Berbagi Cinta : Dia Juga Suamiku

Berbagi Cinta : Dia Juga Suamiku
Bab 83. Hani Bimbang


__ADS_3

Matahari sudah terbenam di gantikan tugasnya oleh rembulan.


Hani sedang makan malam bersama keluarganya.


" Hani sayang gimana, sudah kamu pikirkan perkataan Bunda nak. "


" Iya Bunda , Hani sudah meminta pada Allah supaya di beri jodoh secepatnya dan yang terbaik."


" Kalau cuma berdo'a tanpa ikhtiar mana bisa Han. Istilahnya seperti berdo'a minta kaya tanpa mau bekerja.. mustahil !" Bunda menekankan kata mustahil.


" Gak juga, buktinya ada yang ngajak ta'aruf sama Hani ." Ucapnya lalu Hani tersadar kalau dia kelepasan bicara. Lebih baik ia kabur sebelum panjang urusannya.


" Hani sudah selesai. Lupa ada pekerjaan penting. Hani ke atas dulu !"


" Eh..eh..mau ke mana kamu duduk dulu. Bunda masih mau bicara !" Hani menghentikan langkahnya.


" Iya Bun." Hani duduk kembali.


" Maksud kamu tadi apa? Ada yang ngajak kamu ta'aruf? Kok gak bilang Bunda." Cecar Bunda.


" Gak , bunda. Tadi itu asal ngomong aja. Gak ada kok. Udah ya aku mau ke atas dulu. "


" Duduk Hani. Ayo cepet cerita sama Bunda siapa yang mengajak kamu ta'aruf ? Jangan bilang tidak ada karena Bunda tidak akan percaya !" Bunda Hani tidak menyerah sebelum mendapat jawabannya.


" Baiklah. Sebenarnya beberapa hari yang lalu teman Hani , Rere namanya . Dia mengenalkan abangnya pada Hani. Abangnya mengajak Hani untuk Ta'aruf. Dia sedang mencari seorang istri tapi tidak mau pacaran. Dia ingin wanita soleh untuk jadi istrinya."


" Nah..cocok. Kamu pas banget sama kriterianya. Terus kamu terima kan ?"


" Bun.. Hani merasa aneh, kenapa mereka memilih Hani. Rere sudah lama tidak bertemu Hani. Tapi dia sengaja menemui Hani untuk diajak ta'aruf. Hani merasa ada yang janggal ."


" Itu mah perasaan kamu aja. Mereka memilih kamu karena kamu berhijab dan soleh ." Hani tersenyum miring.


" Manusia tidak berhak menilai seseorang atau dirinya soleh atau tidak. Itu adalah hak Allah. Jangan sampai kita menjadi riya karena merasa soleh atau sombong menganggap orang lain tidak soleh, secara tidak langsung itu merendahkan orang lain. Dan kenapa menilai soleh atau tidak dari pakaian. Hani sendiri memakai hijab karena ingin ikhtiar menjadi lebih baik dan dekat dengan Allah. Sebagai manusia Hani masih suka berbuat hilaf bahkan pada Bunda Hani masih sering berbuat salah. Maafkan kehilafan Hani Bunda. " Hani mencium tangan Bundanya.


" Jadi Hani kurang suka saat ada pria yang bilang pada Hani ingin mencari wanita yang soleh karena Hani tidak merasa soleh. Mereka hanya melihat dari pakaian yang Hani kenakan.Lalu bagaimana jika setelah menikah suami Hani kecewa karena Hani tidak sesoleh seperti yang dia pikir. Itu menjadi beban buat Hani bunda. "


" Iya sayang, maaf tadi bunda terlalu antusias jadi berbicara seperti itu."


" Entahlah Bunda Hani merasa bingung . Rere memberi waktu satu minggu untuk memberi keputusan. Hani harus apa? "


" Sholat istikharah dan bawa dia ke sini. Biar Bunda lihat dia ya.!"


" Bunda ..!"


" Oh..ayolah Han, bilang padanya jika dia serius mengajak kamu ta'aruf minta izin sama Ayah dan Bunda !"

__ADS_1


" Iya Bun. Ya udah Hani ke atas dulu. "


" Iya sayang." Ucap Bunda.


" Ayah kok diam aja?"Tanya Bunda pada Ayah.


" Ayah mo bilang apa? satu orang pria akan kalah dengan dua wanita. Lagi pula keputusan Bunda yang paling mutlak. " Ledek Ayah Hani.


" Ayah benar 100% !" Bunda terkekeh.


***


Fathi sedang tidur bersama Kayla. Kayla mempunyai kamar sendiri tapi masih terhubung dengan kamar Fathi.


Ia bangun ketika melihat Kayla sudah tertidur pulas.


Fathi kembali ke kamarnya. Begitu ia masuk lewat pintu penghubung. Ia melihat Sultan. sedang berkaca di cermin.


" Kamu kenapa Pah ngaca mulu lama-lama kacanya retak tar !"


Sultan langsung menengok pada Fathi.


" Kamu kenapa sih kayanya kok sentimen banget sama Papah ?"


" Kamu semenjak hamil jadi julid banget sama papah."


Fathi tergelak. Dia juga tidak mengerti dia tidak bisa menahan diri untuk menjaili suaminya. Dia juga bawaannya kesel sama Sultan. Merupakan kebahagiaan tersendiri melihat Sultan merana karenanya. Fathi mengusap perutnya. " Sudah nak kasihan Papah kamu jangan di buat kesel terus. " batin Fathi.


" Maaf Pah tapi serius ini bukan mauku tapi maunya baby. Aku kan udah bilang kamu harus sabar menghadapi wanita hamil ini !"


" Iya aku sabar..biar rezeki ku tambah lebar."


" Udah sini yuk. Sebagai obat kesel kamu dan permintaan maaf aku," Fathi mendekati pipi Sultan.


" ...Aku pasrah mau diapain aja. " Bisik Fathi pada Sultan.


" Serius.. sebentar ya sayang.." Sultan berlari mengunci pintu utama dan pintu penghubung. Dia tidak ingin ada gangguan.


" Aku dapat bonus ya.."


" Terserah kamu."


" Alhamdulillah.. buah kesabaran memang nikmat. Ayo !" Sultan menidurkan Fathi di peraduannya. Kamu tiduran saja dan nikmati apa yang kulakukan aku tidak ingin kamu kelelahan. "


" Iya ..hh.. Pahhh" Tangan Sultan sudah menjelajah.

__ADS_1


Sultan betul-betul memanjakan Fathi dia melakukan semuanya dengan lembut. Semua dia sentuh termasuk dua buah melon yang dia sukai . Sultan melahapnya dengan ganas. Fathi tidak kuasa menahan suaranya. Sultan menyukai suara merdu Fathi yang sedang merasakan puncaknya.


" Hah..aku tidak pernah bisa bertahan lama denganmu pah.." Sultan tersenyum dan membelai lembut kulit Fathi.


" Mari kita mulai lagi petualangan nya."


Tanpa banyak bicara Sultan langsung menunduk ke bawah. Sultan benar-benar melakukannya perlahan tapi membuat Fathi tersiksa karena ia sudah berkali-kali mencapai *******. Terutama saat Sultan menghujamkan kerisnya. Malam itu menjadi malam yang panjang, untuk mereka. Ditutup dengan bonus yang diminta Sultan.


" Makasih sayang . Tidurlah kamu pasti lelah." ujar Sultan Lalu dia ke kamar mandi dan mengambil handuk basah. Ia mengelap Fathi agar Fathi nyaman tidurnya.


" Halo anak Papah pasti kamu seneng udah Papah tengokin. Sekarang jangan sensi lagi ya sama Papah. Papah janji gak akan dekat-dekat cewek lain selain Mamah kamu. Papah ini adalah lelaki setia. keep my words. Selamat malam sayang ." Sultan mencium perut Fathi lalu menutupinya dengan selimut. Ia beranjak untuk menyimpan handuk basah di tempat baju kotor.


***


Pagi hari saat sarapan di kediaman Hani.


" Hani kapan kamu bertemu lagi dengan dia?" Tunggu nanti 4 hari lagi Bun!"


" Oh.. Kalau nanti kamu jadi nikah sama dia, Ayah akan kasih hadiah bulan madu ke korea ." Ucap Bunda.


" Eh..eh..tunggu dulu kenapa jadi Ayah? Kapan Ayah bilang begitu ?" Sanggah Ayah Hani.


" Jangan sembarang janji Bun, nanti jadi nazar." Hani memberi peringatan.


" Oh ya Han , tadi ada telepon dari pendopo katanya kamu diminta bantuannya untuk melatih mereka yang ingin kenaikan tingkat."


" Ok ..Yah nanti Hani telepon ke sana. Makasih yah."


" Iya. Kamu juga jangan lupa latihan, Silat itu harus sering di latih biar semakin gesit dan bertenaga. Jangan lupa latihan tenaga dalamya juga. "


" Iya.. Ayah dan Bunda juga jangan cuma latihan silat di kamar doang. "


" Ih..anak Bunda sirik aja."


" Hani berangkat ya.. Assalamu'alaikum " Hani bangun dan mencium tangan kedua orang tuanya.


...----------------...


Halo apa kabar ? Terima kasih masih membaca my storry. Maaf yah masih aja ada typo.


Terima kasih untuk like komen hadiah dan votenya 😙😙💓💓.


Sambil menunggu author up lagi ini ada cerita bagus karya temen author. Di like dan komen ya.


__ADS_1


__ADS_2