
"Kenapa baru pulang? Kau tidak cemas dengan kondisi istrimu?", keluh Januar. Pria paruh baya itu kesal karena putranya seolah tidak peduli dengan paket misterius yang ditujukan untuk Gita. Orang suruhannya bahkan sudah memberi tahu masalah ini pada Dirga. Tapi mereka bilang, reaksi Dirga biasa saja.
"Gita bukan wanita lemah, Pa. Masalah seperti ini tidak akan berarti apa-apa untuknya!", jawab Dirga dengan entengnya.
"Kamu memang suami yang tidak perhatian. Walau Gita wanita kuat, tetap saja kita harus menjaga perasaannya. Apalagi, dia sedang hamil sekarang. Papa jadi ragu, kamu benar-benar mencintai Gita atau tidak!", cibir Januar. "Apa kamu tahu, siapa pengirim paket itu? Kamu tidak akan menyangka siapa pelakunya!."
Dirga berdecak, "Papa meremehkan aku?. Aku ini Dirga Ibrahim. Pengusaha muda sukses, pintar dan beruntung karena memiliki istri yang cantik dan sempurna seperti Gita. Tidak perlu meragukan cintaku pada istriku. Aku sangat, sangat mencintainya. Kalau tidak, mana mungkin ada Dirga junior diperutnya sekarang!", ucap Dirga dengan sombong.
Januar mencebik, "Mana ada cinta tapi tidak peduli. Kalaupun ada cucu papa diperut Gita, itu karena kamu memang mesum!."
Dirga terkekeh, "Yang Papa ucapkan memang benar. Gita selalu membuatku candu. Ish, jadi tegang karena memikirkannya!."
Januar mendelik, kenapa putranya tidak serius. "Apa otakmu hanya berisi itu. Seriuslah sedikit, kita harus menjaga Gita dari orang-orang yang berniat buruk padanya!!.".
Dirga menatap papanya dengan serius, "Papa lupa siapa aku? Sebelum papa bertindak, aku sudah lebih dulu membalas mereka!"
"Benarkah?", tanya Januar tak percaya.
"Ck. Anda mengenalku berapa lama, tuan Januar Ibrahim? Aku bukan remaja yang hanya tahu panik saat ada orang yang mencelakai keluargaku, seperti dulu. Jika mereka mengusik ketenangan keluargaku sekali. Aku akan membalasnya beberapa kali!."
Janaur tersenyum lega, "Jadi kau sudah membalas mereka!?." Dirga mengangguk, "Apa yang kau lakukan?."
"Tidak usah kepo. Yang jelas, aku akan terus membuat hidup mantan istri dan anak tirimu tidak tenang!."
Dirga meninggalkan Januar yang terbengong dengan perkataan putranya.
__ADS_1
"Mantan istri!!", Januar terkekeh. "Bagaimana bisa dulu aku menikahi wanita turunan ular. Untung aku tidak memiliki anak ular!!"
Pria tua itu menekan tombol di kursi rodanya lalu berjalan ke kamarnya.
Sementara Dirga sudah membuka pintu kamarnya, dia melihat Gita tidur memunggunginya. Ah, pemandangan yang sangat indah. Baju tidur tali spageti yang memperlihatkan bahu mulus sang istri membuat tubuh bawah Dirga sesak. Pria itu berjalan pelan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Mandi kilat adalah pilihan Dirga agar segera bisa memeluk istrinya. Dengan menggunakan kaos bolong dengan celana tiga per empat kain. Dirga naik ke atas ranjang. Tangannya masuk kedalam selimut lalu merayap ke dalam pakaian tipis yang Gita kenakan. Dirga membelai pelan perut sang istri yang didalamnya kini sedang tumbuh buah hati mereka.
"Rejeki tidak kemana!?", ucapnya terkekeh saat mendapati dua benda favoritnya tidak memakai penutup yang biasanya menghalangi.
"Engm!", Gita melenguh karena merasakan pijatan lembut di tubuh atasnya. Dia masih memejamkan mata karena kantuk yang masih enggan pergi.
"Sayang ....!"
Gita masih memejamkan mata, tapi dia sudah menggigit bibir bawahnya karena merasakan sensasi nikmat yang suaminya berikan. Sejak hamil, keinginannya untuk bercinta semakin besar. Bahkan dia tidak malu lagi memintanya lebih dulu.
"Maaf membangunkanmu. Tapi aku tidak tahan lagi!", mata cantik itu terbuka sempurna saat mendengar suara serak sang suami.
Setelah puas dibibir, Dirga turun ke tempat favoritnya. Lenguhan kecil kembali keluar dari mulut Gita. Pemanasan yang cukup membuat darah keduanya berdesir akhirnya mereka akhiri. Dirga menyatukan dirinya dengan lembut, bermain dengan ritme teratur dan pelan agar tidak menyakiti bayinya.
"Aku yang akan memimpin!."
Mata pria itu terpejam menikmati permainan istrinya. Gita sedang menguasai permainan. Perempuan itu dengan lihat bergerak indah diatas tubuhnya.
"Kamu memang yang terbaik, sayang!".
Gita mencium bibir Dirga sekilas. Lalu melanjutkan permainan. Lenguhan panjang mengakhiri permainan mereka. Dengan nafas terendah, keduanya berpelukan. Bermandikan peluh yang membasahi tubuh keduanya.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja?", pertanyaan Dirga membuat Gita membuka mata.
"Memangnya aku kenapa?."
"Mungkin kamu shock karena paket misterius itu!."
Gita tertawa pelan, "Awalnya sedikit. Tapi aku tahu jika kamu pasti sudah bertindak. Jadi aku merilekskan diri dan menikmati tidur siangku dengan tenang!."
"Jadi kamu sengaja menggodaku dengan pakaian tipis ini?."
Gita tersenyum, "Anggap saja itu bayaran untukmu, karena kamu sudah membalas Tari dan mamanya!."
"Jadi kamu tahu, jika mereka yang mengirim paket itu?."
"Aku meminta Linda menyelidikinya. Setelah tahu kalu mereka pelakunya. Aku memilih bersantai saja. Lagipula, teror itu tidak berpengaruh apapun untukku!."
Jawaban enteng Gita membuat Dirga tersenyum menyeringai. "Kalau begitu. Sebagai bayarannya, sekarang puaskan aku lagi. Kamu tidak tahu kan? Kalau aku sudah meluangkan tenaga untuk membalas mereka!", bisik Dirga nakal.
"Baiklah, aku akan melayanimu. Kau pasti suka servis lolipop dariku!!."
*
*
*
__ADS_1
Hayo.... Pada mikir apa?
Ketahuan nih 😂😂😂😂