Berbagi Cinta : Dia Juga Suamiku

Berbagi Cinta : Dia Juga Suamiku
Bab 38


__ADS_3

Amih tercenung tak dapat menjawab pertanyaan Apih. Lebih tepatnya tidak mau. Ia langsung pergi hendak meninggalkan Apih.


“ Apa ini karena masa lalumu. Saat kau menjadi yang istri kedua. Di mana kamu saat itu terabaikan. Mantan mertuamu lebih sayang pada istri pertamanya. Mantan suamimu juga lebih perhatian padanya. Sampai lahir Hasbi kau berharap dapat perhatian lebih. Dan harapanmu terkabul. Tapi sayang dia juga hamil. Hanya sesaat kau bahagia dan diabaikan kembali. Akhirnya kau menyerah dan memilih bercerai. Kau dendam pada istri pertama mantan suamimu, dan kau melampiaskannya pada Fathi. Apakah aku benar? “ Amih terpaku di tempat.


Ingatannya kembali ke masa lalu membuat emosinya memuncak. Ia kepalkan tangan meremas gamisnya. Amih tidak menjawab dan terus berlalu masuk ke kamar.


***


Sementara di rumah Hasbi saat ini sedang makan malam. “ Bagaimana Mas, enak masakan aku?” Kemala bertanya dengan wajah cemas. Takut kalau masakannya tidak sesuai dengan lidah Hasbi.


“ Enak .” Hasbi tersenyum lalu melanjutkan makannya. Fathi bernafas lega


.


“ Syukurlah Mas... Aku sudah takut tidak sesuai dengan seleramu.”


“ Memang bagaimana seleraku ?” Tanya Hasbi terkekeh.


“ Ya masakan Kak Fathi.” Mala merutuki diri sendiri kenapa dia membawa -bawa nama Fathi. Inikan waktu mereka jangan diingatkan tentang Fathi.


“ Masakan Fathi memang tak ada duanya. Tapi bukan berarti Mas tidak bisa makan yang lain. Asal tidak beracun dan bikin kenyang pasti Mas makan kok.” Tutur Hasbi.


“ Iya..Mas . Syukurlah.” Mala kikuk sendiri.


“ Mas sudah selesai. Mas ke ruang kerja dulu ya. Mau mengerjakan beberapa hal. Kamu kalau sudah mengantuk, tidur saja duluan .” Hasbi beranjak ke ruang kerjanya.


Kemala membereskan bekas makan mereka. Dia menaruh piring kotor di wastafel cuci piring. Biar besok di cuci oleh ART. Ia mematikan lampu dapurnya, dan pergi ke kamarnya. Jam dinding kamarnya menunjukkan jam 7 malam. Isya saja belum. Bagaimana bisa dia tidur. Akhirnya Mala keluar kamar menuju ruang keluarga dan menonton Tv


Mulanya Mala menonton dengan serius. Lama-lama matanya menjadi sayu dan terpejam.


Besok adalah hari Senin. Hari yang sibuk untuk Hasbi. Banyak rapat dan pertemuan penting. Dia juga sedang menyusun jadwal Bosnya. Hasbi menggeliat kan badannya. Ia melihat jam tangannya ternyata sudah jam 10 malam. Astagfirullah ia belum sholat Isya. Kalau di rumah Fathi, ia pasti sudah diingatkan Fathi begitu selesai azan.


“ Sedang apa ya Fathi sekarang ? Sudah tidur belum ya ? Aku mau telepon takut ganggu. Tapi coba aja deh. Siapa tahu belum tidur .” batin Hasbi.


Hasbi mengambil ponselnya dan menelepon Fathi. Deringan pertama belum dijawab, deringan kedua masih belum.


“ Mungkin dia sudah tidur. Lebih baik aku tutup saja takutnya membangunkan. Batinnya.

__ADS_1


Begitu akan ditutup terdengar suara di seberang sana.


“ Halo Assalamu’alaikum. Ada apa Mas?”


“ Wa’alaikumsalam, kamu sudah tidur? “


“ Belum mas. Baru mau. Mas juga belum tidur?”


“ Belum. Baru selesai ngurus berkas.”


“ Mas, sudah sholat ?”


“ Belum Fath. Mas lupa, keasikan kerja tidak terasa sudah jam 10.


“ Ya sudah Sekarang Mas cepat sholat terus tidur.”


“ Iya Fath. Kamu juga tidur. Jangan lupa kunci semua pintu dan jendela. Matikan kompor dan lampu. Selamat tidur dan bermimpi indah . Assalamu’alaikum.” Hasbi memutuskan sambungan telepon.


Hasbi merapikan semua pekerjaannya dan di masukkan ke dalam tas kerjanya. Ia lalu mematikan lampu dan keluar.


Sementara di rumah Fathi. Ia sedang berbaring di samping Kayla. Fathi tidak bisa tidur. Ia mengingat peristiwa di Ragunan tadi. Bagaimana bahagianya mereka jalan-jalan tanpa mengerti perasaannya. Dan tentang pria misterius tadi. Siapa dia? Fathi melamun menatap langit-langit. Perlahan matanya terpejam.


***


Sinar Matahari mengintip dari jendela kamar Fathi. Suara burung sudah ramai berkicau. Si empunya kamar tetap betah memejamkan mata di peraduan. Memeluk buah hati yang terasa hangat. Suara ketokan pintu perlahan membuatnya terusik. Ia membuka mata dan melihat jam. “Astaga sudah jam setengah 7” Gumamnya.


Fathi bangun dan ke kamar mandi. Setelah itu, ia membuka pintu kamar ada Mbok Jum.


“ Maaf Non...Saya mau ijin ke pasar beli bahan makanan sudah banyak yang habis.”


“ Iya Mbok..maaf saya habis sholat subuh saya tertidur lagi. Ini uangnya sama daftar belanjaan yang harus di beli Mbok. Nanti kalau keluar kunci pintu lagi Mbok .Saya mau sholat dulu.”


“ Iya Non. “


Fathi menutup pintu kamarnya. Ia bersiap sholat Isrok di lanjut sholat Duha.


***

__ADS_1


Hari berganti kini sudah hari Sabtu. Selama Hasbi di rumah Mala, sampai hari ini baru 1 kali Hasbi meneleponnya di malam itu. Ia bahkan tidak mencoba Video Call dengan anaknya. Fathi maklum saja. Biarkan Hasbi menikmati kebersamaannya dengan Kamala. Ia sudah ada Kayla yang menemani dan menghibur hatinya. Fathi juga masih sering bermimpi hal yang sama. Dan ia tidak pernah bisa melihat wajah pria itu.


Ia sudah mengambil keputusan dan akan mengatakannya pada Hasbi begitu ia pulang. Ponsel Fathi berbunyi ada panggilan masuk. Tertera nama My Hubby. Fathi mengangkatnya.


“ Assalamu’alaikum Mas.”


“ Wa’alaikumsalam. Fathi bagaimana kalau besok kita ke Ancol? Kamu masak lagi yang banyak seperti waktu itu !” Fathi memutar bola matanya malas.


“ Dan semuanya akan seperti waktu itu. Batinnya.


“ Maaf mas boleh aku absen dulu kali ini. Kalian saja yang pergi.”


“ Kenapa Fathi? Kamu sakit?


“ Sepertinya begitu.”


“ Baiklah. Kalau kamu memang tidak bisa lebih baik acaranya di batalkan .”


“ Terserah Mas saja !”


“ Istirahat yang banyak, Makan yang banyak biar cepat sembuh. Sudah ya Mas tutup teleponnya. Assalamu’alaikum. “


“ Wa’alaikumsalam.” Fathi menutup teleponnya.


Kayla terbangun mendengar suara Fathi. Kayla minta digendong. Fathi membawanya ke kamar mandi untuk dimandikan.


10 menit kemudian Kayla sudah tampil cantik dan segar.


Fathi membawanya ke dapur untuk mengambil makan buat Kayla. Ia akan menyuapi Kayla di taman belakang rumahnya sekalian berjemur. Ia menyuapi Kayla sampai makanannya habis.


Berbeda dengan di rumah Hasbi. Mala sedang sarapan sendiri. Sebab Hasbi sudah berangkat pagi sekali takut terjebak macet. Mala memberinya bekal untuk sarapan.


Rumah terasa sangat sepi. Andai ada Kayla di sini. Haruskah dia membujuk Hasbi agar Kayla bisa tinggal di rumah ini. Kalau memang tidak bisa dipisahkan dari Fathi sekalian saja Fathi tinggal lagi di sini.


" Besok kan hari Minggu, waktu kita jalan-jalan. Aku akan bujuk Kak Fathi agar mau tinggal di sini lagi." Gumam Mala.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2