Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja

Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja
Menuju Akad


__ADS_3

"Aku memang mencintai Gita. Dan kami akan bahagia jika aku tidak termakan omong kosongmu!", ucap Danar geram. Dia pergi keluar lagi tanpa menghiraukan teriakan istrinya.


Anisa hanya mampu menghela nafas kasar. Rumah tangga putranya semakin hari semakin runyam. Tari dan Danar sama-sama kerasa kepala.


"Mama lihat kan, suamiku mencintai wanita lain. Dan semua karena dulu mama menjodohkan mereka!", ucap Tari menyalahkan mertuanya


"Kamu harusnya sadar, semua terjadi karena kamu sendiri. Coba kamu bisa membuat Danar nyaman, dia tak akan teringat mantan istri pertamanya. Walau mama akui, Gita lebih baik daripada kamu!!",


Tari mengepalkan tangan, ia paling tidak suka dibanding-bandingkan dengan wanita lain.


"Sekarang menantu mama itu aku!. Seharusnya mama mendukungku, bukan malah membandingkan aku dengan wanita lain. Aku juga perempuan ma, aku tidak suka dibanding-bandingkan!!",


"Ya makanya kamu instropeksi diri. Berubahlah menjadi istri yang lebih baik. Jangan sampai karena sikapmu, Danar berpindah ke lain hati!!",


Tidak, mas Danar tidak boleh dimiliki wanita lain. Hanya aku yang berhak menjadi satu-satunya wanita yang dicintai mas Danar, bathin Tari.


"Kalau kamu mau Danar kembali perhatian padamu. Berikan dia anak!!",


Deg


Jantung Tari kembali berdetak cepat, anak?. Selalu saja masalah itu yang Anisa bahas. Tapi benar kata Anisa, kalau ada anak diantara mereka. Hubungannya dengan Danar anak harmonis lagi.


Aku harus ke dokter. Aku harus segera mengandung anak mas Danar. Dengan begitu, dia hanya akan jadi milikku selamanya.


*


*


*


*


"Pak, Bu. Gita datang. Jika sebelumnya aku datang sendiri, kali ini Gita datang bersama Dirga. Pria yang akan menjadi suami Gita. Kami akan menikah besok, dan kami meminta restu kalian!", ucap Gita lirih


Dia sengaja pergi kemakam orang tuanya untuk meminta restu. Jika dulu saat menikah dengan Danar, Gita kemari bersama Anisa. Maka dipernikahan keduanya, ia datang bersama Dirga. Bahkan, tanpa Gita tahu, waktu dia berada di Australia, Dirga merawat makam orang tuanya.


"Pak, Bu. Saya Dirga, kalian pasti sudah mengenal saya bukan?. Saya datang lagi, kali ini bukan untuk curhat. Tapi meminta restu kalian berdua!", Gita mengernyitkan dahi mendengar perkataan calon suaminya. Apa Dirga sering datang kemari, pikirnya.


"Saya tidak bisa menjanjikan dunia. Tapi saya janji, saya akan memberikan cinta dan hidup saya untuk putri kalian. Saya berjanji tidak akan menyakitinya dan membuatnya menangis. Jadi, mohon restui pernikahan kami!",


Gita terharu mendengar janji Dirga pada orang tuanya. Pria itu memang tulus, seandainya dia bisa memutar waktu. Gita yakin, dia sudah bahagia bersama Dirga sejak dulu.


"Pak, Bu. Kami pamit, kalian istirahatlah dengan tenang!",


Setelah meminta restu pada orang tua Gita. Dirga membawa Gita ke makam mamanya, sama seperti sebelumnya, disana mereka juga meminta restu dari mama Dirga.

__ADS_1


Setelah dari pemakaman, mereka menuju hotel milik Dirga, karena pernikahan akan dilakukan disana.


"Kamu sering datang kemari?", tanya Gita penasaran


"Ya!", jawab Dirga singkat


"Darimana kamu tahu makam orang tuaku?",


Dirga tersenyum, "Aku tahu semua tentangmu, termasuk ukuran dalamanmu, akupun tahu!!",


Gita berdecak kesal sekaligus malu. Astaga, apa selama ini Dirga menjadi penguntitnya?.


"Apa selama ini kamu menguntitku?",


"Tidak. Aku tahu semuanya karena aku sering memperhatikanmu!",


"Memperhatikan yang seperti apa?", Gita mendengus, Dirga hanya tersenyum. "Sudahlah, jangan bahas masalah itu. Kembali ke yang tadi, kamu belum menjawab pertanyaanku. Kamu sering kemakam orang tuaku?",


"Iya sayang!!",


"Sejak kapan?",


"Sejak kamu pergi ke luar negeri!!",


"Apa yang kamu lakukan disana?", tanya Gita menyelidik, Dirga tersenyum


Gita menatap lekat pria yang esok akan menjadi suaminya. Dirga memiliki banyak sisi yang dia sendiri belum tahu sebelumnya.


"Apa kamu juga yang merawat makam mereka?", bukan tanpa alasan Gita bertanya demikian. Makan orang tuanya dulu hanya gundukan tanah yang ditandai batu nisan. Tapi sekarang, makan kedua orang tuanya sudah sangat bagus.


Dirga menggeleng, "Bukan aku, tapi penjaga makam yang memang aku bayar untuk membersihkan makam Bapak dan Ibu!",


Hati Gita menghangat, Diega benar-benar pria yang baik. Bahkan dia merawat makam kedua orang tuanya juga.


*


*


*


Malam telah berganti pagi, hari ini adalah hari bahagia bagi Dirga dan Gita. Ya, mereka akan mengikat janji suci pernikahan pagi ini. Gita berada dikamar bersama Ana, dia baru selesai dirias. Gita tampak cantik dengan kebaya warna putih serta siger dikepalanya.


"Kamu sangat cantik, Git!", puji Ana


Gita tersenyum, "Terima kasih An, kamu juga cantik!!",

__ADS_1


"Kalau itu, sudah sejak lahir aku memang cantik!!",


Gita terkekeh, dan kembali menatap cermin. Dia pernah berada diposisi seperti ini beberapa tahun lalu. Perasaan cemas, gugup dan deg-degan masih sama. Bedanya, dulu dia menikah dengan pria yang tidak mencintainya. Tapi hari ini, dia akan menikah dengan pria yang dia cintai.


"Kau pasti gugup, kan??", tebak Ana. Gita mengangguk. "Tarik nafas, hembuskan. Tarik nafas, hembuskan!!", lanjutnya


Gita tersenyum, "Kayak orang mau lahiran aja!!", ucapnya


"Ish, itu tuh salah satu cara untuk menghilangkan gugup. Coba kamu praktekkan deh, pasti gugup kamu sedikit berkurang. Apalagi nanti malam, uh ... kamu dan bos akan melew ...!!",


"An, jangan bicara seperti itu!!", potong Gita cepat, Ana tertawa, dia senang sekali menggoda sahabatnya itu. Wajah Gita langsung memerah, mungkin wanita itu membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam, pikir Ana.


"Git!!",


"Hm!",


"Punya bos big ga ya??", pertanyaan Ana membuat Gita melotot. Bisa-bisanya Ana menanyakan hal vulgar seperti itu.


"An ... !", belum selesai Gita berbicara, terdengar pintu terbuka


Januar datang bersama suster, Gita tersenyum menatap calon mertuanya.


"Kamu cantik sekali, nak!!", puji Januar


"Terima kasih pah. Papa juga terlihat tampan pagi ini!!",


Januar tersenyum lembut, "Kamu sudah siap?!", Gita mengangguk, "Kalau begitu, ayo kita keluar. Penghulunya sudah tiba!",


Gita berjalan di belakang mertuanya bersama Ana, sesekali ia menghela nafas karena gugup. Setelah tiba dilantai bawah, dia melihat Dirga sudah duduk didepan penghulu. Jantung Gita semakin berdetak cepat. Dirga terlihat tampan dengan setelan jas putih ditambah kopyah warna senada.


"Kamu sangat cantik!", bisik Dirga saat calon istrinya telah duduk disampingnya.


"Sudah siap?", tanya penghulu


"Siap pak!!", jawab Dirga mantap


Tangan Dirga sudah berjabat dengan tangan penghulu, dan sebentar lagi acara akan dilangsung. Yang artinya, Dirga dan Gita akan resmi menjadi suami istri dimata agama dan hukum.


"Tunggu ... !",


*


*


*

__ADS_1


Kira-kira siapa ya, yang menghentikan acara ijab qobul mereka??


__ADS_2