
"DIA MENINGGAL KARENA MENYELAMATKAN PAPAMU. BAHKAN DIA MEMBAWA PERGI ANAK KALIAN BERSAMANYA!!."
Deg
Danar menatap Mamanya terkejut begitupun dengan Anya.
"A-apa maksud Mama. Tari itu tidak hamil. Jangan mengada - Ngada!," Anisa menggeleng
"Dia hamil anak kalian, Danar. Usianya kandungannya14 minggu. Yang artinya, dia sudah hamil saat kalian bercerai!!.", Anisa kembali menumpahkan tangisannya, bahkan kali ini terdengar sangat pilu.
"Tidak!! Itu tidak mungkin!!", teriak Danar.
"Tapi itu kenyataannya, Danar!!. Tari meninggal membawa anak kalian. Masih pantaskan kamu menyumpahinya dengan kata-kata kasar dan menyakitkan?!! Dia membawa anakmu pergi, dia membawa cucuku pergi!!."
Danar langsung lemas, seketika. Jadi, Tari hamil anaknya? Pantas saja beberapa hari sebelum dia mengajukan gugatan cerai. Tari seringkali mual dan muntah. Kenapa dia tidak menyadari hal itu. Haha, betapa bodohnya Danar. Suami macam apa dia ini.
"Kenapa? Kenapa semua pergi meninggalkan aku dengan membawa luka?", lirih Danar. "dulu Gita, dan sekarang Tari. Ya Allah, kenapa kau menghukumku seperti ini!!." tangis Danar langsung pecah. Dia menyadari semua kesalahannya. Keegoisannya pada Tari, yang nyatanya begitu mencintainya.
__ADS_1
"Aku menyakiti dia berkali-kali, aku bahkan membuangnya setelah aku bosan. Hahah, aku sungguh pria kejam!!."
Penyesalan, hanya itu kata yang bersemayam di benak Danar dan Anisa. Melihat kesedihan Danar, Anisa tahu jika putranya masih memiliki perasaan cinta untuk Tari walau tak sebesar dulu.
"Aku kejam kan, Ma?. Aku kejam. Aku menyakiti Tari begitu dalam. Dia bahkan menghukumku dengan sangat menyakitkan. Aku kehilangan anakku lagi. Hiks, Hiks, Allah sudah memberiku hukuman yang setimpal. Aku kehilangan semua orang yang berharga dalam hidupku!."
"Mas, jangan bicara seperti itu. Masih ada aku dan Mama!", ucap Anya.
"Hahah, kamu pun akan meninggalkan aku setelah anak ini lahir, bukan? Dan akhirnya, aku akan hidup sebatang kara. Semua yang aku sayangi meninggalkan aku sendiri!!," Danar semakin tergugu. Hal itu membuat Anisa dan Anya bersedih.
"Mas, aku tidak akan meninggalkan kamu. Kita akan membesarkan anak ini bersama!."
"Aku ragu! Aku ragu karena sepertinya Allah menghukumku untuk hidup sendiri selamanya. Kau lihat, Gita pergi dan sekarang, Tari juga pergi. Berikutnya, aku yakin kau juga akan pergi!!."
"Dengarkan aku, Mas. Apapun yang terjadi. Aku akan tetap mendapingimu. Dalam suka ataupun duka. Jadi jangan pernah mengatakan jika Allah menghukummu seperti itu. Dia tidak akan memberikan cobaan kalau umat-Nya sendiri tidak mampu melewatinya. Ini takdir yang harus kamu lalui, Mas. Jangan pernah menyalahkan Allah, karena dia tahu apa yang terbaik untuk umat-Nya!."
*
__ADS_1
*
*
Rumah Januar seketika menjadi berkabung karena kedatangan jenazah Tari. Januar turut bersedih dengan nasib anak tirinya itu. Dia bahkan menitikkan air mata kala mengingat semua kenangannya bersama Tari, dulu.
"Beristirahat dengan tenang, Nak!."
Tak lama jenazah Tari dibawa ke pemakaman. Dirga, Gita dan beberapa kerabat Dirga turut mengantar jenazah Tari ke peristirahatan yang terakhir.
Dirga masih menatap gundukan tanah yang basah itu. Dia sesekali mengusap sudut matanya.
"Dia sudah tenang, Mas!."
Dirga menatap istrinya lalu mengangguk, "Kita harus mendoakannya agar dia mendapat tempat yang indah di sisi-Nya!."
Tak lama Dirga dan Gita meninggalkan pemakaman. Mereka akan mengadakan tahlilan tujuh hari kedepan dirumah Januar. Tepat setelah mereka pergi, Danar datang bersama Anisa dan Anya. Sebenarnya, pria itu belum boleh meninggalkan rumah sakit, namun pria itu memaksa keluar karena ingin pergi ke pemakaman Tari.
__ADS_1
Kini mereka sudah berada didepan makan bertulisankan nama Mentari. Danar kembali mengingat kenangannya bersama Tari, manja wanita itu dan betapa dia menyayangi Danar. Tari rela mengorbankan waktu dan dirinya hanya untuk Danar. Tapi yang terjadi sekarang, dia malah mengecewakan Tari. Masih teringat jelas bagaimana hancurnya Tari saat dia akan menikahi Anya. Tari mencurahkan semua isi hatinya dan membuat Danar tahu jika Tari tidak hanya terluka, tapi dia juga hancur.
Tari, jika dikehidupan mendatang aku masih diberi kesempatan untuk bertemu denganmu. Aku tidak akan menyia-nyiakan kamu lagi. Aku tidak akan menyakiti dan mengecewakan kamu. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga cinta kita, tidak bisa menjaga janji kita. Aku tahu, kamu pasti kecewa dan terluka. Hanya maaf yang bisa aku ucapkan. Aku akan selalu mendoakanmu dan anak kita. Sekarang, tenanglah di alam sana. Dan tunggu sampai kita berjumpa di waktu yang berbeda. Selamat tinggal, Mentari. Selamat tinggal, cintaku.