
Hari ini Alfa akan menghadapi ujian kenaikan kelas. Dia sedang di kantin, belajar sambil ngemil.
"Al, tuh Vio!" ucap Daniel seraya menunjuk seseorang.
Alfa melihat orang yang di tunjuk Daniel. Violet terlihat sedang membantu ibu kantin melayani pembeli. Alfa sungguh kagum pada Violet, bukan hanya kagum sebenarnya, tetapi sudah menaruh hati. Namun, semua hanya dia pendam.
Bukan tidak berani menembak Violet, tetapi karena dia merasa belum waktunya untuk menjalin cinta dan memiliki hubungan. Dia ingin ketika siap langsung melamar Vio dan menikah, bukan hanya pacaran.
Alfa hanya bisa berdoa semoga Vio adalah jodohnya. Dia sudah mulai belajar berbisnis pada Papahnya juga Lion. Alfa bahkan membeli kos-kosan mahasiswa dekat kampus dengan uang tabungannya.
Alfa dapat kabar kos itu dijual dari temannya yang memang kos di tempat itu. Kos-kosan itu terdiri 20 pintu dan selalu full. Tempatnya juga strategis karena itu Alfa membelinya.
Lumayanlah lima tahun sudah balik modal. Alfa juga bekerja part time di kantor Papahnya, dan kadang membantu Lion di kafe.
Alfa semangat bekerja melihat Vio serta Lion. Dia juga tidak mau kalah. Untuk saat ini cukup mengagumi dan menjaga Vio dari jauh.
"Woy, dilihatin doang! Samperin sana!" Daniel mengejutkan Alfa.
"Belum waktunya," ucap Alfa dan kembali membaca buku.
"Kepala gue udah pusing ngapalin rumus, lo betah amat baca."
"Gue bukan elo, otak lo kan cuma ram dua."
"Anjir, Al rese banget lo."
"Sana gih otak lo di lem biru, sama yang ram empat."
"Lo kira otak gue apa? Gak usah di lem biru Al, tuker tambah sama punya lo aja."
__ADS_1
"Lo obral juga gak bakal ada yang mau?"
"Terus Al! Terus aja bully gue!"
Alfa terkekeh, entah kenapa dia suka sekali menggoda Daniel. Hiburan tersendiri baginya melihat Daniel BT.
"Al, Kak Lion kapan tunuangannya?"
"Sebentar lagi, yang pasti lo gak akan di undang."
"Jahat banget si lo Al!"
"Bersihin!" Teriakan itu menggema ke seluruh area kantin. Alfa yang mendengarnya segera melihat ke arah suara.
Violet sedang berdiri berhadapan dengan Kakak kelas, Intan namanya.
"Saya tidak salah. Yang salah itu Kakak. Kakak berjalan membawa makanan sambil bercanda. Kakak yang nabrak saya."
"Dari awal aku sudah berdiri di sini. Semua juga tahu, Kakak juga tahu. Mata Kakak buta kalau Kakak gak lihat badan segede saya."
"Kamu!" Tangan Intan bersiap menampar Vio.
Semua mata membelalak melihat apa yang terjadi. Tangan Alfa memegang tangan Intan dan menepisnya dengan kasar.
"Jangan berani main tangan. Semua tahu Kakak yang salah. Kenapa Kakak masih ngotot!" Sorot mata Alfa menatap tajam Intan.
"Harusnya Kakak yang minta maaf! Tidak lihat pakaian dia yang kotor karena ulah Kakak!"
"Kamu tidak usah ikut campur!"
__ADS_1
"Saya berhak ikut campur, karena dia teman saya."
"Cih, berteman sama orang gendut dan miskin seperti dia! Gak salah?"
"Gak ada yang salah. Sikap Kakak yang salah! Suka merendahkan orang lain. Bukankah sejak kecil, orang tua dan guru selalu mengajarkan untuk saling menghargai?"
"Gak usah ya kamu mengajari saya. Saya ini senior kamu!"
"Ada apa ini?" tanya Rio.
"Ini nih, ada junior kurang ajar ngajarin seniornya," jawab Intan ketus.
"Al, ada apa?"
"Tanya aja tuh sama dia."
"Nih, Al."
"Makasih, Niel."
"Nih, Vi. Ganti baju kamu."
"Makasih Al, Niel." Violetta pergi ke toilet untuk berganti baju.
"Awas kalian!" Intan pergi dari kantin.
"Dah yuk kita makan lagi, masih ada waktu istirahat."
"Lo aja dulauan Gue ada perlu sebentar." Alfa pun pergi. Dia khawatir pada Vio, karena Intan sepertinya juga pergi ke toilet.
__ADS_1
...----------------...