
"Pagi pa!!", Dirga menyapa dan duduk berjongkok didepan papanya
"Pagi nak, kau datang sepagi ini. Apa hari ini kau tidak bekerja??", tanya Januar lembut
Gita hanya memandang mereka berdua, mungkin itu ayah Dirga, pikirnya. Sebab wajah mereka terlihat mirip.
"Git, kemarilah!", Gita berjalan mendekat lalu tersenyum. Tak lupa ia menyapa ayah Dirga
"Selamat pagi pak!!", sapa Gita
Januar tersenyum membalas sapaan Gita lalu menatap putranya penuh arti. Dirga sudah menceritakan nasib Gita yang harus berbagi suami dengan mantan putri tirinya, Tari.
"Dia Gita pa, sekertarisku dikantor!", ucap Dirga mengenalkan Gita pada Januar.
"Perkenalkan, saya Gita pak!", sapa wanita cantik itu.
"Saya Januar, papanya Dirga!", jawab Januar ramah
"Papa belum sarapan kan?, ayo kita makan!", ucap Dirga sembari mendorong kursi roda yang diduduki papanya
"Pak Dirga, em, apa boleh saya yang mendorong kursi roda papa anda??", tanya Gita ragu
Dirga menatap Januar lalu mengangguk. Kini Gita yang mengambil alih mendorong kursi roda papa dari bosnya. Mereka berjalan bersama menuju ke ruang makan yang mana disana sudah terhidang banyak makanan.
"Terima kasih!", ucap Januar
Gita tersenyum kemudian duduk dengan canggung diantara dua pria tersebut.
"Jangan canggung nak, ayo nikmati makanannya. Santai saja, anggap rumah sendiri!", ucapan Januar membuat Gita tersenyum
"Kau wanita pertama yang Dirga bawa kerumah ini!", lanjut pria tua itu.
"Benarkah?!", tanya Gita tak percaya
"Biar saya saja pak!!", Gita langsung berdiri lalu mengambilkan Januar makanan saat kelihat pria itu kesulitan meraih makanannya. Pria tua itu tersenyum ke arah sang putra.
"Terima kasih!", Januar segera memakan nasi goreng yang Gita ambilkan
"Sama-sama pak!!", Gita kembali tersenyum
"Jangan panggil pak, panggil om saja!", pinta Januar
"Dia memang selalu kaku!", cibir Dirga membuat Gita mencebikkan bibirnya
Tanpa mereka sadari, Januar tersenyum. Jika saja Gita belum bersuami, tentu dirinya akan menjadikannya menantu. Apalagi mendengar nasib miris yang Gita alami.
Semoga Allah memberikan kebahagiaan padamu nanti nak!, gumam Januar dalam.hati
"Tanyakan apapun yang ingin kau tanyakan!!", ucap Dirga datar
Gita hanya menghela nafas, bosnya selalu saja tahu apa isi hatinya. Apa mungkin, pria itu cenayang?.
__ADS_1
"Om tinggal sendirian dirumah sebesar ini?", tanya Gita pada akhirnya
"Ya, semua ini karena anak nakal ini belum juga menikah. Kalau dia menikah, rumah ini akan sedikit ramai!", jawab Januar tersenyum
"Kalau begitu, suruh saja pria kaku ini menikah om. Dikantor banyak yang menyukainya. Pilih saja satu untuk jadi menantu om!", ucap Gita tanpa sadar, hal itu membuat Dirga menatapnya kesal. Berbeda dengan Januar yang justru tertawa. Gita sudah terlihat mulai nyaman bersama mereka.
"Benarkah begitu Dir?, apa perlu papa memilih satu untuk dijadikan menantu?", Januar ikut menanggapi candaan Gita
"Aku hanya mencintai satu wanita, sayangnya dia sudah menjadi milik pria lain!", suasana menjadi hening seketika. Entah kenapa Gita merasa ucapan Dirga tertuju padanya, tapi itu tidak mungkin. Dirga tidak mungkin mencintainya, yang Dirga maksud pasti orang lain.
"Sepertinya, kalian harus bicara!", Januar memanggil perawatnya, lalu meninggalkan Gita dan Dirga berdua.
Perasaan Gita mulai tidak karuan, benar dugaannya. Orang yang Dirga maksud adalah dirnya.
****
Disinilah sekarang mereka berada. Ditaman belakang yang penuh dengan tanaman bunga mawar. Jujur, Gita sangat menyukai bunga mawar. Mereka bermekaran dan terlihat begitu cantik.
"Yang kau maksud bukan aku kan?", tanya Gita mengawali pembicaraan. Walau sudah tahu jawabannya, Gita hanya ingin memastikannya langsung.
Dirga menoleh lalu menatapnya lekat, tatapan yang begitu teduh dan penuh cinta.
"Itu memang kamu!",
Hening, suasana berubah menjadi canggung. Gita tak menyangka jika Dirga menyukainya. Tapi kenapa harus dirinya?.
"Kenapa harus aku?", tanya Gita sendu
Cinta memang tidak bisa dilarang kepada siapa dia akan berlabuh. Sama seperti Dirga yang ternyata memiliki perasaan untuknya. Sayangnya, itu hal yang mustahil untuk terbalaskan karena Gita sudah memiliki suami.
"Sejak dulu??", Gita menatap Dirga bingung,
"Aku memiliki kehidupan yang kurang baik sejak remaja. Saat remaja lain sibuk bermain, aku dipaksa sibuk bekerja keras agar tetap bisa bertahan hidup. Bahkan aku harus merawat papa yang sudah stroke sejak aku SMP!", Gita terenyuh mendengar cerita Dirga, rupanya masih ada yang senasib dengannya.
"Saat aku masuk SMA, aku sering melihatmu di perpus waktu jam istirahat. Kau jarang pergi ke kantin dan tidak pernah membawa bekal. Sejak itu aku sering memperhatikanmu. Saat aku bekerja, aku tak sengaja melihatmu bekerja di ruko seberang. Aku merasa nasib kita sama, jadi diam-diam aku sering mengikutimu!",
Gita jelas menampakkan wajah terkejutnya. Benarkah yang dia dengar barusan.
"Buku-buku yang ada terima di lokermu, makanan yang ada dilacimu, semua itu dariku!",
Deg
Jadi sejak dulu Dirgalah yang memberikan semua itu?. Gita sudah salah menyangka, dia mengira semua itu pemberian Danar. Tapi kenapa Danar tidak mengatakan yang sebenarnya jika memang semua itu bukan darinya. Kenapa pria itu tersenyum seolah mengatakan jika semua itu darinya. Apa arti senyuman Danar sejak dulu?.
"Jadi kau ....!",
"Aku, semua dariku Git. Kamu selalu berhemat agar tabunganmu lekas terkumpul untuk bisa masuk ke perguruan tinggi. Kamu punya mimpi yang ingin kamu wujudkan, sementara hidupmu diliputi keterbatasan. Aku selalu menyisihkan sedikit gajiku untuk membelikanmu buku juga makan siang!", jelas Dirga
Gita menatap Dirga dengan mata berkaca-kaca, sungguh, Gita merasa sangat bersalah pada pria dihadapannya ini. Dengan percaya dirinya dia mengira semua itu dari Danar. Dan tentunya ia telah menyakiti hati pria yang tulus padanya.
"Maaf, maafkan aku Dir, aku sungguh tidak tahu semua itu. Aku ....!",
__ADS_1
"Sttt, sudah. Semua sudah berlalu, menyesal sekarangpun tidak ada artinya!", Dirga memeluk Gita, dia mencoba menenangkan wanita yang tengah menangis itu.
Januar hanya bisa menatap sendu keduanya. Takdir tidak berpihak pada mereka, mungkin Allah memang tidak menakdirkan mereka untuk bersama.
"Maaf, maat karena aku tidak bisa ....!",
"Aku tahu, seharusnya aku lebih berani mengungkapkan semuanya. Karena kebodohanku, aku kehilangan kamu. Dan kamu harus hidup menderita dengan menikahi.pria yang tidak mencintaimu!", Dirga membelai rambut wanita yang dicintainya, "Aku tidak memintamu membalas perasaanku. Kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Tapi aku mau kita berteman Git, aku mau saat kamu sedih atau terluka, akulah orang pertama yang kamu datangi!", lanjutnya, Gita menggelang cepat lalu mengusap air matanya.
"Tolong jangan membuatku semakin merasa bersalah padamu, berhentilah baik kepadaku. Carilah wanita lain yang mencintaimu dengan tulus. Aku yakin ada ba ....!",
"Jangan paksa aku, anggap saja aku sebagai kakakmu. Aku tidak akan meminta apapun padamu. Tapi tolong, jangan paksa aku menjauhimu!", pinta Dirga
Gita menunduk, dia mencoba menahan perasaannya. Kenapa?, kenapa semua harus seperti ini. Kenapa Allah mempermainkan takdirnya seperti ini. Ada pria baik yang tulus padanya, tapi hatinya malah terikat pada pria lain yang tidak menginginkannya.
"Izinkan aku melindungimu, izinkan aku menjagamu seperti seorang kakak menjaga adiknya. Aku tahu kamu tidak bahagia menikah dengannya, kamu diperlakukan tidak adil, kamu terluka Git, aku bahkan tahu semua yang mereka perbuat padamu. Kamu masih bertahan karena kamu mencintainya bukan?, sama sepertimu. Aku juga akan bertahan karena aku mencintaimu. Cintaku padamu tulus tanpa meminta balasan. Tapi jika suatu saat kamu sudah tidak sanggup menahan semuanya, aku siap membawamu pergi!!",
"Dir, aku sama sekali tidak pantas menerima kebaikanmu. Aku ....!",
"Tari adalah adikku!!", potong Dirga
Gita membeku, satu fakta baru kembali mengejutkannya. Entah kejutan apa lagi yang Allah siapkan untuknya?.
Saat kondisi mulai tenang, Dirga menceritakan kisah pilunya kepada Gita. Jelas saja Gita terkejut mendengar fakta yang dia dengar. Terutama penyebab kelumpuhan papanya Dirga yang tak lain karena perbuatan mantan istrinya yaitu mamanya Tari, mertua dari suaminya. Kenapa semua serumit ini?!.
"Kau tidak tahu siapa musuhmu. Mereka bisa berbuat apa saja untuk mencapai tujuannya, jadi, izinkan aku melindungimu!",
"Aku bisa menjaga diriku sendiri!!", ucap Gita
"Aku tetap akan melindungimu dari mereka. Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu!!",
Gita hanya bisa mengangguk pasrah. Mereka memutuskan kembali kedalam rumah untuk menemui Januar. Pria paruh baya itu sedang memberi makan ikan peliharaannya.
"Kalian sudah bicara?", tanya Januar
"Sudah om!", jawab Gita tersenyum
"Kemarilah!!", pinta Januar, Gita mendekati pria lumpuh tersebut kemudian duduk disampingnya.
"Sejak Dirga bercerita tentangmu. Om sudah yakin bahwa kamu adalah wanita yang baik. Dan saat pertama kali melihatmu, om langsung menyukaimu. Om minta, jangan pernah berubah pada Dirga setelah kamu tahu perasaannya. Seperti yang dia katakan, anggap dia sebagai kakakmu. Begitupun dengan om, anggap om seperti ayahmu. Jangan ragu datang padaku jika kau menghadapi masalah. Pintu rumah ini akan selalu terbuka untukmu!!", ucap Januar tulus
Gita begitu terharu, selain Anisa dan Ana. Masih ada Dirga juga Januar yang peduli padanya.
"Terima kasih atas kebaikan om. Aku sungguh beruntung mengenal orang-orang baik seperti kalian!!", lirih gadis tersebut
"Kau memang pantas dikelilingi orang-orang baik, karena kau adalah wanita yang baik!!",
****
"Aku sudah menghubungi dokter kepercayaanku. Ayo kita periksakan kandunganmu!!",
Deg
__ADS_1
***
Ramaikan dengan like dan komen ya