Berbagi Cinta : Dia Juga Suamiku

Berbagi Cinta : Dia Juga Suamiku
Bab 74


__ADS_3

Setelah mendengar apa yang Rey katakan Ria termenung.


" Ria..hey, Jangan suka melamun. Apa kau masih memikirkan masalah itu ?" Tanya Rey yang melihat Ria hanya diam.


" Sayang tolong jangan paksa Mas untuk menikah dengannya. Mas sudah bahagia dan tak ingin kehilangan kebahagiaan ini. Jika kau paksa, maka kamu telah merenggut kebahagiaan Mas dan anak -anak. Dengar, apa kamu pikir dengan poligami semua masalah selesai? Tidak Ria. Justru masalah besar akan timbul. Anak-anak akan membenciku karena mereka pikir aku berkhianat padamu, pandangan masayarakat padaku yang mekakukan poligami, mereka akan pikir aku lelaki tidak setia dan serakah.Lalu Hatimu yang pasti terluka melihat aku dan Mala. Hati Mala yang juga terluka melihat cinta dan perhatianku padamu. Dan aku ..aku pun akan merasa tersiksa karena merasa telah menyakitumu. Apa kamu lihat ada kebahagiaan dari semua itu?" Rey mencoba memberi gambaran jika berpoligami pada Ria.


Ria menatap Rey lekat. Rey benar tidak ada kebahagiaan dari yang Rey ceritakan. Justru terlihat menyedihkan mereka semua terluka.


Ria lalu menghambur memeluk Rey.


" Tidak Mas, aku tidak ingin hidup seperti itu. Terlihat menyedihkan Mas."


" Karena itu sayang. Sekarang kita nikmati saja kebersamaan kita dan ikhtiar mengobati sakit kamu, insyaallah semua yang ditakutkan dokter tidak akan terjadi. Mas akan lakukan apapun untuk kesembuhan kamu. Kamunya juga harus semangat dan yakin bahwa semua akan baik-baik saja kita akan bersama sampai tua.." Rey tersenyum dan mengecup Ria.


" Iya Mas...iya ..aku akan semangat menjalani pengobatan untuk kita." Ucap Ria sambil berurai air mata karena merasa terharu.


" Kalau perlu kita berobat ke luar negri ya.." Ria mengangguk .


***


Mala baru saja selesai makan siang dan kembali ke ruangannya.


Ia melihat jadwal Rey dan merubahnya seperti suruhan Rey.


Ia menelepon kolega Rey untuk mengatur ulang jadwal pertemuan mereka.


Beberapa jam berlalu sekarang pukul 4 sore. Pekerjaanya sudah selesai ia tinggal menunggu jam pulang. Rey benar-benar tidak kembali ke kantor. Mungkin ia sedang bersama istri dan anaknya. Mala bersyukur Rey bahagia. Dia sudah memaafkan Rey tak ada lagi rasa sakit hati pada Rey.


Mereka hanya sebatas bos dan sekretaris, dan mereka bekerja secara profesional.


Hasbi menelepon Mala memberitahu kalau dia sudah menunggu di bawah.


Mala segera membereskan mejanya dan turun ke bawah.


Ia melihat mobil Hasbi. Segera ia masuk ke dalam.


Setelah Mala memakai sabuk pengamannya, Hasbi lalu melajukan mobilnya.


" Mas kamu tumben pulang cepat ?"


" Aku izin dulu sebentar jemput kamu, kebetulan sedang senggang. Nanti aku ke kantor lagi." Ucap Hasbi.


"Oh..."


Tak ada percakapan lagi setelah itu. Sampai mereka sampai di rumah.


" Gak turun dulu Mas ?"


" Gak usah aku langsung ke kantor. "


" Tuh kan kamu pasti cape bolak balik. Udah ku bilang biar aku pulang sendiri."

__ADS_1


" Gak apa-apa, aku langsung berangkat ."


"Iya Mas." Mala lalu menutup pintu mobil. Hasbi pun melajukan mobilnya.


Setelah mobil Hasbi tak terlihat lagi. Ia masuk ke dalam.


***


Hasbi sudah sampai di kantor ia langsung menuju kantor Ryan. Tadi di jalan Ryan meneleponnya.


Hasbi langsung ke mejanya dan mengambil berkas yang ditanyakan Ryan.


" Permisi Pak, maaf ini berkasnya Pak."


" Kamu sudah menjemput istri kamu?"


" Sudah Pak. "


" Ya sudah , Ayo kita berangkat ke Bogor sekarang nanti macet di jalan. "


" Baik Pak."


Hasbi menjemput Mala karena ada kemungkinan Hasbi pulang malam. Ia ikut Ryan rapat di Bogor.


Mereka naik mobil masing-masing, karena setelah dari Bogor mereka akan langsung pulang ke rumah.


Sedangkan Mala setelah mandi ia langsung memasak untuk makan malam. lalu ada telepon dari Hasbi.


" Halo, Assalamu'alaikum Mal, Mas pulang malam ada rapat di Bogor Mas mendampingi Pak Ryan. " Ucap Hasbi begitu telepon di angkat.


" Ya udah Mas cuma mau bilang itu aja agar kamu tidak usah menunggu Mas. Assalamu'alaikum "


" Wa'alaikumsalam."


Sambungan pun terputus. Mala terlihat lesu. Padahal ia sudah memasak banyak untuk suaminya.


***


Mala sudah berpakaian rapi dan sedang menyajikan makanan di meja untuk sarapan.


Hasbi keluar kamar ia lalu menuju ruang makan dan duduk di meja.


" Pagi Mas."


" Pagi Mal."


Mala lalu mengambil nasi dan lauknya untuk Hasbi.


Mereka mulai sarapan.


" Mas, apakah kau yang sudah memindahkan aku ke kamar."

__ADS_1


" Iya..memang siapa lagi. Masa kamu pindah sendiri." Hasbi terkekeh. Mala tercenung baru kali ini Hasbi bicara seperti itu.


" Hehehe...iya Mas..makasih mas. Aku pikir aku tidur sambil berjalan."


" Aku kan sudah bilang tidak usah menungguku karena aku pulang malam. Kau keras kepala sekali."


" Aku ketiduran Mas..lagi nonton tv sambil menunggu kamu pulang."


" Lain kali jangan tidur malam, kamu juga bekerja, butuh istirahat."


" Iya Mas.."


" Oh..ya ,aku hampir lupa membahas masalah kamu kerja sama mantan tunangan kamu itu. Aku tidak masalah cuma aku kecewa karena kamh tidak izin dulu pada ku."


" Maaf Mas Mala mengaku salah. Waktu itu aku takut kamu tidak mengizinkan aku kerja lagi. Aku gak betah kerja di hotel Mas. Waktu itu aku bertemu Rey dan istrinya. Rey bilang sayang sekali kalau aku kerja di hotel sementara aku punya kemampuan lebih. Setelah kupikir-pikir benar kata Rey akhirnya aku mau menjadi sekretarisnya lagi."


" Apa? Kamu jadi sekretaris Rey ?"


" Iya Mas..Tenang saja Mas hubungan kami profesional. hanya bos dan sekretaris, tidak ada affair. "


" Semoga kamu bisa di percaya."


Hasbi menaruh sendok dan garpunya di atas piring. Ia lalu berdiri.


" Ayo kita berangkat. Mobil Mas belum di ambil di bengkel. Jadi kamu anter Mas ke bengkel sekarang. "


" Iya Mas, sebentar aku ambil tas dulu. " Mala bergegas mengambil tasnya.


***


Hasbi sedang berada di mejanya. Ia melihat jam tangan nya. Sudah jam 10. Ia beranjak ke pantry untuk membuat kopi.


Di pantry Hasbi bertemu Hani. Ia menatap Hani. Rupanya Hani masih menjaga jarak dengannya.


" Hani boleh kita bicara ?"


" Maaf Mas nanti saja saat makan siang, sekarang kita sedang banyak kerjaan." Hani lalu keluar dari pantry.


"Ada apa sebenarnya dengan wanita itu ?" Gumam Hasbi. Lalu ia membuat kopi dan pergi kembali ke mejanya.


Waktu terus bergulir, mereka larut dalam kesibukan pekerjaan mereka.


Tak terasa sudah waktunya makan siang. Hasbi mengajak Hani makan siang bareng. Mereka makan cuma di kantin kantor.


Setelah memesan mereka duduk. Hasbi mulai bicara pada Hani.


" Kenapa saya merasa kamu menghindar dari saya Hani ?"


" Maaf Pak saya tidak menghindar dari Bapak. Saya cuma tidak sempat memasak untuk bekal siang."


" Siapa yang membahas makan siang ? Oh ..jadi kamu tidak pernah membawa bekal dan makan di luar juga untuk menghindari saya?"

__ADS_1


" Eh..tidak Pak..bukan begitu." Hani menjadi salah tingkah ia merasa terjebak dengan pernyataannya sendiri. "


...----------------...


__ADS_2