
Pagi hari jam menunjukkan pukul 6.30 Amih sudah menyajikan berbagai macam hidangan di meja. Ia mengetuk pintu kamar Hasbi. Tumben Hasbi belum keluar kamar . Apakah dia tidak bekerja?
Tidak ada jawaban dari Hasbi. Amih mencoba sekali lagi.
Tok...Tok....Tok...
" Hasbi..Kamu gak kerja sudah siang. Hasbi..." Amih terus mengetuk dan berteriak tapi tidak ada jawaban.
" Ish.. nih anak kenapa sih ?" Amih kesal sendiri.
" Ya sudah terserah. Kalau kesiangan kerja jangan salahkan Amih !" Amih akhirnya pergi. Suaminya juga akan bekerja. Ia harus menemani suaminya sarapan.
" Belum bangun Hasbinya Mih ? "
" Belum Pih ."
" Kita sarapan saja duluan. Nanti Apih kesiangan." Ucap Amih.
Selesai sarapan Apih langsung berangkat kerja.
"Apih berangkat ya Mih. Jangan terlalu banyak bertanya pada Hasbi.Dia sengaja pulang untuk menenangkan dirinya. Biarkan dia tenang . " Nasehat Apih.
" Iya..Pih.."
Setelah Apih pergi, Amih kembali ke ruang makan.
" Bi.. Makanannya tolong bereskan saja. Hasbi mungkin belum bangun. Nanti kalau dia sudah bangun, tolong disiapkan makanannya."
"Baik Bu."
Amih lalu beranjak ke ruang keluarga. Ia menonton Tv. Semalam Amih sudah menelepon Mala dan Fathi. Memberi tahu kalau Hasbi ada di rumah Amih. Agar mereka tidak cemas. Dan Amih juga melarang mereka untuk datang.
Hasbi sebenarnya sudah bangun namun ia malas keluar. Semalaman ia merenung apa yang harus dilakukannya. Ia punya waktu dua hari untuk menyelesaikan semuanya. Masalah ini harus beres sebelum ia kembali bekerja agar tidak mengganggu pekerjaannya.
Pertama yang harus di lakukan adalah bertemu dengan Fathi dan membicarakan semuanya sampai tuntas. Ia akan membujuk Fathi untuk membatalkan niatnya. Ya ia harus ke rumah Fathi sekarang. Ia tidak boleh menghindar lagi dan mengulur waktu.
Jam 8 Hasbi mandi. Ia kemudian berpakaian santai. Ia keluar kamar langsung mencari Amih. Hasbi melihat Amih sedang menonton Tv.
" Pagi Mih."
" Pagi sayang . Kamu tidak kerja Bi ?" Kata Amih seraya menautkan alis.
" Hasbi cuti dulu Mih."
__ADS_1
" Oh.. Pantas kamu bangun siang."
" Mih ..Hasbi pergi dulu ." Kata Hasbi sambil mencium tangan Amih.
" Ha.. pergi ke mana ? Kamu gak sarapan dulu ?" Amih bertanya pada Hasbi.
" Gak mih nanti saja di rumah Fathi. Hasbi mau ke sana sekarang. Assalalamu'alaikum."
" Wa'alaikumsalam."
" Tuh anak ada masalah apa sebenernya sampai minta cuti segala. " gumam Amih pelan .
Hasbi pergi mengendarai mobilnya. Sejam kemudian ia sampai ke rumah Fathi.
" Assalamu'alaikum ,"
" Wa'alaikumsalam." Fathi membuka pintu.
" Mas Hasbi !" Fathi terkejut melibat Hasbi ada di depan rumahnya pagi-pagi. Fathi segera mencium tangan Hasbi.
" Amih semalam telepon, katanya Mas Hasbi menginap di sana." Kata Fathi.
" Iya semalam aku menginap di sana. Aku lembur sampai jam 9 malam."
" Mas sudah sarapan ?"
" Belum Fath, aku sengaja mau sarapan di sini."
" Ya udah , hayu kita langsung ke dapur aja. Aku juga belum sarapan Mas ." Fathi dan Hasbi pergi ke ruang makan.
Fathi menyiapkan hidangan untuk Hasbi. Ia kemudian duduk di samping Hasbi.
" Kayla mana ?" Hasbi tak melihat Kayla.
" Kayla ada di kamar bersama Mbok ."
Hasbi tidak bersuara lagi. Ia hanya makan. Fathi juga bingung mau bicara apa. Jadi Ia hanya fokus makan saja.
" Alhamdulillah.. Aku ke kamar dulu mau ketemu Kayla." Ucap Hasbi.
" Iya Mas. Fathi membereskan ini dulu. " Fathi menyimpan piring kotor di wastafel.
" Sudah Bu biar saya saja. Ibu dipanggil Bapak." Ucap Mbok yang baru datang.
__ADS_1
" Iya Mbok... makasih Mbok ya."
Fathi pergi ke kamar. Ia melihat Hasbi sedang menjadi kuda. Kayla naik di punggung Hasbi.
" Kayla .. senang ya, main sama Papah. " Fathi mendekati mereka dan menjaga di sisi Hasbi agar Kayla tidak jatuh.
" Papapa... uda." Kayla tertawa.
" Iya Papah jadi kuda. Lama-lama encok pinggang Papah." Fathi dan Kayla tertawa.
" Kayla udah yuk . Kita main gambar.. nulis yuk. Kasihan Papah."
Kayla mau mengikuti Fathi ia turun dan duduk manis di atas matras. Fathi mengeluarkan buku gambar dan pensil warna Kayla. Kayla mencoret-coret buku gambar.
" Fathi, ada yang Mas ingin bicarakan sama kamu."
" Hah..Iya Mas, sebentar aku titip Kayla dulu sama Mbok."
Fathi keluar kamar, ia menitipkan Kayla pada Mbok.
5 menit kemudian Fathi masuk kembali ke kamar dan menutup pintu.
" Mau bicara apa Mas ?" Tanya Fathi sambil berjalan mendekat.
" Sini duduk ." Hasbi menarik tangan Fathi untuk duduk di sampingnya.
" Mengenai permintaan mu. Mas sudah pikirkan matang-matang . Tidak akan ada perceraian di antara kita. Kamu tahu Aku mencintaimu. Jika memang ada perceraian itu adalah antara aku dan Mala. Ayolah Fath kita coba sekali lagi berjuang membangun rumah tangga kita. Kita buka lembaran baru. Tanpa poligami tanpa Mala. Hanya aku kamu dan Kayla keluarga kecil yang bahagia." Ucap Hasbi dengan penuh harap kalau Fathi setuju dengan keinginannya.
" Benarkah Mas ? Bisakah kamu menceraikan Mala dan terlepas dari perasaan bersalah pada Mala? Mas akan meninggalkannya sendiri. Mala hanya sebatang kara. Ia juga tidak bisa punya anak. Mungkin akan susah baginya untuk mendapat jodoh dengan kondisinya. Mas yakin bisa menghilangkan Mala dari pikiran Mas dan tidak perduli keadaannya? " Hasbi terdiam .
" Fathi tidak mau nanti setelah Mas bercerai dengan Mala lalu kita membuat lembaran baru. Tapi Mas dihantui rasa bersalah dan tetap menghubungi Mala atau menemuinya secara diam-diam. Fathi kenal Mas. Mas adalah orang yang tidak pernah tenang kalau punya hutang budi. Mas juga orang yang bertanggung jawab dan selalu menepati janji. Tapi janji Mas pada almarhum ayah Mala lebih memberatkan dari pada janji apapun termasuk janji Mas pada Fathi. Mas akan merasa bersalah seumur hidup Mas, jika Mas menceraikan Mala. Yakin Mas bisa ? Karena Fathi ingin setelah kita memutuskan memulai lembaran baru, buang semua kisah tentang Mala. Tidak ada lagi nama Mala di hati dan pikiran Mas juga di hidup kita. Anggap kita tidak pernah mengenalnya. "
Hasbi mendengarkan Fathi. Ia bertanya pada dirinya sendiri. Sanggupkah ia menceraikan Mala. Bukan karena ia mencintai Mala. Tapi ia teringat janjinya pada Ayah Mala. Ia juga merasa keadaan Mala saat ini adalah karenanya. Maka sudah kewajiban Hasbi untuk menjaga dan mendampingi Mala. Fathi benar jika ia menceraikan Mala maka ia akan dihantui rasa bersalah seumur hidupnya. Kecuali jika Mala memiliki pendamping lain dan bahagia bersamanya. Haruskah ia carikan Mala jodoh.
" Bagaimana jika kita mencarikan Mala pria yang mencintai Mala apa adanya. Kita jodohkan dia." Fathi mendelik tidak percaya.
" Apa Mas gila. Aku sudah bilang setelah bercerai dengannya aku tidak mau Mas ada hubungan apapun dengan Mala. Bahkan sampai mencarikan Mala jodoh. Yang ada dia akan merasa tersinggung Mas !"
" Ok..ok.. Begini saja setelah Mas bercerai dengan Mala, izinkan Mas untuk tetap memantau keadaanya sampai dia menemukan laki-laki yang dicintainya dan bahagia bersama laki-laki itu. Mas baru akan melepaskan dia sepenuhnya. Ini adalah bentuk tanggung jawab Mas Fathi."
Fathi tersenyum dan memegang tangan Hasbi. " Mas sudah Fathi bilang kamu tidak akan bisa lepas dari Mala dan tidak akan pernah bisa menceraikannya. Rasa tanggung jawabmu menutupi cintamu padaku. Jadi Mas tidak berpikir apa yang Mas lakukan akan menyakitiku yang penting kau tetap bisa bertanggung jawab pada Mala. Mas, jalan yang terbaik adalah melepaskan aku. Biarkan aku pergi dari hidupmu dan mengurangi bebanmu . Fokuslah pada Mala Mas. Bahagiakan dia, dan biarkan aku mencari kebahagiaanku sendiri." Fathi berkata dengan lembut. Tidak ada nada kesedihan di sana . Karena Fathi sudah yakin bahagianya bukan bersama Hasbi. Sampai di sini jodohnya bersama Hasbi. Alhamdulillah Allah memudahkan dan meringankan perasaannya. Ia sudah ikhlas atas takdir Allah. Tugasnya kini adalah memberi pengertian kepada Hasbi.
...----------------...
__ADS_1