
"Kau pulang, sayang!",
Deg
Suara itu, bukankah itu suara Danar. Tapi kenapa dia memanggilnya sayang?. Gita berbalik pelan, dia menatap Danar yang berantakan. Bau alkohol begitu menyengat keluar dari tubuhnya. Kenapa suaminya mabuk?, apakah sefrustasi itu Danar kehilangan bayinya hingga berani menyentuh minuman tersebut. Setahunya, Danar sangat anti dengan minuman beralkohol.
Grep
Gita membeku kala Danar memeluknya erat, dia berusaha melepaskan diri. Sayangnya Danar semakin erat memeluknya.
"Kau mau kemana?, kau mau lari dariku?", Gita menggeleng
"Aku tidak akan melepaskanmu Tari. Kau dan mamamu sudah membohongiku, menjadikanku manusia paling bodoh yang berhasil kalian kelabuhi!",
"Apa maksudmu mas?, aku bukan Tari, aku Gita!", ucap Gita tetap berusaha melepaskan diri
Danar tertawa sinis
"Kau Gita?, tidak-tidak, Gita sedang berada dirumah sakit. Aku mendorongnya dari tangga dan semua itu karena perbuatanmu. Aku bahkan telah berbuat jahat pada wanita malang itu. Gitaku yang malang!", Danar kembali tertawa
Gita ketakutan, apalagi Danar dalam keadaan mabuk. Pria itu terlihat bukan seperti Danar biasanya. Ditambah dia mulai meracau dan mengatakan hal yang Gita sendiri tidak mengerti maksudnya.
Gita mendorong Danar kuat, namun usahanya sia-sia. Danar malah menyeretnya kedalam kamar.
"Lepaskan aku mas!!", teriaknya
Plak
Danar menampar pipi Gita dengan keras, membuat wanita itu menitikkan air mata. Sungguh Gita ketakutan saat ini.
"Kenapa kau mau lari!, biasanya kau akan merangkak dan memuaskan aku!!", Gita kembali menggeleng. Dia bangun dan berusaha berlari menuju pintu
"Jangan menguji kesabaranku Tari. Kau sungguh membuatku marah!!",
"Lepaskan aku mas, aku bukan Tari. Aku Gita!"
Danar tak menghiraukan, dia antara sadar dan tidak. Danar menyeret Gita dan melemparnya ke ranjang. Gita beringsut mundur, dan hal itu semakin membuat Danar marah. Pria itu terlihat mengeraskan rahang.
"Jangan berpura-pura menolak Tari. Bahkan sebelum menikahpun, kau sendiri yang menyerahkan tubuhmu padaku!!",
__ADS_1
Danar menyobek baju yang Gita kenakan. Perempuan itu terus berontak, sayangnya Danar bak orang kesetanan. Tenaganya begitu kuat apalagi dia sedang diliputi amarah. Hal itu membuat tenaganya berkali-kali lipat jauh lebih kuat.
"Tolong jangan lakukan ini mas, lihat aku, aku Gita. Aku Gita!!", ucap Gita lemah
Danar mencium bibir Gita dengan kasar. Tak peduli kerasnya tangisan perempuan cantik itu. Gita mulai kehabisan tenaga, yang dia lakukan hanya pasrah dan menangis.
Aku memang ingin menjadi istri sesungguhnya mas. Tapi tidak dengan cara seperti ini. Kau menganggap aku sebagai Tari, kau memperlakukan aku bak wanita j*l*ng. Kau menghancurkan harga diriku mas.
Setelah puas mencium bibirnya. Danar beralih ke leher mulus Gita. Dia menghisap keras hingga menimbulkan tanda merah. Air mata Gita mengalir semakin deras, dia tak ubahnya diperkosa oleh suaminya sendiri.
Tangan Danar mulai meraba dadanya, dengan sisa tenaga yang dia punya. Gita menghalangi Danar. Bukannya berhenti, Danar semakin bergairah.
Gita memalingkan wajah. Dunianya telah hancur, harga dirinya diluluh-lantakkan oleh pria yang dia cintai. Danar menatapnya, dia kembali berada diatas tubuhnya. Mata pria terlihat mulai jernih. Mungkin kesadarannya mulai kembali.
"Jangan lakukan ini mas. Lihat aku baik-baik. Aku bukan Tari, aku Gita. Wanita yang tidak kamu inginkan!", lirihnya lemah
Danar terperangah, dia menatap Gita yang masih menangis dibawahnya.
"Maafkan aku!!",
Hilang ..., hilang sudah kehormatan yang dijaganya selama 24 tahun. Walau bukan dosa seorang suami mengambil haknya, tapi tidak dengan cara ini yang Gita inginkan.
****
Sudah jam 12 malam, namun Gita belum juga kembali. Ana terus mondar mandir didepan teras rumah sahabatnya. Menyesal karena meninggalkan Gita seorang diri, sekarang dia tak tahu dimana sahabatnya berada. Ponsel Gita bahkan tertinggal.
"Dimana kamu sebenarnya Git?", ucapnya cemas
Deru mobil membuat Ana menatap kearah pagar. Itu mobil Gita, perempuan berdarah Jawa itu segera menghampiri mobil sahabatnya.
Ana melotot melihat penampilan Gita,
"Astaga Git, siapa yang melakukan ini padamu?",
Ana segera membawa Gita masuk ke kamarnya. Tak lupa memberinya segelas air.
"Maafkan aku Git, maafkan aku karena meninggalkanmu sendirian. Katakan padaku, siapa yang sudah melecehkanmu!", Ana menangis sesegukan, dia menatap Gita dengan perasaan bersalah. Jelas sekali jika Gita telah mengalami pelecehan. Lehernya penuh tanda merah, bajunya kusut dan beberapa kancing terlepas.
Gita tak menjawab, dia hanya menggeleng lemah dan Ana tahu jika sahabatnya sedang tidak baik-baik saja
__ADS_1
"Apa Danar yang melakukan semua ini?", bukan tanpa sebab Ana menebak demikian. Gita kembali dengan mengendarai mobilnya, sedangkan dia tahu kalau mobil sahabatnya berada dirumah sang suami.
Gita tak mampu menahan sesak didadanya. Akhirnya dia menumpahkan tangisnya di pelukan Ana.
"Dia memperlalukanku seperti wanita j*l*ng An, dan yang lebih menyakitkan lagi. Dia menganggapku sebagai Tari!!",
Ana mengepalkan tangan, hatinya ikut teriris mendengar penuturan sahabatnya
"Aku tidak mempermasalahkan mas Danar mengambil hak nya, tapi tidak dengan cara seperti ini. Aku sakit An, dia sudah menginjak-injak harga diriku!!", Ana langsung memeluk sahabatnya
"Tenangkan dirimu Git, kamu harus tetap berfikir jernih. Kita akan membahas masalah ini nanti. Sekarang sebaiknya kau bersihkan dirimu dulu. Aku akan menyiapkan air hangat untukmu!!",
****
Danar membuka mata, dia duduk dan menatap jam disebelahnya. Sudah pukul dua pagi, tubuhnya terasa dingin, dia berada lengannya dan mulai menyadari sesuatu.
"Gita!!", Danar menatap sebelahnya. Kosong, hanya ada bekas kebejatannya yang tersisa. Bukti bahwa dia telah menodai istri pertamanya.
"Apa yang sudah aku lakukan?. Lagi-lagi aku menyakitinya!!", Danar mengusap rambutnya frustasi. Dia mengingat semuanya, termasuk menyebut nama Tari saat dirinya bercinta dengan Gita.
"Maafkan aku Git, sungguh aku minta maaf!", sesalnya lirih
Pria itu masuk kedalam kamar mandi lalu mengguyur tubuhnya. Belum selesai satu masalah sekarang dia membuat masalah baru.
****
"Makanlah Git, kamu perlu mengisi tenagamu!", pinta Ana
Sejak bangun, Gita tak menyentuh sarapannya. Wanita itu menatap kedepan dengan tatapan kosong. Jelas Ana khawatir melihat kondisi sahabatnya.
"Kau belum makan apapun, apa kau mau sesuatu?", tawar Ana
"Aku tidak nafsu makan An!!", jawab Gita malas, Ana menghela nafas. Kenapa nasib sahabatnya begitu miris. Tidak ada yang salah jika mereka melakukan hubungan suami istri, tapi Danar melakukannya dalam keadaan tidak sadar. Apalagi menyebut nama madunya, siapa yang tidak sakit hati jika jadi Gita.
"Aku boleh bersedih, tapi kau juga harus memikirkan tubuhmu Git. Kau menangis hampir semalaman. Tenagamu jelas berkurang, jika kau tetap seperti ini terus. Kau bisa sakit!!",
Gita menatap sahabatnya
"Aku hanya takut, aku hamil!",
__ADS_1
Deg