
Setelah kejadian itu Mala tidak ingin tidur sekamar dengan Hasbi. Ia minta pada Hasbi untuk tidur terpisah.
Hasbi tidak curiga apapun . Ia tidak keberatan jika Mala ingin tidur terpisah. Senyamannya dia aja.
Hari ini Mala masak nasi goreng untuk sarapan mereka.
" Terima kasih." Ucap Hasbi setelah Mala memberikan piring berisi nasi goreng.
"Mala, Mas pakai mobil kamu dulu ya, mobil Mas sepertinya harus ke bengkel rem nya sudah tidak enak. "
" Iya Mas."
" Nanti Mas antar kamu dulu, terus nanti pulangnya Mas jemput di hotel."
" Tidak usah Mas, nanti aku berangkat sendiri aja, pulangnya juga . Banyak kok gojek atau mobil on line."
" Gak apa-apa, Mas anter aja."
" Ehm..anu..itu sebenarnya Mala tidak kerja lagi di hotel."
" Apa? Terus selama ini kamu kerja di mana?"
" Di kantor Reyhan."
" Reyhan mantan tunangan kamu?"
" Iya."
"Sudah berapa lama? "
" Kurang lebih hampir 4 bulan. "
" Apa? 4 bulan ? Dan kamu tidak pernah memberitahu aku. Apa kamu menganggap aku ini suamimu?"
" Apa Mas pernah menganggap aku ini istri Mas? Mas menikah denganku hanya di atas kertas. Tak pernah ada cinta untukku."
" Tapi aku bertanggung jawab padamu dan menafkahimu. "
" Ya.. benar ! selama ini hanya itu yang kamu lakukan, menafkahiku. Tapi bukan itu yang aku butuhkan. Kalau hanya nafkah aku juga bisa mencari. Yang aku butuhkan teman hidup, teman berbagi, tempat bersandar, suami yang mencintaiku, kalau kau ingin bertanggung jawab padaku lakukankah dengan sungguh-sungguh jangan setengah hati !"
" Sudah ku bilang dari awal padamu, satu yang tak bisa aku berikan padamu yaitu cinta. Jangan pernah berharap cinta dariku, kau tahu itu tidak mungkin. Jika maksudmu kau ingin hubungan suami istri...ayo ! kita ke kamar sekarang. Jika memang tidak masalah bagimu melakukannya tanpa cinta. "
" Mas !" Teriak Mala.
" Apa??" Hasbi menatap Mala dengan nyalang. Mala diam .
" Aku rasa lebih baik, aku berangkat sekarang." Lebih baik dia menghindar. Dia masih trauma kejadian itu.
" Kita bicarakan lagi nanti masalah kau bekerja di kantor Reyhan. " Ucap Hasbi. Lalu dia beranjak pergi.
Mala juga ikut pergi. Ia berangkat menggunakan mobilnya.
Setengah jam kemudian Mala sudah sampai di kantor. Ia bergegas masuk dan menuju meja kerjanya.
Mala menyalakan komputernya dan menyiapkan berkas-berkas. ia juga melihat jadwal Rey untuk hari ini.
Reyhan datang. Ia tersenyum pada Mala. Mala segera berdiri.
__ADS_1
" Selamat pagi Pak."
" Selamat pagi Mal."
Rey masuk ke dalam kantornya. Mala segera mengambil berkas dan buku jadwal.
" Maaf Pak..ini berkas yang kemarin bapak minta. Dan saya akan bacakan jadwal bapak hari ini." Mala membacakan jadwalnya sementara Rey membaca berkas itu.
" Baiklah Mal, terima kasih kamu boleh kembali ke meja kamu."
"Terima kasih pak. Permisi." Mala keluar dari ruangan Reyhan.
Setelah Mala keluar Rey menyender pada kursi kebesarannya. Ia teringat pada perkataan istrinya untuk mendekati Mala. Awalnya ia senang dengan rencana istrinya. Karena ia bisa kembali dengan orang yang dia cintai. Tapi ketika ingin mendekati Mala, ia justru teringat istrinya. Ia membayangkan istrinya yang menangis sendiri di kamar sambil memeluk anaknya. Rasanya ia tak sanggup untuk menduakan istrinya.
Reyhan sepertinya sudah merasa jatuh cinta pada istrinya. Sifatnya yang lembut, tidak egois dan selalu mementingkan kebahagiaannya membuatnya mudah dicintai.
Rey sudah membicarakan ini pada Ria istrinya. Bahwa dia hanya ingin bersamanya dan tidak akan mendekati Mala. Tapi Ria justru merajuk dan tidak mau bicara padanya.
Ia bingung membujuk Ria. Nanti siang ia akan makan di rumah dan kembali membujuk Ria. Rey membaca berkas kembali dan fokus bekerja.
Setelah selesai rapat.
" Mala aku akan pulang, tolong di atur ulang jadwal saya."
" Iya..Pak ."
Rey bergegas pulang. Setelah sampai di rumah ia langsung ke dapur tanpa bersuara. Ia ingin mengejutkan istrinya.
Ia melihat istrinya sedang menyajikan hidangan di meja. Ia lalu memeluknya dari kebelakang. Sejenak ia merasakan istrinya terkejut.
" Aku rindu sekali padamu." Bisiknya.
" Mas kok tumben udah pulang?" Tanya Ria.
" Iya kan aku kangen kamu." Rey melepaskan pelukannya dan mengelus perut Ria. Syukurlah istrinya tidak merajuk lagi.
" Bagaimana dengan si dd ini?"
" Alhamdulillah baik. Besok jadwal kita ke dokter."
" Iya sayang. Si Kakak mana ?"
" Lagi tidur."
" Oh.."
" Ayo Mas kita makan. Kebetulan banget aku masak kesukaanmu tadi."
" Wah..apakah kita sehati? Kamu tahu aku akan datang jadi sudah menyiapakan makan."
" Ini karena dede Mas. Aku tuh kaya mau masak kesukaan kamu dan pengen nyiapin makan. Kayanya si utun tahu kalau Papinya mau datang."
" Pinter sekali kamu nak. Terima kasih ya ." Rey mencium perut Ria.
Ria mengambilkan makanan untuk Rey lalu mengambil untuk dirinya. Mereka mulai makan.
" Mas tadi ketemu sama Mala?"
__ADS_1
" Ya ketemulah, dia kan sekretaris aku masa gak ketemu!"
" Terus Mas bilang apa?"
" Bilang selamat pagi dan terima kasih, kamu bisa kembali ke meja kamu."
" Ih Mas aku serius !"
" Udah makan dulu nanti aja ngobrolnya. Kasian dede pengen makan ."
Mereka kembali makan. Setelah selesai makan Rey mengajak Ria untuk ke tempat keluarga. Mereka duduk di sofa.
" Lucas tidur sama siapa?"
" Ada mbanya."
" Mas bagaimana kemajuan hubungan kamu sama Mala ?"
" Sayang, bisa gak berhenti bicara tentang Mala ? Aku tidak akan menuruti kemauan kamu !"
" Kenapa Mas, kita sudah bicarakan ini."
" Iya tapi Mas berubah pikiran. Mas gak sanggup untuk berbagi hati dan perhatian apalagi kamu sedang hamil. " Rey memberi pengertian.
" Tapi Mas kasian Mala." Ucap Ria.
" Kasian dengan Mala bukan berarti aku harus menikahinya. Merasa bersalah dan bertanggung jawab bukan berarti aku harus merelakan kebahgiaan orang yang ku cintai. Masih banyak cara lain untuk ku bertanggung jawab !" Ucap Rey tegas.
"Tapi Mas itu amanat Mamimu sebelum dia wafat." Ucap Ria.
" Mami mengatakan ingin aku menikahi Mala agar aku bahagia bukan, aku sudah sangat bahagia dengan istriku ini. Jadi aku tidak perlu lagi mencari kebahagiaan lain. "
" Tapi Mas kamu tahu dalam kelahiran kali ini aku.." Ria berkata dengan sendu.
" Ssst..jangan bicarakan itu. Umur adalah rahasia Tuhan. Bukan berarti karena dia dokter lantas dia tahu kapan kamu akan mati. Serahkan semua pada Nya. Kita lakukan saja yang terbaik yang buat kita bahagia. Kita nikmati saja saat ini jangan cemaskan masa depan yang belum tentu terjadi." Ucap Rey lembut.
" Tapi Mas aku takut jika aku pergi kau akan kerepotan mengurus 2 anak yang masih balita."
" Jika semua terjadi Tuhan akan memberi jalan keluar dan aku akan bisa mengatasi semua itu. Biarlah akan aku pikirkan bila itu sudah terjadi. Sekarang yang aku ingin lakukan adalah membahagiakan istri ku. Melakukan yang terbaik untuk kesehatan si kecil. Jadi kuminta stop bicara masalah pernikahan ku ya.. kita lakukan yang terbaik untuk keluarga kecil kita. "
" Mas...."
" Ssst..jangan khawatirkan apapun nikmati kebahagiaan saat ini. Nikmati kebersamaan kita. Kasihan Kakak dan dede kalau kamu sedih, mereka juga pasti bisa merasakannya." Reu mengusap perut Ria. "Rey benar si dede pasti bisa merasakannya." Batin Ria.
"Aku mencintaimu Ria ..sangat mencintaimu. " Ucap Rey tulus.
Rey memeluk Ria . Riapun memeluk Rey erat.
...----------------...
Halo readers maafkan author yang kemarin hanya up sekali. Kemarin author ke rumah orang tua dan sulit buat author nulis di sana . Gak bisa dapat ide.
Terima kasih ..untuk like dan komen juga hadiah dan vote nya❤❤
jangan lupa dukung author terus ya bia semangat buat up..😁
jangan lupa jaga kesehatan ya..
__ADS_1
💖💖💖 Love You All 💖💖💖