
" Idenya adalah berbicara dari hati ke hati denganmu ." Rey dan Hasbi duduk berdampingan.
" Dan sekarang kita sedang berbicara." Ucap Hasbi
" No..ini baru pembukaan. Begini Hasbi, aku minta maaf sebelumnya. Bukan maksud aku untuk ikut campur masalah keluargamu. Tapi aku hanya ingin memberi masukan menurut pengalamanku. "
" Yah pengalaman meninggalkan tunangan yang sedang terpuruk ." Sarkas Hasbi seraya tersenyum miring.
" Yah kamu benar, dan aku merasa bersalah seumur hidupku. Bahkan ibuku juga. Sampai sebelum nafas terakhirnya ia pesan padaku untuk sampaikan permintaan maafnya pada Mala. Dan kalau bisa aku kembali pada Mala dan buat dia bahagia." Pandangan Rey fokus ke depan.
" Hasbi, Mala itu sebenarnya baik. Kami sekeluarga sangat menyayangi Mala. Kami mengenalnya sejak kecil. Dia sangat terpuruk begitu kehilangan ibunya. Mami lah yang mendekati dan memberi Mala semangat. Mala menganggap Mami adalah pengganti ibunya. Mami mendekatkan aku dengan Mala. Aku memang mencintainya jadi ketika Mami memberi lampu hijau aku menembaknya. Kita pacaran lalu tunangan bahkan kami sudah menyiapkan rencana pernikahan. Tapi terjadi sesuatu yang tak pernah diduga. Mami bahkan sangat terkejut. Di satu sisi dia sangat menyayangi Mala di sisi lain dia ingin keturunan. Mami dilema dan akhirnya memutuskan untuk menikahkan aku dengan wanita lain." Rey terus bercerita
" Tapi tak ada kebahagiaan di hati Mami. Dia bahkan menangis saat pernikahanku. Yang dia ingat cuma Mala. Mami sampai sakit." Hasbi hanya diam mendengarkan Rey.
" Awalnya aku dan istriku tidak saling mencintai. Aku bahkan selalu membayangkan Mala. Aku rindu padanya tapi malu bertemu dengannya. Aku merasa bersalah telah meninggalkannya, Aku terlalu larut dalam penyesalan sampai Istriku terabaikan." Rey teringat bagaimana dia dulu memperlakukan Ria.
" Rupanya Papi memperhatikanku dia memanggilku dan mengatakan, bahwa sekarang aku sudah menikah dan mempunyai tanggung jawab untuk membahagiakan istriku. Tanggung jawabku bukan hanya pada istriku tapi juga pada Allah yang menjadi saksi janjiku. "
" Aku berdosa jika mengabaikannya. Kewajibanku adalah membahagiakan istriku bukan hanya memenuhi kebutuhan fisiknya tapi juga hati. Jika belum bisa memberinya cinta setidaknya sayangi dia dan perlakukan layaknya istri seutuhnya. Itulah yang dikatakan Ayahku."
" Aku ikuti kata Ayahku. Dan aku belajar buka hati untuk istriku, mendekatinya dan mengenalinya lebih dalam. Dan kau tahu Hasbi istilah tak kenal maka tak sayang itu benar adanya. Semakin aku mengenalnya aku semakin mencintainya. Kini anakku sudah mau dua." Rey tersenyum di akhir ceritanya.
" Maksudku Hasbi. Terimalah ini semua sebagai takdirmu. Kau yang memutuskan untuk menikahi Mala. Tanggung jawablah dengan keputusanmu sendiri. Coba buka hatimu untuknya, dia hanya sebatang kara tak ada sandaran dan teman berbagi. Jadilah suami yang sesungguhnya dan tempat bersandar di kala dia lelah. Kau akan bersamanya seumur hidup, lantas apakah kau akan seperti ini seumur hidupmu... tidak bahagia? Mengapa tidak kau buat hidupmu bahagia. Kalau masalah anak kau bisa adopsi di panti asuhan. Di sana banyak anak yang terabaikan dan butuh kasih sayang orang tua. Kalian bisa saling melengkapi dan memberi kasih sayang. "
Hasbi terdiam dan menatap Mala yang terlihat dari taman.
" Mas..sini..!" Ria memanggil Rey.
" Ayo kita ke sana !" Ajak Rey.
Hasbi berdiri dan mengikuti langkah Rey.
__ADS_1
" Mas Hasbi ayo kita pulang sudah malam, Raka juga sudah ngantuk mau tidur ya." Bayi berumur 1 tahun itu hanya memeluk ibunya.
" Ayo kita pulang. Pak Rey terima kasih undangannya sangat menyenangkan, kami pamit pulang. Lain kali kami undang kalian makan malam." Ucap Hasbi.
" Ya kami tunggu undangannya. "
Mala dan Hasbi pamit pulang. Dalam perjalanan tak ada yang berbicara masing-masing larut dalam pikirannya.
BRAK....Ciiiiit.
Hasbi terkejut ketika truk di depannya menabrak sesuatu. Hasbi tidak tahu apa yang di tabraknya karena tidak terlihat. Dan truk itu kabur. Suasana malam dan jalanan yang memang sepi membuat tidak ada orang yang melihatnya.
Hasbi dan Mala turun untuk melihat korban. Ada dua orang yang terkapar di atas aspal.
" Mala telepon ambulan !" Mala segera menelepon ambulan. Dan Hasbi menelepon polisi.
" Tolong...tolong." Suara rintihan terdengar dari korban perempuan.
Mala yang berada di dekat korban mendengar rintihannya dan memdekati korban itu.
" Ibu..ibu..hey..ibu jangan tidur, nanti bagaimana dengan anak ibu. Bertahanlah bu, anak ibu akan lahir sebentar lagi. Ibu jangan tidur atau anak ibu akan mati." Mala teriak di akhir kalimatnya agar ibu itu bangun. Bisa bahaya kalau ibu itu pingsan.
Si ibu korban kecelakaan itu membuka matanya. Ia menangis. Ia harus berjuang untuk anaknya agar anaknya dapat dilahirkan dan hidup walau dia harus menahan rasa sakit yang tidak tertahan, Bagaikan pisau mengiris perutnya. Rasanya lebih baik mati daripada merasakan ini. Ia berdo'a kepada Allah agar diberi kekuatan agar anaknya selamat dan dapat dilahirkan. Dia memohon pada Nya agar di beri waktu sebentar lagi. Setelah itu ia akan menyusul suaminya pergi.
NGUING..NGUING....
Suara ambulance terdengar. Mala merasa lega. Polisi juga datang .
Petugas kesehatan memeriksa Korban pria yang ternyata suami Ibu hamil itu.
" innalillahi dia sudah meninggal."
__ADS_1
" Innalillahi.." Ucap semua.
Satu petugas melihat korban wanita. Dia memeriksanya.
" Ibu ini akan melahirkan harus segera di bawa ke rumah sakit. "
Satu ambulance segera membawa ibu hamil ke rumah sakit. Di kawal mobil polisi. Mala ikut dengan ambulance itu. Hasbi akan menyusul dengan mengikuti ambulance lain yang membawa jenazah korban laki-laki.
Mala menunggu di luar IGD dia tidak boleh masuk. Dokter meminta tanda tangan Mala untuk operasi ibu hamil itu.
Polisi juga menanyai kronologis kejadian. Sebagai bukti perkataanya ada kamera di dashboard mobil.
Hasbi baru datang dan dia juga di mintai keterangan.
Polisi mencari identitas korban dan berusaha mencari keluarganya.
Malam semakin larut. Tapi mereka masih di rumah sakit.
" Dua jam sudah tapi dokter belum keluar. " Ucap Mala.
" Mala lebih baik kau pulang. Kau harus istirahat dan lihat bajumu banyak noda darah."
" Tidak..aku tidak akan tenang di rumah. Aku ingat pesan Ibu itu, bahkan dia bilang agar aku menyayangi anaknya, dan nama anak itu adalah Lionel Satria. "
" Apa? Dia menitipkan anaknya padamu?"
" Iya Mas. Aku harap bayi nya selamat. "
Dan disinilah dia. Diruangan bayi-bayi yang baru dilahirkan. Mala melihat bayi itu dari balak kaca.
Air matanya menetes ia merasa kasihan pada bayi itu yang menjadi yatim piatu begitu dilahirkan. Hidupnya hanya sebatang kara seperti dirinya.
__ADS_1
Jika Hasbi mengizinkan, ia ingin merawat bayi itu. Dan memberinya kasih sayang sehingga bayi itu tidak akan pernah merasa kalau dia sebatang kara.
...----------------...