Berbagi Cinta : Dia Juga Suamiku

Berbagi Cinta : Dia Juga Suamiku
Bab 53


__ADS_3

Hari terus berlalu. Sudah seminggu lebih Hasbi tidak bertemu dengan Fathi dan Kayla, ia merindukan mereka.


Hari ini hari senin ia benar -benar sibuk di kantor. Ia ingin pulang cepat dan bertemu Fathi juga Kayla. Ia melihat jam tangannya sudah pukul 3 sore.


" Maaf Pak Hasbi ini ada surat." Hasbi melihat Mang Ujang.


" Surat buat siapa dan dari siapa?"


" Gak tahu saya Pak. Saya cuma di suruh orang resepsionis kasih ini ke Pak Hasbi. Permisi pak saya mau bersih-bersih dulu ."


" Oh iya Mang Ujang silahkan . Terima kasih suratnya. "


" Iya pak sama-sama." Mang Ujang pergi ke pantry.


Hasbi melihat surat itu. "Pengadilan agama." Gumamnya membaca amplop surat itu.


" Untukku." Hasbi melihat namanya tertera di depan Amplop. Ia kemudian membuka amplop tersebut.


Setelah membacanya Hasbi melipatnya kembali. Ternyata sidang perceraiannya sudah di depan mata. Besok ia harus menghadiri persidangan pertamanya.


Hasbi menyimpan surat itu dalam tasnya. Kemudian ia melanjutkan pekerjaannya.


Tak terasa kini sudah waktunya pulang. Pak Ryan sudah pulang 1 jam yang lalu. Hasbi masih di kantor untuk menyelesaikan beberapa hal karena besok ia akan izin. Maka sekarang ia selesaikan pekerjaan untuk besok.


Jam 7 Hasbi pulang ke rumah Mala. Sampai di depan rumahnya ia melihat mobil Amih. Ada apa Amih malam-malam ke sini.


Hasbi berjalan masuk.


"Assalamu'alaikum." Salam dari Hasbi mengalihkan perhatian mereka yang sedang menonton.


" Wa'alaikumsalam." Mala segera menghampiri Hasbi dan mencium tangannya. Hasbi lalu menghampiri Amih dan mencium tangannya.


" Kenapa baru pulang?" Tanya Amih.


" Tadi Hasbi lembur, banyak pekerjaan yang belum selesai." Ucap Hasbi . Ingin Hasbi menanyakan kenapa Amih ada di sini malam-malam, tapi takut menyinggung perasaan Amih.


" Tadi Amih ke rumah Fathi tapi tidak orang . Amih menunggu lama di sana tapi Fathi tidak pulang-pulang. Ke mana dia, apa kamu tahu ?" Amih bertanya pada Hasbi membuat Hasbi salah tingkah. Haruskah ia cerita pada Amih dan Mala sekarang. Amih memperhatikan tingkah Hasbi. Sepertinya telah terjadi sesuatu, pikir Amih.


" Mala tolong, Mas minta minum Teh manis hangat !" Hasbi memutuskan untuk menceritakan semuanya. Ia duduk dan meminta minum pada Mala. Hasbi mengambil nafas panjang.


" Amih sebenarnya Fathi sudah tidak tinggal disitu lagi. "


" Apa ? Lalu dia tinggal di mana ? Dan kenapa pindah ?"


" Amih jangan potong dulu cerita Hasbi. Dengarkan dulu !"


" Iya..iya..Cepat ceritakan ada apa sebenarnya?"


" Sebenarnya Fathi sudah pindah ke rumah..."


" Ini Mas teh nya. " Mala datang menyela perkataan Hasbi.


" Terima kasih." Hasbi meminum tehnya dulu. Amih sudah tidak sabar.

__ADS_1


" Hasbi cepat ceritanya !"


" Iya Amih. Jadi... Fathi sebenarnya sudah 1 minggu pindah ke rumah Bunda. "


" Apa? Ke rumah bunda ! kenapa?"


" Amih, jangan potong dulu cerita Hasbi, ini Hasbi mau cerita alasannya !"


" Maaf...maaf sok teruskan ."


" Iya Fathi sudah pindah sekitar seminggu yang lalu. Karena Fathi meminta cerai pada Hasbi. Dan besok adalah sidang pertama kami di pengadilan agama."


" Kenapa kamu tidak bilang pada Amih, kalau Fathi menuntut cerai? Harusnya kau cerita pada Amih, agar Amih bisa membujuk Fathi untuk tidak bercerai dengan kamu. Sekarang bahkan sudah mau sidang. Mungkin terlambat membujuk Fathi." Amih terkejut mendengar kabar itu. Hasbi pasti merasa sedih. Pantas saja dia selalu terlihat murung. Amih harus melakukan sesuatu.


" Hasbi tidak ingin membebani Amih. "


" Mas..kalau Kak Fathi meminta cerai, lalu bagaimana dengan Kayla. Dia ikut dengan Mas kan?" Sela Mala. Begitu mendengar Fathi meminta cerai yang Mala pikirkan adalah Kayla. Dia takut Fathi akan membawa Kayla.


"Kayla akan ikut dengan Fathi. Ia menuntut hak asuh Kayla. Mengingat umur Kayla yang baru 1 tahun lebih. Pengadilan sepertinya akan mengabulkan permintaan Fathi."


" Tidak Mas, tidak boleh ! Mas harus pertahankan Kayla . Jika dia ikut dengan Fathi lalu bagaimana dengan kamu papahnya? Kamu tidak akan bisa menemuinya. Aku juga tidak bisa menemui anakku."


" Fathi bilang aku bisa menemuinya kapanpun. Rumah Fathi selalu terbuka untuk papahnya Kayla. "


" Lalu aku ? Kenapa hanya papahnya? Apa aku tidak boleh menemuinya? Aku juga ibunya Kayla."


" Sudahlah Mal, Fathi memang lebih berhak. Aku tidak mau merebut kebahagiaannya. Sudah cukup aku menyakitinya."


" Itu Artinya rumahmu akan sepi selamanya. Kau tidak akan lagi bisa mendapat anak karena Mala yang tidak bisa hamil. Anakmu cuma satu, Kayla. Jika Kayla pergi maka kamu tidak punya anak lagi. Dan Amih tidak punya cucu lagi. Tidak...ini tidak boleh. Amih akan bujuk Fathi agar mencabut gugatan itu." Amih segera pergi.


" Tidak Amih.. sekarang sudah malam. Tidak enak bertamu malam-malam. Apalagi membahas ini didepan orang tua Fathi."


" Sekarang belum terlalu malam , baru jam setengah delapan. Sudah kamu diam saja. Amih tidak mau kehilangan cucu Amih !"


" Amih tunggu ! Mala ikut ." Mala bergegas menyusul Amih. Dia tidak ingin kehilangan Kayla.


" Hasbi memijit pelipisnya . Ia sangat lelah. Inilah yang dia takutkan jika dia cerita pada Amih. Hasbi tidak berniat menyusul mereka. Biarlah Fathi juga pasti bisa mengatasinya. Dia sudah terlalu lelah. Perutnya juga lapar. Hasbi ke dapur dan makan sendiri. Ia membayangkan hidup tanpa Fathi dan Kayla pasti sepi. Selamanya ia akan hidup berdua dengan Mala. Amih benar anaknya cuma satu dan dia tidak akan bisa punya anak lagi. Kecuali Hasbi menikah lagi dengan wanita lain. Hasbi menyingkirkan pikiran gila yang baru saja terlintas. Ah pikiran orang yang putus asa memang aneh . Apakah Amih akan mengusulkan itu? Agar Hasbi punya anak dan Amih punya cucu.Ia harus bagaimana jika demikian ? Apakah dia akan setuju ? Karena sejujurnya dia juga mendambakan punya anak banyak. Rumah ini akan ramai dengan suara anak kecil. Astagfirullah pikirannya semakin ngawur. Sidang pertama saja baru mau di gelar, sudah membayangkan menikah lagi. Hasbi segera menyelesaikan makannya dan ke kamar untuk mandi ,sholat, lalu tidur.


Amih sampai di rumah Bu Siti. Ibunya Fathi.


Kini mereka sedang duduk di ruang tamu. Pemilik rumah terkejut melihat tamu yang datang adalah Amih dan Mala .


" Sebentar ya Bu Najwa. Bunda Fathi sedang memanggil Fathi." Ucap Ayah pada Amih.


" Iya Pak ."


5 menit kemudian. Fathi muncul bersama Bunda.


" Maaf Bu, lama. Tadi Fathi sedang sholat isya." Ucap Bunda seraya tersenyum.


Bunda duduk di samping Ayah. Fathi duduk di samping Bunda.


" Langsung saja, karena ini sudah malam. Kedatangan saya sekarang untuk menemui Fathi. Amih ingin tahu kenapa kamu meminta cerai pada Hasbi ? Amih harap kamu mencabut gugatan itu ." Amih langsung to the poin.

__ADS_1


" Amih maaf. Fathi sudah membicarakan ini dengan Mas Hasbi. Alasannya Fathi rasa tidak usah disebutkan juga Amih pasti paham. Dan keputusan fathi sudah bulat. Fathi tidak akan mencabut gugatan itu !"


" Tapi Fathi tidak bisakah kau pikirkan sekali lagi ! Demi Kayla . Agar dia tidak jadi anak yang broken home. Terpisah dari ayahnya. Coba kamu bayangkan Fathi . Andai kamu jadi dia, bagaimana perasaan kamu tidak bisa bersama Ayahmu. Merasa iri jika yang lain pergi bersama Ayahnya kamu hanya bisa bersama ibumu . "


Fathi melirik ayah dan ibunya. Amih berusaha mempengaruhi Fathi.


" Maaf Amih. Keputusan Fathi sudah bulat." Fathi hampir saja terpengaruh ucapan Amih. Untunglah dia ingat bahwa keputusan ini adalah hasil dari sholatnya. Ia percaya Allah akan memberikan yang terbaik.


" Kamu memang keras kepala !" Ucap Amih sedikit teriak.


" Maaf Bu Najwa ! Jangan bicara kasar pada anak saya !" Bunda tidak terima. Ia menegur Amih.


" Baiklah kalau kau bersikeras bercerai dari Hasbi. Berikan Kayla pada Hasbi. Maka Kayla akan punya orang tua lengkap ada papah dan sosok ibu baginya. Tidak hanya di asuh oleh single parent." Sarkas Amih


" Maaf tapi saya ibu kandungnya, saya lebih berhak. Saya tidak akan biarkan Kayla di asuh oleh orang lain." Fathi tidak gentar.


" Saya bukan orang lain. Saya istri Hasbi. Berarti saya juga ibunya Kayla. Saya yang merawat dia dari kecil. Saya menyayanginya seperti anak saya sendiri. " Mala tidak terima di sebut orang lain.


" Memang kamu yang merawatnya selama saya koma 6 bulan setelah melahirkan Kayla. Terima kasih. Tapi itu bukan berarti kamu berhak mengambil anak saya. " kalimat Fathi menohok Mala.


" Sudah..sudah..maaf Bu Najwa lebih baik Ibu dan Mala pulang. Tidak enak dengan tetangga. Sudah malam ribut-ribut." Ucap Ayah Fathi menengahi situasi yang memanas.


" Ok ! saya pulang. Dengar Fathi saya akan berusaha merebut Kayla dari kamu. Saya sudah minta baik-baik. Tapi kamu tetap ngotot. Kayla adalah cucu saya satu-satunya. Saya akan perjuangkan hak asuh Kayla. Permisi ...Assalamu'alaikum." Amih dan Mala langsung pergi.


" Wa'alaikumsalam." Ucap Fathi dan orang tuanya. Biar bagaimanapun salam harus di jawab.


"Mertua kamu kelihatannya marah sekali." Ucap Ayah.


" Mantan Ayah..mantan..!" Fathi berkata dengan ketus. Bukan kepada Ayahnya tapi ia ingat Amih saat mengucapkannya.


" Kan belum ketuk palu. Berarti masih mertua dong !"


" Calon mantan mertua !" Bunda ikut menimpali.


...***...


Akhirnya hari ini sidang pertama di gelar. Fathi datang bersama Resty. Hasbi datang juga di dampingi pengacaranya. Sidang ini memberi arahan untuk adanya perdamaian. Fathi menolak perdamaian itu. Sebenarnya Hasbi ingin adanya perdamaian tapi begitu ia melirik Fathi. Ia melihat wajah permohonan Fathi untuk menolak perdamaian. Akhirnya Hasbi tidak punya pilihan lain selain menolak perdamaian.


...----------------...


Halo semua. Assalamu'alaikum. Apa kabar hari ini ?


Terima kasih sudah membaca cerita author. Maaf masih banyak typo.


Terima kasih like, kome, dan hadiahnya 😍😍 Fathi juga bilang terima kasih do'anya 😁.


Kata Fathi jangan lupa hadiah dan vote nya untuk author. Biar author semangat nulisnya 😁.


Fathi terharu karena kalian begitu mendukungnya 😘😘😘😘 terima kasih.. kawal terus Fathi sampai Fathi menemukan kebahagiaannya ya.


Cerita ini tidak akan ada tanpa readers setia


❀❀Love you All❀❀

__ADS_1


__ADS_2