
Acara syukuran dan aqiqah kelahiran baby Azka sudah seminggu yang lalu digelar. Acara berlangsung dengan hikmat, mereka juga mengundang ratusan anak yatim piatu dari beberapa panti asuhan, sebagai rasa syukur Dirga atas kebahagiaan tiada tara yang kini ia rasakan. Semua tidak ada artinya dibanding dengan rasa syukur dan bahagia yang atas anugerah terindah dari sang Pencipta.
Pria tampan itu baru saja pulang dari kantor. Seperti biasa, dia akan langsung ke kamar setelah menyapa Papanya. Dirga membuka pintu dengan pelan, dia berjalan arah dua orang yang paling dicintainya. Papa baby Azka itu tersenyum lalu menatap hangat istri dan putranya yang kini terlelap diranjang besar mereka. Pemandangan yang dua minggu ini menjadi rutinitasnya setiap hari. Pria kecil itu seratus persen mirip dirinya, hanya matanya saja yang menurun dari sang bunda. Benar dugaannya, bayi kecil tersebut akan dominan menuruni gen darinya. Bahkan Januar seolah mengingat kembali beberapa tahun silam, saat Dirga baru dilahirkan. Bayi Azka begitu mirip dengan ayahnya.
Bayi tampan itu menggeliat, menggerakkan tubuhnya pelan. "Kenapa, sayang? Kamu haus atau popoknya penuh, hmm?."
Dirga segera mengecek keadaan bayinya. Ternyata, popok Azka penuh. Dengan telaten dia mengganti popok putranya.
"Kamu sudah pulang, Mas?," tanya Gita yang langsung menghampiri suaminya. Dilihatnya Dirga sudah selesai mengganti popok Azka. Bayi itu kini sudah membuka mata sempurna. Selain kenyang, dia juga sudah puas tertidur sejak tadi.
"Maaf, kamu jadi harus mengganti popok Azka!."
Dirga tersenyum, "Dia juga anakku. Kamu sudah berjuang melahirkannya, bahkan mempertaruhkan nyawamu untuk putra kita. Jadi sudah menjadi tugasku, ikut merawatnya. Karena Azka anak kita, bukan hanya anakku atau anakmu!."
Gita terharu, begitu beruntungnya dia memiliki suami pengertian seperti Dirga. "Kamu memang suami yang pengertian!."
Dirga kembali tersenyum sambil menggendong Azka. "Ya, dan kamu istri yang sempurna. Kita adalah keluarga bahagia. Aku, kamu, Azka dan anak - anak kita nantinya. Kita akan membina keluarga kecil yang selalu bahagia dengan kasih sayang dan cinta!."
Gita memeluk suaminya dari belakang. "Terima kasih atas semua cinta dan kasih sayang yang kamu berikan. Aku akan berusaha menjadi istri dan ibu yang lebih baik lagi!."
Dirga menggeleng, "Kamu sudah sempurna. Tetaplah menjadi istri dan ibu yang hebat. Untuk aku dan anak-anak kita kelak. I Love You, Miss Ibrahim!."
__ADS_1
"I Love You Too, Mr Ibrahim!!."
Jika keluarga Dirga tengah bahagia dengan hadirnya anggota baru di keluarga mereka. Berbeda dengan keluarga Danar yang masih diselimuti duka atas hilangnya bayi cantik mereka. Almera Khanza Adiaksa, bayi yang baru beberapa hari dilahirkan itu sudah hilang entah dimana berada.
Pencarian terus dilakukan dan selama dua minggu ini belum juga ada hasil apapun. Bahkan pencarian diperluas hingga ke luar kota. Sayangnya, masih nihil. Mereka belum menemukan petunjuk apapun.
Kondisi Anya berangsur membaik, tapi tidak dengan psikisnya. Perempuan itu kadang tiba-tiba histeris, kadang tersenyum bahkan menangis tanpa sebab. Dengan kondisinya yang belum membaik, terpaksa dia masih dirawat dirumah sakit. Danar bahkan meminta psikiater khusus untuk merawat sang istri.
"Bagaimana kondisi Anya?," tanya Anisa yang baru datang. Perempuan itu setiap hari harus repot pulang pergi kerumah sakit demi melihat kondisi menantunya.
"Tadi dokter sudah memeriksanya. Kondisinya masih sama, Ma!." ucap Danar lirih.
Anisa menghela nafas, "Kamu harus sabar. Ini cobaan untuk keluarga kita!."
Anisa mendekati putranya, tidak semua yang dikatakan Danar salah. Mungkin benar, jika semua ini karma. Tapi bukankah setiap orang berhak mendapatkan pengampunan? Dan setiap salah berhak mendapatkan maaf. Begitupun dengan dosa. Manusia adalah tempatnya dosa. Tidak ada manusia sempurna termasuk Danar. Dia sudah berusaha menjadi manusia yang lebih baik lagi. Memperbaiki diri dan tidak melakukan kesalahan yang sama. Anisa yakin Allah sudah merencakan hal baik untuk putranya kelak.
"Semua yang terjadi sudah menjadi garis hidupmu. Kamu pasti bisa menjalani semuanya. Mama yakin, Allah tidak akan mengujimu jika kamu tidak bisa melewatinya. Mama juga sedih kehilangan Khanza, apalagi mama belum sempat menggendongnya. Tapi Mama memiliki keyakinan jika suatu saat, dia akan ditemukan. Dan kalian akan berkumpul bersama suatu hari nanti. Sekarang, kamu harus membantu Anya melewati masa sulitnya. Dia butuh kamu, jadilah tempatnya bersandar disaat dia rapuh seperti ini!."
Danar mengangguk, dia memandang wajah pucat istrinya. Danar berjanji, dia akan selalu ada untuk Anya. Menemani wanita itu dalam keadaan suka dan duka.
*
__ADS_1
*
*
"Sayang, aku tahu kamu sedih. Akupun juga sedih. Tapi kita harus kuat. Kita akan mencari anak kita sampai ketemu. Bahkan, kalau aku akan menambah anak buahku untuk membantu putri kita. Aku mohon, jangan menyiksa diri seperti ini!."
Danar membelai wajah istrinya, wanita itu hanya diam seperti biasa. Pandangannya hanya tertuju pada bunga bunga yang ada didepannya. Ya, setiap sore Danar akan membawa Anya ke taman rumah sakit.
"Dokter, ada pasien kecelakaan!! Pria, wanita dan seorang bayi." suara suster menggema dilorong rumah sakit. Beberapa perawat datang membawa brankar dan segera membawa pasien keruang gawat darurat.
"Bayi!!", gumam Anya
Danar pun mendengar tangisan bayi, mungkin anak dari korban kecelakaan tersebut, pikirnya.
Karena hari sudah agak petang. Danar mendorong kursi roda istrinya bermaksud membawanya kembali ke kamar. Namun Anya menahannya, dia masih ingin berada disana.
"Dokter, korban meninggal dunia. Pasangan suami istri!."
"Hubungi keluarganya, ada bayi mereka yang masih hidup!."
"Korban orang perantauan. Tidak ada sanak saudara yang bisa dihubungi!."
__ADS_1
"Hubungi polisi, serahkan bayi itu pada mereka!."
"Aku akan mengadopsi bayi itu!."