Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja

Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja
Merasa Dibohongi


__ADS_3

"DIALAH ORANGNYA DANAR!!", teriak Anisa


Danar mematung, wajahnya berubah pias. Tubuhnya bahkan hampir limbung. Pria tampan itu menatap istri dan mertuanya yang masih bergeming.


"Ini tidak mungkin. Mama hanya mengada-ada!", elak Danar


Anisa mendekati putranya, dia memegang lengan pria 25 tahun itu,


"Kamu boleh tanyakan langsung pada mereka. Mama hanya ingin kau tahu kebenarannya!. Selama ini, inilah alasan mama tidak merestui hubungan kalian.", ucap Anisa. Jelas sekali wajah Danar menampakkan kekecewaan.


"Benarkah mama adalah wanita itu", tanyanya pada Tania. Mertuanya itu menampakkan wajah angkuh


"Benar, akulah wanita itu. Akulah wanita yang papamu cintai sejak dulu!", jawab Tania dengan percaya diri


Danar menertawai dirinya sendiri,


"Hahaha, lihatlah betapa bodohnya aku!. Aku bahkan tidak sadar jika telah dibohongi dan dipermainkan oleh orang yang paling aku sayangi!",


"Mas, aku bisa jelaskan semuanya!!", pinta Tari


Danar kembali tersenyum miris, dia menatap istrinya dengan sendu.


"Wanita yang telah menghancurkan hidupku adalah mamamu. Dan kamu ikut menyembunyikan hal ini?", lirihnya


"Mas ..., aku ....!",


"KENAPA?, KENAPA KAMU TEGA MEMBOHONGI AKU TARI?, KENAPA??",


Tari bergeming, dia hanya bisa menangis melihat kemarahan suaminya.


Anisa menatap iba pada putranya. Danar pasti sangat kecewa saat ini. Sejak Agung meninggalkan mereka, Agung sama sekali tidak menafkahi Anisa. Pria itu bahkan menghilang bak ditelan bumi. Dan Anisa harus banting tulang demi bertahan hidup bersama putra semata wayangnya.


"Aku tidak menyangka, wanita kejam yang merusak keluargaku adalah mama!", ucap Danar sinis


"Apa yang salah?. Kami sama sepertimu dan Tari. Papamu mencintai aku, bukan mamamu. Kamupun mencintai Tari bukan Gita. Salahkan jika kami memutuskan hidup bersama?. Bukankah kamu juga memutuskan akan menceraikan Gita dan hidup bahagia bersama Tari", ujar Tania


Anisa menatap mantan madunya sengit,


"Kamu pikir, setelah berhasil menghancurkan rumah tanggaku. Aku akan membiarkanmu menghancurkan rumah tangga putraku?. Tertu saja tidak, Tania. Aku tahu, putrimu hanya menginginkan harta putraku. Kalian berdua sama-sama wanita yang gila harta. Sama-sama tidak punya harga diri, hanya demi memenuhi keserakahan pribadi. Dan aku tegaskan, Danar tidak akan pernah menceraikan Gita.",


"Tapi Danar hanya mencintai putriku. Dan kamu tidak bisa memaksakan kehendakmu!!",


"Aku tidak menceraikan Gita!",


Deg


Tari menatap suaminya, Danar berkata tidak akan menceraikan Gita. Benarkah yang dia dengar?.


"Mas, bukankah kamu berjanji akan menjadikanku satu-satunya istrimu?", ucap Tari


"Kamu pikir setelah aku tahu semua ini, aku akan bertahan dengan rumah tangga kita?. Aku bahkan tidak tahu, akan bertahan atau melepaskanmu. Aku terlanjur kecewa padamu!", Tari menggeleng


"Kamu tidak boleh melakukan itu mas, kita saling mencintai. Kamu tidak boleh meninggalkan aku!!", ucap Tari frustasi, dia memeluk suaminya erat seolah takut ditinggalkan


"Sungguh artis yang hebat!!", cibir Dirga


"Tutup mulutmu, pergi kau dari sini. Jangan ikut campur masalah kami!", perintah Tania


"Ck, mamaku sayang. Aku hanya berkata jujur. Putrimu memang berbakat dalam akting, kenapa tidak menjadikannya aktris saja. Bahkan dia berhasil memerankan drama kehamilannya!!",


Danar kembali dibuat terperangah, dia melepas pelukan Tari


"Apa maksud ucapanmu?", tanya Dirga


Tari kian memucat, kini rahasianya akan terbongkar. Dan besar kemungkinan Danar akan meninggalkannya kali ini. Kenapa semua menjadi berantakan seperti ini, bathinnya.


"Jangan dengarkan dia mas!!", mohon Tari


"DIAMLAH TARI!!", suara tinggi Danar seketika membuat Tari bungkam

__ADS_1


"Aku sudah curiga, kau memang mengenalnya dan kalian menyembunyikan sesuatu dariku!",


Tari menggeleng menatap mantan kakaknya, sayangnya Dirga justru tersenyum menyeringai


"Dia tidak hamil, semuanya palsu. Bahkan kegugurannya juga palsu. Dia sengaja menjebak Gita agar terlihat semakin buruk dimatamu!!",


Danar seakan tak punya hati. Dia sungguh sudah dibodohi oleh Tari. Lagi-lagi dia menertawakan kebodohannya.


"Benarkah dia katakan Tar?", tanya Danar dingin


"Itu semua Tari lakukan agar mamamu merestui hubungan kalian!", bukan Tari yang menjawab melainkan Tania


Deg


Hancur sudah hati Danar, jadi semua hanya kebohongan belaka. Semua hanya permainan mereka.


Pria itu pergi meninggalkan apartemen dengan perasaan kecewa. Disusul Anisa dan Dirga yang ikut meninggalkan Tari dan mamanya.


"Arrgghhh ..., semuanya hancur!!, semuanya berantakan!!", Tari membanting semua barang yang ada diruang tamu. Dia menangis meratapi bagaimana nasibnya kedepan.


"Tenanglah Tari, kita akan mencari cara untuk mengatasi hal ini!!", ucap Tania dengan tenang


"Semua karena mama!!, kenapa harus papanya Danar yang mama jadikan suami. Sekarang aku harus menanggung akibat perbuatan mama!!", ucap Tari menyalahkan mamanya


"Bukankah sejak awal mama sudah melarangmu berhubungan dengan Danar. Tapi kamu tetap memaksa. Jadi bukan salah mama semua ini terjadi!!", ucap Tania tak mau kalah


"Itu karena aku mencintainya. Aku benar-benar mencintainya!!",


"Dan cinta telah membuatmu terluka. Dasar anak bodoh. Sia-sia semua usahaku menyembunyikan hal ini. Semua karena rencana bodohmu itu!", Tania masuk ke kamar meninggalkan Tari seorang diri.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?. Mas Danar pasti tidak akan memaafkanku!",


****


Danar mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia sangat kecewa telah dibohongi oleh Tari juga mertuanya. Bagaimana bisa wanita yang begitu ia cintai tega membohongi dan mempermainkannya seperti ini. Pantas saja saat mereka menikah, papa tiri Tari tidak hadir. Bahkan saat Danar bertanya tentang papa tiri istrinya, Tari selalu beralasan ini itu. Rupanya papa istrinya itu tak lain adalah papa kandunganya sendiri. Pria yang sudah meninggalkan dirinya demi wanita lain yang sekarang menjadi mertuanya.


"Maafkan aku Git, aku menyesal telah berbuat jahat padamu!", gumannya dalam hati


Danar memilih pulang kerumahnya, dia perlu waktu sendiri untuk saat ini. Semua terlalu mengejutkannya bahkan rasanya sulit untuk dipercaya. Tak tergambarkan rasa kecewanya, masih teringat jelas kebahagiaannya saat dirinya akan menjadi seorang ayah. Namun kebahagiaan itu langsung terjun bebas karena sang calon bayi telah pergi. Lebih dari itu, nyatanya semua hanya permainan istrinya. Sungguh perih mengingat wanita itu tega mempermainkan perasaannya.


Setelah mobil yang dikendarainya memasuki halaman rumah. Danar turun dari mobil, ia berjalan tertatih masuk kerumahnya. Rumah yang ia kira akan segera dihiasa suara tangidan bayi juga kebahagiaan keluarga kecilnya. Siapa sangka jika semua hanya tipuan belaka.


Semua orang sedang menertawakan kebodohanmu Danar. Hahaha, kau menjadi pria bodoh juga kejam hanya karena seorang wanita. Bukan hanya mereka yang menertawaimu, dunia bahkan ikut tertawa dibalik rasa kecewamu. Danar tersenyum miris, air mata menetes mengiringi luka hatinya


Danar berjalan ke ruang tengah, berniat menaiki tangga menuju kamarnya. Tapi saat melihat bekas darah sudah mengering, ia kembali tertawa miris. Cinta telah membuatnya buta, cinta telah membodohinya dan merubahnya menjadi manusia kejam seperti sekarang.


Danar urung pergi ke kamar, ia berjalan ke dapur dan mengambil beberapa wine lalu menenggaknya hingga kandas.


*****


"Apa Danar akan baik-baik saja?", pertanyaan Dirga membuat Anisa menoleh kearahnya. Saat ini mereka dalam perjalanan kembali kerumah sakit.


"Dia hanya butuh waktu untuk berdamai dengan dirinya juga keadaan. Setelah beberapa hari, semuanya akan kembali membaik. Tapi aku tidak tahu bagaimana hubungannya dengan Tari nanti. Aku yakin wanita itu tak akan menyerah. Semoga saja Danar tidak kembali terbujuk oleh rayuan wanita ular itu!",


"Kau benar, mereka tidak akan menyerah begitu saja. Sekarang semuanya tergantung pada putramu!",


"Kau benar, aku harap Danar segera sadar siapa yang harus dia pertahankan dan dia lepaskan. Terima kasih sudah membantuku Dirga, kau begitu baik padaku juga pada menantuku. Entah apa yang aku lakukan untuk membalas semua kebaikanmu!",


"Anda tidak perlu melakukan apa-apa. Melihat Gita bahagia, itu sudah cukup bagi saya!",


Anisa mengangguk. Mereka tak bicara apa-apa lagi setelah itu. Hanya ada keheningan sampai mereka tiba dirumah sakit.


*****


Gita sudah dirawat selama dua hari dirumah sakit. Kondisinya mulai membaik dan hari ini dia sudah di ijinkan pulang oleh dokter.


"Terima kasih sudah membantu menantuku An!", Ana tersenyum lalu mengangguk


"Gita sudah seperti saudaraku tante, jadi tante tidak perlu sungkan!", jawab Ana

__ADS_1


"Aku akan mengantar kalian pulang!", ucap Dirga, dua hari ini dia selalu menyempatkan diri menjenguk Gita setelah pekerjaannya selesai.


"Tidak usah kak, bukankah sore ini kau ada rapat dengan tuan Michel untuk membahas pembangunan Royal hotel!", Diega tersenyum, bahkan saat sakitpun, Gita masih mengingat skedulnya


"Kau bahkan masih mengingat jadwalku. Aku bisa menunda atau membatalkannya!", jawab bosnya enteng


Gita menghela nafas,


"Jadwal tuan Michel sangat padat. Dia hanya bisa meluangkan hari ini untuk bertemu denganmu. Jadi sebaiknya, kamu menemuinya. Jangan menyia-nyiakan kesempatan!",


"Pergilah, biar Gita dan Ana pulang denganku!", Dirga akhirnya menyetujui permintaan Gita setelah Anisa berkata demikian.


Pria itu berpamitan lalu pergi meninggalkan rumah sakit.


"Kalian tunggulah dimobil. Aku akan menyelesaikan administrasinya dulu!",


"Dirga sudah melunasinya ma!",


Anisa menatap menantunya lalu mengangguk,


"Sudah semua kan?", Gita dan Ana mengangguk. Kemudian mereka semua masuk kedalam mobil.


"Kita pulang kerumah Gita pak!", ucapnya pada sang sopir


"Baik nyonya!",


Perjalanan terasa hening, mereka larut dalam pikiran masing-masing. Tak ada pembicaraan diantara mereka. Gita masih berfikir Danar marah padanya. Suaminya itu nyatanya tidak sekalipun menjenguknya. Sedangkan Anisa memikirkan Danar, dua hari putranya tidak ke kantor. Anisa begitu cemas, tapi ia yakin putranya akan baik-baik saja. Danar juga pernah seperti ini saat papa meninggalkannya dulu.


Jalanan begitu padat, apalagi bertepatan dengan jam pulang kantor. Kemacetanpun tak terelakkan. Perjalanan yang seharusnya hanya ditempuh 45 menit, menjadi satu jam.


Setelah sampai dirumah Gita, mereka turun dari mobil. Anisa membantu menantunya masuk dalam rumah dan Ana membawa barang-barang Gita.


Rumah peninggalan orang tua Gita masih terawat karena Anisa menyuruh orang untuk rutin membersihkannya. Karena dia tahu kalau rumah itu satu-satunya peninggalan besannya untuk sang menantu. Hanya rumah ini kenangan yang Gita miliki bersama orang tuanya dulu. Jadi Anisa menjaganya dengan baik.


"Kamu yakin tidak mau mama temani?", tanya Anisa memastikan


"Tidak ma, ada Ana yang akan menemaniku!",


"Tante tidak perlu khawatir, aku akan menjaganya dengan baik!", ucap Ana meyakinkan mertua sahabatnya


"Baiklah, kalau begitu mama pulang dulu. Besok pagi mama akan kemari lagi!",


"Tentu ma, hati-hati dijalan!",


Gita dan Ana masuk kedalam rumah setelah mobil Anisa tidak terlihat.


"Git, aku akan pulang untuk mengambil beberapa baju. Kamu tidak apa-apa aku tinggal sebentar?", Gita mengangguk


"Pergilah, dan bawa baju yang banyak. Aku ingin kau menemaniku beberapa hari kedepan!"


"Siap ibu ratu, jangankan beberapa hari. Selamanyapun aku bersedia!", Gita tersenyum mendengar candaan sahabatnya.


Setelah Ana pergi, Gita masuk ke dalam kamar. Kamar yang hampir satu tahun dia tinggalkan. Semuanya masih sama, Anisa benar-benar merawatnya dengan baik.


Gita berjalan menuju lemari untuk mengambil baju ganti. Sayangnya lemarinya kosong. Dia lupa kalau membawa semua pakaiannya kerumah Danar. Gita menghela nafas, mau tak mau dia harus kesana. Lagipula Danar pasti bersama Tari. Toh mereka tak akan memperdulikannya, jadi Gita memutuskan untuk pulang kerumah Danar dan mengambil pakaiannya. Dia memesan ojek online dan meluncur kerumah suaminya.


****


Gita sudah tiba dirumah suaminya. Mobil Danar terparkir rapi di garasi rumah, artinya pria itu berada disini. Lagi-lagi Gita menghela nafas, dia berjalan pelan memasuki rumah. Jujur, Gita sedikit takut untuk bertemu dengan Danar, pria itu pasti masih marah padanya.


Suasana rumah begitu sepi, hal itu membuat Gita lega. Dia segera masuk kedalam kamarnya dan mengambil beberapa pakaian juga barang-barang lain lalu memasukkannya kedalam tas. Setelah semua keperluannya selesai, Gita keluar kamar. Dia berdoa semoga Danar tak melihatnya


"Kau pulang, sayang!",


Deg


***


kira-kira apa yang akan terjadi pada Gita??

__ADS_1


__ADS_2