
Alfa sedang bermain game dengan Lionell di kamar.
"Al ... maaf ya kelakuan Oma Gauri dan anaknya emang bikin kesal. Aku tidak suka pada mereka. Tante Sanchi kadang suka menggoda Papah. Untung Papah tidak pernah menanggapi." Lionell merasa tidak enak pada keluarga Kakaknya.
"Sudahlah Lion, kenapa kamu yang minta maaf. Itu bukan salahmu. Mereka yang kurang akhlak bukan salah kamu," ucap Alfa.
"Dari pada ngomongin mereka, kita makan pizza, mau gak?" tanya Alfa seraya mengambil ponsel
"Boleh deh." Lion setuju.
"Ada request?" tanya Alfa.
"Banyakin kejunya aja," pinta Lion.
"Oke!"
Alfa memesan Pizza ukuran besar 2 untuk kakak dan orang tuanya.
"Kita tunggu di bawah yuk!" ajak Alfa. Mereka keluar kamar dan turun ke bawah.
Sesampainya di bawah. Alfa dan Lion melihat Papah di cubit oleh Kayla.
"Waduh ada penyiksaan nih. Dilarang kdrt ya!" Alfa menyela kegiatan mereka.
"Biarin, Papah pantes di cubit! Papah udah tergoda Tante Sanchi!" Kayla masih kesal dengan papahny.
"Kalau seperti itu kasusnya. Bukan dicubit hukumannya, tapi di tinggalin aja. Biar kita aja yang jaga Mamah!" ancam Alfa.
"Jangan! Lagian itu tadi bercanda, jailin Kayla doang, gak beneran, suer! Papah gak bisa hidup tanpa kalian, jadi jangan pernah tinggalan Papah, oke!" Sultan langsung panik mendengar ancaman Alfa.
"Semua tergantung Papah!" ucap Alfa.
"Sudah ...sudah... kalian ini! Papah tadi cuma bercanda jangan terlalu serius. Ayo sayang kita ke kamar aja, temani aku istirahat." ucap Fathi kepada anak-anaknya dan mengajak Sultan ke kamar.
"Permisi ... Pizza!" Teriak seseorang dari luar.
"Kamu pesan Pizza de?" tanya Kayla.
" lya." Alfa beranjak ke depan untuk mengambil pesanan dan membayarnya.
Lionell merasa canggung di tinggalkan berdua dengan Kayla. Ia merasa gugup bila berada di dekat Kayla. Mungkin karena mereka bertemu hanya seminggu sekali. Lion tahu kalau Kayla adalah kakak tirinya. Satu ayah beda ibu.
Itu menurut Lio. Ia tidak tahu kalau bahwasannya mereka tidak ada hubungan darah sama sekali.
"Kenapa Alfa lama banget ambil pizzanya?" tanya Kayla.
__ADS_1
"Gak tahu Kak." jawab Lion.
"Yuk kita lihat!" Mereka ke depan melihat Alfa. Kayla melihat Alfa sedang bersama wanita berhijab bertubuh agak gemuk. memakai seragam bergambar pizza.
Kamu tidak apa-apa?" Kayla mendengar Alfa bertanya pada wanita itu.
"Tidak Kak, terima kasih... saya pergi dulu masih ada yang perlu saya antar pesanannya."
"Tapi wajah kamu pucat. Kamu istirahat saja dulu."
" De, kenapa?" Datang Kayla bertanya pada Alfa.
"Ini Kak, tadi dia hampir pingsan, mukanya aja pucat. Alfa suruh dia istirahat dulu. Tapi dia maksa mau ngirim pesanan lagi." Alfa menjelaskan.
"Ya, kalau aku gak ngirim nanti yang pesan komplain Kak. Terus aku kena tegur." ucap wanita itu.
"Gini aja, kamu di sini aja. Biar Alfa sama Lion yang mengantar pesanan kamu ya. Yuk kamu masuk. Kita makan pizza!" Kayla mengajak Wanita itu masuk.
"Hah ... Aku yang ngirim Kak?" tanya Lion.
"Iya! Kamu gak mau bantu?" tanya Kayla.
"Mau Kak, iya biar Lion aja yang antar sama Alfa." Lion lalu mendekati Alfa.
"Udah Kak gak usah , terimakasih. Biar saya aja yang antar. Ini sudah pekerjaan saya," tolak wanita itu.
"Eits... jangan nolak ya. Kamu diam di sini. Biar mereka yang mengantar. Kamu kasih mereka list pesanan dan alamatnya!" Kayla memaksa.
Wanita itu memberikan listnya.
"Maaf Kak, saya menyusahkan." Wanita itu tidak enak kepada Li9 dan Alfa.
"Gak kok. Kita sebagai manusia wajib saling membantu." Alfa tersenyum menerima listnya.
"Yuk kita masuk!" Kayla menarik wanita itu.
Kayla merasa kasihan walau badannya agak gemuk tapi dia terlihat lemas dan wajahnya pun pucat. Kayla takut nanti terjadi sesuatu di jalan bila wanita ini terus bekerja.
"Nah, kamu duduk di sini. Lihat pizzanya banyak. Ayo makan dulu!"
Dengan canggung dan tak enak wanita itu mengambil pizza dan memakannya. Perutnya sangat lapar. Dia belum sempat makan dari pagi.
"Siapa namamu?" tanya Kayla sambil memakan pizza.
" Aku Violetta panggil aja Vio," jawab Vio sambil mengunyah. Kayla terkekeh melihat Vio. Pipinya bulat penuh dengan makanan.
__ADS_1
"Umur kamu berapa?" Kayla bertanya lagi.
"17 tahun Kak."
"Kamu sekolah di mana?"
"Aku sekolah di ...."
"Loh ada tamu?" Sultan datang bergabung.
"Kenalin Pah ini Vio, teman Kayla." Vio yang dikenalkan langsung menyimpan pizzanya dan menangkupkan kedua telapak tangan di depan dadanya.
Vio merasa hatinya menghangat ada yang menganggapnya teman. Selama ini ia selalu di ejek dan di jauhi karena badannya dan juga keadaan ekonominya.
"Vio ini Papah Kayla."
"Siang Om."
"Siang. Silahkan di lanjut makan pizzanya." Sultan mempersilahkan Kayla dan Vio makan pizza.
"Nih buat Papah." Kayla memberikan 1 slice untuk Papahnya.
"Terima kasih sayang." Sultan menerima pizza yang diberikan Kayla.
"Alfa dan Lionel ke mana? Tadi Papah ke kamar Alfa, gak ada?" tanya Sultan seraya memakan pizzanya.
"Lagi nganter pizza," jawab Kayla.
"Apa? Nganter pizza? Maksudnya?" Mendengar pertanyaan Sultan Vio merasa takut kalau Paphnya Kayla akan marah padanya karena membuat anaknya harus mengantar pizza. Sedangkan dia asyik makan pizza di sini.
"Maaf Om sebelumnya. Tapi semua karena saya ...." Belum selesai ia bicara. Kayla memotong pembicaraannya.
"Gini Pah, Kayla yang menyuruh Alfa dan Lion. Vio tadi mau pingsan terus wajahnya juga pucat. Kami takut nanti kalau dia pergi mengantar pizza, pingsan di jalan. Jadi Kayla suruh Alfa dan Lion. Biar Vio bisa istirahat dulu sambil isi energi." Kayla menjelaskannya kepada Sultan.
"Oh seperti itu. Papah paham sekarang."
"Maaf Om, saya gak akan ...."
"Tidak apa-apa Vio. Saya justru senang mereka mau menolong kamu. Artinya mereka perduli sesama. Sekarang kamu makan yang banyak biar cepat sehat." Sultan tersenyum.
Vio membalas senyuman Sultan, menampilkan dua lesung pipinya. Ia terlihat manis apalagi dengan memakai hijabnya.
"Sungguh baik keluarga ini. Semoga Allah selalu melindungi mereka dan diberikan kebahagiaan." Do'a Vio dalam hatinya.
...----------------...
__ADS_1