
Fathi sudah sampai di rumah. Ia menemani Kayla di ruang keluarga.
" Assalamu'alaikum."
" Wa'alaikumsalam." Hasbi masuk langsung ke ruang keluarga. Fathi bangun dan mencium tangan Hasbi.
" Mas mau makan dulu?"
" Iya kita bicara sambil makan saja. Waktuku tidak banyak. Ayo !" Fathi menggendong Kayla dan ke dapur mengikuti Hasbi yang berjalan di depan.
Hasbi cuci tangan lalu setelah itu ia menggendong Kayla.
Fathi menyiapkan makan untuk suaminya. Hasbi lalu mendudukkan Kayla di bangku khusus untuk Kayla. Lalu ia duduk di samping Fathi. Mereka mulai makan.
" Fath.." Fathi mengalihkan tatapannya pada Hasbi.
" Kamu yakin dengan keputusan kamu ?"
" Yakin Mas."
" Kamu tidak mau memberi kesempatan pada Mas . Mas akan ceraikan Mala jika kamu memang tidak mau di madu. Mas mencintai kamu dan tidak ingin berpisah dari kamu Fath ."
" Mas, kita sudah bicarakan ini. Keputusanku tetap sama dan Mas tahu alasannya."
" Tapi Fath tidak berartikah bagi kamu semua hal yang telah kita lewati. Dari kita masih pacaran lalu menikah dan punya anak. Tidak berartikah aku bagimu?"
" Justru semua itu berarti bagiku. Aku ingat semua hal yang membahagiakan. Dan itu yang akan aku simpan karena itu sangat berati bagiku. Aku ingin membuang semua hal yang menyakitkan dan tak ingin lagi merasakannya." Fathi lalu menyuapi Kayla.
" Mas, aku harap Mas menerima semua dengan ikhlas." Lanjut Fathi.
" Fath, berat untuk Mas. Jujur saja Mas tak rela melepasmu dan membayangkan kamu bersanding dengan pria lain Mas sungguh tak rela. "
" Mas.. kamu membayangkannya tak rela, bagaimana aku yang sudah mengalami mas bersanding dengan yang lain."
" Maaf Fathi..Maafkan Mas. "
" Jika Mas mencintaiku tolong lepaskan aku."
" Apakah aku membuatmu menderita sehingga kau ingin bebas dariku?"
" Mas bayangkan saja aku menikah lagi dengan laki-laki lain dan Mas harus rela aku gilir. Mas harus melihat kemesraanku dengan suami keduaku."
__ADS_1
" Mas akan bunuh laki-laki itu." Fathi tersenyum miring.
" Percayalah Mas aku juga merasakan yang sama padamu. Berulang kali aku ingin mencakarmu dan wanita itu."
" Wah Kayla pintar ..makannya habis..." Fathi lalu melap mulut Kayla.
" Baiklah jika memang keputusanmu sudah bulat. aku ada permintaan terakhir."
" Apa itu Mas?"
" Kamu. Aku ingin kamu melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri. Aku ingin minta hak ku untuk terakhir kali !"
" Apa?? " Fathi tertegun haruskah dia melakukannya. Mereka akan berpisah. Mungkn tidak ada salahnya. Anggap saja kenang-kenangan terakhir.
" Baiklah aku setuju."
" Aku sudah ijin pada Bos ku. Aku tunggu kamu di kamar. " Hasbi beranjak bangun dan pergi ke kamar.
" Khem.." Fathi tak dapat berkata apapun.
Ia menggendong Kayla dan menitipkannya pada Mbok.
Kenapa ia gugup seperti mau malam pertama saja. Fathi berdiri terpaku di dekat pintu ia masih menunduk. Terlihat sepasang kaki mendekatinya. Lalu Fathi merasakan tangannya di genggam. Ia beranikan diri untuk menatap Hasbi.
Hasbi menuntunnya duduk di peraduan. Hasbi mengangkat wajah Fathi yang kembali tertunduk. Dibelainya pipi Fathi.
"Kamu selalu cantik." Di bukanya jilbab Fathi. Terlihat rambut hitam mengkilat sepinggang. Terasa lembut ketika dibelainya.
Hasbi mendekatkan wajahnya. Hanya kecupan yang Hasbi berikan. Lalu Hasbi berdiri dan membuka bajunya. Ia pun mengajak Fathi untuk berdiri. Ia memeluk Fathi dan di bukanya zipper baju belakang Fathi.
( Aduh Author gak sanggup.. jadi skip aja ya ...😁 biar mereka aja yang tahu author gak mau ngintip )
Hasbi merebahkan tubuhnya di samping Fathi dengan berbalut selimut dan nafas yang masih memburu Hasbi memeluk Fathi. Ia mencium kening Fathi.
" Terima kasih sayang ." Fathi merapatkan tubuhnya ia merasa nyaman dan hangat. Nafasnya masih terengah -engah. Biarlah ia merasakan kehangatan ini untuk terakhir kali. Ia tidak munafik ia juga menikmatinya dan akan merindukan sentuhan ini. didekatkan wajahnya pada dada Hasbi terdengar degup jantung yang cepat.
Dilihat jam dinding sudah jam 3 lebih. Mereka melakukannya selama 2 jam . Hasbi benar-benar gila. Tubuhnya dianggap guling. Di bolak balik, diangkat, bermacam gaya dilakukan Hasbi, tubuhnya seperti remuk.
Tok...tok...
Suara ketukan menyadarkan lamunan Fathi ia lalu melepaskan pelukan Hasbi. Hasbi mencium pundak Fathi yang putih mulus tidak tertutup apapun.
__ADS_1
Ia lalu berdiri dan memakai segitiga bermuda lalu memakai boxer. Fathi bangun dan bergegas ke kamar mandi dengan memakai baju gamisnya asal sampai terbalik.
Hasbi hanya tertawa. Ia lalu membuka pintu dengan telanjang dada.
" Jadi kamu di sini Mas !" Ternyata Mala yang ada didepan pintu bukan Mbok .
Hasbi keluar dan menutup pintu kamar. " Memangnya kenapa kalau aku di sini ? Ini juga rumahku . Rumah istriku !"
" Iya aku tahu ! Tapi kamu gak ke kantor. Tadi aku ke sana, kamu tidak ada."
" Ada apa kamu ke kantor ? Aku sudah bilang jangan pernah datang ke kantorku. "
" Kenapa gak boleh ?"
" Karena setelah kamu ke kantor. Mereka melihatku seperti aku ini penjahat. Seorang pengkhianat Menyakiti hati wanita sebaik Fathi. Sikap mereka sekarang berbeda. Kamu tahu. Aku sudah kehilangan harga diriku !"
" Dan apa itu salah aku ?"
" Iya salah kamu. Andai kamu tidak menolongku, andai ayahmu tidak menyuruh aku menikah denganmu. Aku menyesal dengan pernikahan ini. Pernikahan ini menghancurkan kebahagian keluargaku. Menyakiti orang yang aku cintai. Kau bukan menyelamatkan aku Mala. Tapi kau justru menghancurkan aku....Saat itu adalah awal penderitaanku ."
Plak...
Mala menampar Hasbi. Ia tak tahan mendengar ucapan Hasbi yang menyalahkannya, ia yakin itu adalah perasaan Hasbi selama ini. Hasbi menderita. Tapi Mala juga sama ia pun selalu berandai-andai . Andaikan saat itu ia tidak menolong Hasbi. Andaikan ayah tidak menyuruhnya menikah dengan Hasbi yang sudah beristri. Andai ia punya keberanian untuk menolak .
Jika kata "seandainya "dapat merubah takdir. Tapi tidak mungkin bukan. Semua telah terjadi. Ia hanya bisa menjalani takdirnya. Di anggap pelakor, sudah sering ia dengar, bahkan suaminya pun menganggap dia perusak kebahagiaan keluarga kecilnya. Sakit sungguh sakit.
Mala langsung berlari ke luar. Ia masuk ke dalam mobilnya dan menangis. Mengeluarkan bebannya.
Fathi mendengar pertengkaran itu. Ia berdiri di bekakang pintu. Semula Fathi ingin mengambil baju salin tapi ia tertarik dengan suara keributan didepan pintu.
Lihat kan, benar bukan tidak ada yang bahagia dengan pernikahan ini. Semua terluka. Hasbi pun sama. Andai Hasbi tidak terikat janji dan tidak mempunyai hutang budi pasti ia akan pertahankan pernikahannya.
Fathi bergegas ke kamar mandi setelah tidak mendengar suara apapun.
Ceklek....
Hasbi membuka pintu. Ia masuk ke dalam dan berjalan gontai ke arah tempat tidur. Ia duduk di pinggirnya. Ia merasa menyesal telah berkata seperti itu pada Mala.
Seharusnya ia bisa lebih mengontrol ucapannya. Itulah mengapa lebih baik kita diam ketika marah karena kita tak dapat mengontrol perkataan yang keluar ketika kita emosi, menimbulkan penyesalan setelahnya.
...----------------...
__ADS_1