Berbagi Cinta : Dia Juga Suamiku

Berbagi Cinta : Dia Juga Suamiku
Bab 84 Keris


__ADS_3

Sultan sedang dalam perjalanan ke kantornya. Pak supir hera melihat bosnya senyum-senyum sendiri.


Sultan menyadari supir memperhatikannya lewat kaca tengah .


" Khem.." Sultan berdehem.


Sultan teringat tentang semalam di mana ia membuat Fathi tidak bisa bangun karena lelah. Fathi bahkan tidak sarapan bersama, dia masih tidur setelah sholat subuh.


Sultan sampai di kantornya, Di sambut Erik di depan pintu masuk. Ia turun dan langsung masuk berjalan menuju lift. Tidak boleh ada perempuan yang satu lift dengannya. Sultan sampai di ruangannya.


" Apa jadwal saya hari ini, mana David ?" Tanya Sultan tapi tidak ada jawaban.


" Erik !"


" Eh ..apa tuan ."


" Kamu kenapa ?"


" Gak apa-apa tuan. Saya cuma terkesima melihat tuan Sultan yang wajahnya tampak bersinar cerah hari ini."


" Wah.. bahaya ! Kamu jangan deket-dekat saya. Saya masih normal !"


" Ya ampun Pak . Saya juga normal. Saya cuma heran kenapa wajah Pak Sultan sangat berbeda hari ini lebih wow."


" Masa ? Pantes saja tadi dari pintu masuk sampai naik lift mereka semua memperhatikannya sampai ada yang nabrak. Ternyata terkesima denganku. " Sultan tersenyum jumawa.


" Apa yang membuat Tuan seperti itu ?"


" Hm.. rahasia. Saya bilang juga kamu gak akan bisa mempraktekannya !"


" Sembarangan tuan ini. Sebut saja rahasianya saya akan coba."


" Rahasianya adalah Cuci keris ."


" Hah..cuci keris ! buat apa ? Ritual ? Apa tuan memakai susuk ?"


" Haha... dasar perjaka ! Bukan pakai susuk, tapi ritual malam panas."


" Malam panas. Oh cuci kerisnya pake air panas."


" Ya ampun Erik ! Keris itu hanya kiasan ..kiasan ! Keris yang kumaksud ini." Sultan menunjuk ke bawah .


" Mana Tuan coba saya lihat ! Saya penasaran keris seperti apa yang tuan maksud ." Erik mendekati Sultan. Setelah ia berada di samping Sultan, ia melihat arah telunjuk Sultan.


" Di mana tuan? Dalam celana? Apa tidak mengganjal di taruh di situ ?"


Brak...


Sultan menggebrak meja dia gemas dengan Erik yang masih tidak mengerti maksudnya.


" Sudahlah lebih baik kau bekerja saja cepat !" Sultan bertetiak pada Erik .


" Baik Tuan." Erik menuruti perintah Sultan dia pergi tapi pandangannya tidak lepas dari celana Sultan


" Apa yang kamu lihat ?" Sultan menutupi celananya dengan tangan karena Erik terus menatapnya dengan tatapan penuh selidik.


" Tidak tuan . Aku hanya membayangkan di mana keris itu di simpan ? Aku penasaran ."

__ADS_1


" Astagfirullah Erik. Jangan bahas keris lagi. Kamu juga punya keris semua lelaki punya keris !"


" Tuan tahu saya punya keris? Tapi keris saya tidak pernah saya bawa ke mana-mana Tuan, selalu saya simpan di rumah. Tidak seperti Tuan yang di bawa ke tempat kerja."


" Baiklah Erik kamu mau lihat keris saya . Sini saya tunjukan." Sultan gemas dan sepertinya masalah keris ini tidak akan selesai sampai dia menunjukkannya pada Erik.


Erik mendekat. Sultan berdiri dan akan membuka celananya tapi dia melihat wajah Erik yang penasaran ia langsing bergidik. Ia urungkan niatnya.


" Ah..begini saja, sini ! Aku bisikkan kamu sesuatu !"


Erik mendekatkan wajahnya pada Sultan . Sultan berbisik di telinga Erik.


Tepat pada saat itu pintu terbuka. Orang itu terkejut melihat posisi mereka.


" Hah " Erik terkejut mendengar perkataan Sultan.


Berbeda dengan pria yang berdiri di pintu. Ia menganggap Reaksi Erik adalah *******, karena suara Erik yang pelan.


Sultan menjauhkan kepalanya, setelah selesai berbisik.


" Sudahkan. Sekarang kembali bekerja dan jangan bahas lagi masalah itu. Aku lelah kau selalu bahas keris. Sekarang kau sudah puas."


" Iya tuan terima kasih. " Erik kemudian berjalan ke pintu dan terkejut melihat David sekretaris Sultan yang baru.


" Hey. Ada apa David ? Kenapa diam di pintu ?"


" Hah..tidak apa-apa Pak.." David menggeser badannya memberi jalan pada Erik.


Erik berjalan melewatinya sambil tersenyum mengingat kekonyolannya dengan Sultan.


Setelah Erik keluar David masuk ke dalam.


" Iya terima kasih Dav."


" Baik Tuan , permisi ." David kembali ke mejanya.


Ia duduk dan berpikir. " Pantas saja tuan Sultan tidak mau dekat -dekat perempuan dan seperti alergi pada perempuan ternyata dia sudah belok. Ih.. aku harus jaga jarak dengannya. Jangan sampai terjerat pesonanya." Gumam David.


" Pesona siapa?" Tanya Sultan yang sudah berada di sebelah David.


" khm..maaf Tuan. Itu pesona k- pop." Alasan David.


" Kamu saya panggil malah ngelamun. Ayo kita harus rapat."


" Iya Tuan. "


Mereka berjalan menuju lift.


***


Hani sedang mengerjakan tugasnya. Hasbi berada di dalam ruangan Ryan.


Ponsel Hani berdering. Hani mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelepon.


" Halo .. Assalamu'alaikum"


" Wa'alaikumsalam Han.. sibuk gak ?" Hani melihat layar untuk mengetahui siapa yang menelepon.

__ADS_1


" Rere , iya maaf tapi aku sangat sibuk sekarang !"


" Maaf, aku menggagumu tapi aku hanya ingin bilang nanti makan siang aku tunggu di kafe yang biasa kita bertemu yah . Udah itu saja, selamat bekerja . Assalamu'alaikum"


" Wa'alaikumsalam" Hani menutup telepon.


" Kenapa kau selalu memutuskan secara sepihak dan mendadak." Gumamnya.


Hani meletakkan ponselnya dan kembali bekerja.


Tak terasa ternyata sekarang sudah waktunya makan siang.


Hani akan makan di kafe tempat Rere menunggu. Dia pergi memakai gojek.


Sampainya di sana. Hani melihat Rere yang sedang bercanda dengan Abangnya. Benarkah abangnya tapi mereka terlihat mesra seperti sepasang kekasih. Hani mendekati mereka.


" Maaf aku terlambat , tadi gojeknya kehabisan bensin ." Hani tersenyum canggung.


" Iya gak apa-apa, kami juga baru kok. Nih Abang katanya mau mulai pendekatan sama lo. Karena lo sudah datang gue pergi ya..gak mau ganggu proses pdkt kalian."


" Kok.. lo gak usah pergi kali Re, sini aja ya. Temenin ."


" Gak mungkin lah , nanti kalian gak ngobrol-ngobrol kalau ada gue. Udah ya.. dah.." Rere pergi dari kafe.


Hani hanya diam saja dia merasa canggung.


" Khem.. kamu mau makan apa ?"


" Hah..oh , apa aja ."


" Ok..sebentar ya. Mas !"Abang Rere memanggil pelayan. Lalu dia menyebutkan pesanan nya.


" Kelihatannya kamu kurang nyaman, apa kamu gak suka makan sama saya."


" Gak ! bukan begitu. aku cuma canggung aja berdua sama orang yang gak aku kenal."


" Maka dari itu aku di sini supaya kita saling mengenal. Masa mau ta'aruf gak kenal satu sama lain."


Hani hanya tersenyum sekilas.


" hehehe..iya."


Pesanan mereka datang. Hani mulai makan dan mereka lumayan banyak ngobrol sambil makan.


" Kelihatannya aku harus segera ke kantor. sebentar lagi ada rapat. "


" Ok ! Ayo saya antar.."


" Tidak usah terima kasih . Lebih cepat naik gojek. Jam sekarang jam macet. Kalau naik mobil lama. Saya duluan ya. Assalamu'alaikum."


" Wa'alaikumsalam." Hani pergi mendahului keluar kafe.


" Syukurlah kalau tidak mau di antar. Aku jadi banyak waktu dengan nya . Lebih baik aku menemuinya sekarang. " Gumam Abang Rere dan pergi dari kafe.


...----------------...


Author punya Rekomen cerita bagus untuk kalian. Baca ya ceritanya bagus.👇

__ADS_1



__ADS_2