjadi butik yang terbaik. Kamu mengijinkanku pergi kan??", bujuk Tari
"Kau bisa meminta desainnya lewat email?", ujar Danar
"Mas, mengertilah. Aku hanya pergi beberapa hari. Aku butuh penjelasan setiap detail ruanganya. Aku ingin ...!",
"Baiklah, berapa hari kau pergi??", putus Danar
"Tiga hari!!".
"Aku akan menemanimu!!", ucap Danar tegas
"Oh ayolah mas, aku hanya menemui temanku. Lagipula dia seorang wanita. Kau mulai meragukanku?", tanya Tari curiga
Danar menghela nafas
"Bukan begitu Tar, aku hanya khawatir padamu!", ucapnya lirih. Tari memeluk lengan suaminya
"Kau mencintaiku bukan?. Jadi percayalah padaku!",
Danar mengangguk pasrah, dia memeluk istrinya dengan erat. Taripun membalas pelukan suaminya.
****
"Pak, anda datang?, bukannya hari ini anda bilang tidak akan ke kantor?", tanya Gita. Saat kembali dari makan siang, dia melihat bosnya sudah duduk dikursi kebesarannya
__ADS_1
"Urusanku sudah selesai. Apa aku tidak boleh ke kantorku sendiri?", tanya Dirga
"Bukan beg ...!",
"Kau terlalu formal Git!",
"Hah!!!", Gita menatap bosnya bingung
"Maksudku, bukankah kita sudah mengenal sejak SMA. Jangan terlalu kaku saat berbicara denganku!!", jelas Dirga
"Tapi anda atasan saya pak. Saya harus bersikap layaknya bawahan kepada atasan!", jawab Gita sopan
"Kalau begitu mari kita berteman!", ucapan Dirga membuat Gita terdiam
"Kita teman!", ulangnya sambil mengulurkan tangan
"Tap ....!",
"Tidak ada bantahan!", Gita menghela nafas
"Baiklah, teman!", jawab Gita pasrah
"Bagus, mulai sekarang panggil namaku saja saat kita berdua. Dan jangan kaku lagi!", Gita akan menjawab, namun bibirnya seketika bungkam saat melihat tatapan tajam teman barunya
"Fine, baiklah teman baru, aku akan kembali keruanganku sekarang!", ucap Gita kesal
Dirga tersenyum menatap kepergian sekertaris sekaligus teman barunya.
"Awal yang tidak terlalu buruk!", gumamnya sendiri
****
"Kau harus membayarku untuk tiga hari kedepan!!", Danar mendorong Tari hingga menabrak dinding saat mereka baru tiba dikamar. Bahkan kamar mereka tidak terturup rapat.
"Oh sayang, kau sudah tidak sabar rupanya!!", Tari mengecup leher suaminya.
"Kau selalu membuatku gila, Tari!", Danar membuka pakaian istrinya dengan tidak sabaran. Dirinya sudah diliputi gairah, nafasnya memburu dan tak beraturan.
Tari tak mau kalah, dia juga melepas kemeja suaminya dengan kasar. Tangannya mencengkram bahu Danar lalu mendorong suaminya hingga terlentang di ranjang.
Suara ******* dan erangan memenuhi kamar mereka. Sejoli yang dimabuk cinta itu bahkan tidak peduli saat ada penghuni lain yang merasakan nyeri mendengar suara mereka.
Ya, Gita baru saja pulang dan telinganya lagi-lagi disuguhi suara erotis suami dengan madunya. Sungguh hatinya sakit sekali, namun ia hanya bisa bersabar dan menahan semuanya.
****
Gita sengaja bangun lebih siang karena hari ini hari minggu. Rumah sudah sepi, entah kemana Danar dan Tari pergi, sepertinya mereka sudah berangkat sejak pagi.
Merasa bosan, Gita memutuskan untuk pergi ke taman dekat kompleks. Disana banyak anak kecil bermain, ada pasangan muda-mudi yang duduk bersama dan ada juga para lansia yang mengobrol dengan sesama lansia. Gita memejamkan mata sejenak. Dia mencoba mengistirahatkan tubuh juga pikirannya. Hampir semalaman dia tidak bisa tidur, bukan karena insomnia. Tapi karena suara laknat yang terus dia dengar.
"Kau sedang meratapi nasib?", Gita membuka mata dan melihat Dirga sudah duduk disampingnya, entah sejak kapan pria itu datang?.
"Bagaimana bisa kau merada disini?".
****
jangan lupa like dan komennya
__ADS_1