Berbagi Cinta : Dia Juga Suamiku

Berbagi Cinta : Dia Juga Suamiku
Bab 33. Bercerai ?


__ADS_3

Ini adalah sarapan pertama mereka di rumah baru. Dan mereka kedatangan tamu istimewa. Amih dan Apih sedang menikmati sarapan. Fathi sedang menyuapi Kayla. Hasbi selalu melirik ke Amih . Ada apa Amih ke sini pagi-pagi sekali? Bukannya dia tidak senang ada orangtua yang mengunjunginya tapi ia yakin ini pasti ada hubungannya dengan kepindahan dia dan Fathi.


" Setelah makan Amih ingin bicara dengan kalian ." Tutur Amih di sela makannya tanpa melihat pada Feli dan Hasbi.


" Iya Mih..." Saut Hasbi.


Saat ini mereka semua sedang berada di ruang keluarga. Fathi duduk berdampingan dengan Hasbi. Amih dengan Apih.


" Hasbi kenapa kamu gak bilang sama Amih sebelumnya, kalau kamu mau pindah dan pisah rumah dengan Mala?" Tanya Amih.


" Maaf Amih Hasbi pikir ini masalah keluarga Hasbi. Hasbi rasa Hasbi tidak perlu ijin dari siapapun."


" Bukan begitu . Setidaknya kalau kamu bilang, Amih bisa memberikan pandangan Amih untuk menjadi bahan pertimbangan kamu sebelum mengambil keputusan."


" Maaf , bukan kami tidak menganggap pendapat Amih tidak penting. Melainkan karena kami tidak ingin masalah keluarga kami menjadi beban buat Amih dan Apih." Sela Fathi.


" Masalah anak bukan beban untuk orang tuanya. Kalian tidak ingin menjadi beban bagi Amih dan Apih tapi kalian memberi beban untuk wanita yang rapuh dan sebatang kara." Sarkas Amih.


" Amih, maaf Hasbi harus ke kantor sekarang. Nanti ada rapat penting." Hasbi sudah terlambat. Ia juga ingin menghindar dari pertanyaan Amih yang membuatnya pusing.


Fathi cemberut pada Hasbi. Karena ditinggalkan sendirian dengan Amih. Ia yakin Amih akan memojokkanya. Hasbi pamit dan mencium tangan kedua orang tuanya.


Begitu Mobil Hasbi sudah meninggalkan perkarangan, Amih mengajak Fathi ke ruang makan. Apih tetap di ruang keluarga dan menonton Tv. Ia tidak ingin ikut campur dengan masalah menantunya. Amih kembali bertanya pada Fathi.

__ADS_1


" Apa maksudmu meminta pisah rumah pada Hasbi?"


" Aku hanya ingin menjalani pernikahan seperti orang lain. Bisa bermanja dengan suami di rumah, tidak menyaksikan perhatian suami untuk wanita lain. Itu saja."


" Tapi Mala bukan wanita lain dia juga istri Hasbi. Wajar kalau memang Hasbi perhatian padanya!" Ketus Amih.


" Aku juga sadar dia istri mas Hasbi, juga wajar kalau mas Hasbi perhatian padanya. Tapi aku cemburu dan sakit hati kalau tiap hari selalu menyaksikan itu. Aku yakin Mala juga merasakan yang sama saat mas Hasbi perhatian padaku. Bahkan saat Mas Hasbi berdua denganku Kami selalu di ganggu Mala. Karena itu untuk menjaga hatiku agar lebih tidak terluka ,lebih baik kami tinggal terpisah. Walaupun Hasbi akan tinggal bergantian. Setidaknya saat bersamaku ia hanya akan jadi milikku sehingga aku lupa kalau aku sudah di madu. Apa aku salah Amih ?"


" Kau berusaha melindungi hatimu dari luka itu tidak salah. Tapi salahnya adalah lau memisahkan Kayla dan Mala." Tutur Amih. Fathi mendelik tidak percaya Amih bisa berkata seperti itu.


" Maksud Amih, aku yang harus berpisah dengan Kayla begitu? Sedangkan aku adalah ibu kandungnya."


" Maksud Amih, kamu dan Kayla jangan pisah rumah. Kalian tinggal satu atap jadi kalian bisa sama-sama membesarkan Kayla. Tidak ada istilah ibu kandung dan ibu tiri. Kalian berdua adalah ibunya Kayla. Kalian tidak harus ribut siapa yang mengasuh Kayla."


Amih mengambil nafas panjang dan menghembuskannya." Fathi inilah resiko poligami kita harus rela berbagi cinta dan perhatian suami.Hasbi bukan milikmu seorang tapi juga Mala. Walaupun Hasbi belum cinta tapi ia bertanggung jawabemperhatikan istrinya. Hasbi punya kewajiban kepada Mala seperti kewajiban dia padamu. Harusnya kamu tidak perlu cemburu sebab kamu tahu kalau Hasbi hanya mencintaimu. Dia hanya menjalani kewajibannya pada Mala. Kamu lebih beruntung Fathi. Kamu mendapat cinta Hasbi sepenuhnya."


" Buat apa cinta sepenuhnya tapi di duakan. Beruntung? Beruntung apanya, mana ada di poligami beruntung. Pokoknya aku tidak mau lagi tinggal satu rumah dengan mereka." Batin Fathi.


" Jadi Amih pikir dipoligami itu suatu keberuntungan begitu? Kenapa Amih tidak minta dipoligami sama Apih kalau begitu. Jadi Amih juga bisa beruntung." Sarkas Fathi. Ia tahu ia sudah lancang dan bersikap tidak sopan pada mertuanya. Emosi sudah membuatnya tidak perduli akan hal itu.


" Fathi ! Kamu berani berkata seperti itu pada Amih !" Murka Amih.


" Maaf Amih. Aku hanya ingin agar Amih mengerti situasi yang ku hadapi dan merasakan sakitnya perasaanku." Fathi berkata denga rasa menyesal tapi juga tegas.

__ADS_1


" Amih mengerti . Perempuan mana yang mau di madu dan di duakan? Tidak ada Fathi.Tapi jika takdirnya digariskan demikian kita bisa apa selain menerimanya Daripada kita bersedih menangisi takdir. Buatlah pernikahan poligami itu menjadi pernikahan yang harmonis dan langgeng sakidah, mawadah dan warohmah."


" Lagi pula kau sudah mengizinkan Hasbi untuk menikah lagi bukan? Tanya Amih.


" Aku tidak mengizinkannya karena Hasbi tidak pernah meminta izin padaku. Aku menerimanya karena seperti yang Amih bilang aku bisa apa jika takdirku seperti ini.Coba Amih bayangkan. Aku baru sadar dari komaku setelah melahirkan. Bukannya kebahagiaan yang kudapat tapi berita mengejutkan bahwa suamiku sudah menikah lagi. Kalau Amih jadi aku apa yang akan Amih lakukan ?"


" Bercerai. Amih akan meminta cerai pada suami Amih. Itu yang Amih lakukan. Tapi kau memilih menerima dan menjalani semuanya. Apa ada yang memaksamu? Tidak, semua atas keputusanmu sendiri. Jadi jangan mengeluh, ini resiko dari keputusanmu."


" Amih sudah selesai bicaranya. Ayo kita pulang. Apih harus pergi !" Teriak Apih dari dalam . Fathi dan Amih berada di ruang makan.


" Iya pih udah !" Jawab Amih teriak di dapur. "Fathi Amih harus pulang. Lain kali kita bicarakan lagi. Pikirkan ucapan Amih. Lebih baik kalian tinggal satu rumah lagi dengan Mala." Amih lalu pamit pergi pada Fathi.


Fathi mengantar mereka sampai mobil.


" Fathi Apih pulang dulu. Hati-hati di rumah ." Pesan Apih


" Iya Apih ."


" Assalamu'alaikum."


" Wa'alailumsalam ." Jawab Fathi.


Fathi masuk ke dalam setelah mobil Apih tidak terlihat. Ia duduk di kursi ruang tamu. Ia tak bisa berhenti memikirkan jawaban Amih tadi atas pertanyaannya. Bercerai haruskah dia bercerai dengan Hasbi? Apakah semua sakit yang dirasakannya adalah kesalahannya dalam memutuskan hidup yang dijalaninya. Ia sudah tahu tesiko dari pilihannya tapi dia tetap menerima poligami ini. Amih benar ini bukan salah siapapun. Ini adalah salahnya sendiri, keputusannya sendiri. Lantas harus apa dia sekarang? Semua takdir ini adalah keputusannya sendiri. Jalan ini adalah keputusannya sendiri. Apa Allah akan memberikan takdir berbeda jika aku memilih jalan yang lain? Bisakah aku mengambil jalan itu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2