
"Kamu tahu Kak, kalau Vio kerja di sini?" tanya Alfa.
"Entahlah mungkin aku pernah bertemu, tapi tidak ngeh aja karena waktu itu aku belum mengenal dia. Tapi setelah ketemu dia di rumahmu, aku baru ingat. Dia memang bersekolah di sini dan kadang membantu salah satu pedagang melayani pembeli saat istirahat," jawab Lionell.
"Sebenarnya dia bekerja di berapa tempat?" tanya Alfa lagi.
"Hei ... kalian bicara apa? Adakah yang bisa memberi tahu?" tanya Ogi.
"Maaf Kak, gue gak bisa memberi tahu bisanya memberi tempe, nih!" Alfa memberikan gorengan tempe yang kebetulan berada di atas meja entah punya siapa.
Ogi melirik kesal pada Alfa, lalu dia mengambil tempe yang di sodorkan Alfa dan memakannya. "Ini juga tempe gue!" gerutu Ogi. Alfa terkekeh.
"Udah bisa jail lo, Al!" ucap Rio.
"Jail gimana sih. Gue tuh gak jail Kak, emang serius. Kakak lihat sendiri di meja ini tidak ada tahu!"
"Ha ... ha ... ha, lucu lo!" sarkas Ogi. Alfa kemudian bangkit.
"Sebentar ya gue mau jajan dulu." Alfa pergi ke tempat di mana Vio berada.
"Jajan lagi gak salah? lihat saja dia makan yang paling banyak. Terus sebentar lagi jam masuk!"
"Dia lagi pdkt mungkin sama cewek itu?"
"Cewek mana? Yang gendut tadi? Gak salah? Macam Agnes aja di tolak apalagi yang model cewek gendut tadi." Ogi mendelik tidak percaya.
__ADS_1
"Kalau yang lo lihat fisik, emang lebih cantik Agnes. Tapi lo gak lihat apa yang Alfa lihat. Kecantikan hati, inner beauty." Lionel tidak setuju dengan Ogi.
"Bahasa lo berat Lion Teguh! Gue mah ikutin quote dari mata turun ke hati. Artinya gue lebih suka apa yang mata gue lihat dulu, baru perkenalan dan pendalaman. Setelah kenal, dan tahu karakter serta sifatnya. Gue baru bisa nilai. Nih cewek baik gak buat gue, gitu gue mah!" Rio mengatakan pendapat dan prinsipnya.
"Kalau gue mah cari cewek yang sama-sama mau aja. Biar gak ngejar-ngejar. Lelah hayati kalau kejar-kejaran. Udah cape ngejar eh di tolak. Apa gak ngenes tuh!" Ogi berbeda lagi prinsipnya.
Suara tawa terdengar dari meja Lionel.
"Kalau Lo gimana Niel?" tanya Lionell pada Daniel.
"Hah, saya Kak?" tanya Daniel balik.
"Iya." jawab Lion.
"Ck ... ck ... kasihan ... kasihan." Rio menepuk-nepuk punggung Daniel.
"Sekarang gimana kalo lo Yon?" tanya Ogi.
"Kalau gue suka ama cewek! Cukup gue cintai dia dalam diam, tanpa dia harus tahu perasaan gue, gue kasih dia perhatian dan bahagiain dia. Karena melihatnya tersenyum bahagia merupakan kebahagiaan tersendiri buat gue. Apalagi jika alasan dia bahagia adalah gue. Rasanya gue gak butuh apa-apa lagi." Lionell menceritakannya sambil tersenyum dan matanya berbinar seperti orang yang sedang membayangkan orang yang dicintainya.
"Tapi menurut gue lebih baik lo jujur dan utarakan perasaan cinta lo. Siapa tahu dia juga suka ama lo!"
"Gak! Lebih baik seperti ini. Suka atau tidak, dua-duanya akan membuat dia sedih dan menderita."
Semua menatap Lionell. "Gue kenal ceweknya gak?" tanya Rio.
__ADS_1
"Gak!"
"Lagi pada ngobrol apaan nih? Kayanya seru banget."
Datang Alfa membawa beberapa cemilan.
"Kita cuma lagi cerita pandangan kita tentang cinta itu seperti apa, kita itu tipe cowok yang seperti apa?" Lionell memberi tahu Alfa.
" Apakah lo tipe cowok yang suka pada pandangan pertama, atau tipe yang melihat fisik dan lain-lain," lanjut Rio.
Teet ... Teet ...
Bel masuk telah berbunyi. Semua siswa kembali ke kelas masing-masing.
"Tuh udah masuk, yuk kita ke kelas!" ajak Rio.
"Kuy lah. Eh Al tar pulang bareng ya. kita kan pulang cepat hari ini." Ogi mengajak Alfa.
"Siap Kak." Alfa setuju.
"Daniel kalau mau ikut juga boleh."
"Iya Kak," ucap Daniel.
...----------------...
__ADS_1