Berjuang Atau Menyerah

Berjuang Atau Menyerah
Episode 100


__ADS_3

... "Meski tidak ada yang bisa kembali dan membuat awal yang baru, siapa pun dapat memulai dari sekarang dan membuat akhir yang benar-benar baru." - Carl Bard...


"Bukan seperti itu, ini makanan-Nya enak banget loh. Maka-Nya papi tanya, siapa yang masak makanan ini," ucap papi Erlena menjelaskan agar tidak ada yang salah paham. Erlena yang mendengarkan ucapan papi nya raut wajah-Nya kembali menjadi ceria.


"Nggak mungkin bibi, bibi saja lagi pulang kampung pi. Jadi Lena lah yang memasak ini semua," ucap mami Erlena.


Mendengar ucapan dari istri-Nya, lagi-lagi papi Erlena merasa terkejut dan kagum secara bersamaan kepada Erlena.


"Belajar dari mana kamu Len? Ini enak banget masakan-Nya. Papi selama ini nggak pernah lihat kamu belajar memasak?" tanya papi Erlena penasaran begitu pula dengan mami Erlena.


"Dari YouTube dong," jawab Erlena santai dan merasa bangga atas pujian dari papi nya.


"Selama di Jerman, Lena kalau bosan nggak ada kerjaan. Baru ngisi waktu luang dengan cara belajar memasak kan lumayan belajar menjadi ibu rumah tangga nanti," sambung Erlena sambil tersenyum lebar.


"Ya sudah, mari kita makan terlebih dahulu. Nggak enak nih didepan makanan. Nanti kita sambung lagi cerita-Nya dan ada hal penting yang harus papi kasih tahu ke kamu Len," ucap papi Erlena kepada Erlena.


Mereka kembali melanjutkan makan malam mereka dalam keheningan tanpa tanya jawab lagi seperti tadi. Sekarang hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang sedang beradu dengan piring.


SKIP.


Di ruang keluarga terdapat Erlena bersama kedua orang tua-Nya, mereka sedang duduk sambil berbincang-bincang.


"Papi dengar-dengar Vano mau pulang ke sini dan menetap di sini benar nggak sih? Vano-Nya juga sudah sekolah di sini benar kan?" tanya papi Erlena.


"Iya pi, orang tua-Nya Vano mau menetap di sini dan kalau Vano sekolah di sini, Lena tak tahu tentang itu dan tidak mau tahu tentang soal Vano," jawab Erlena singkat.


"Wah... Asyik tuh jadi mami ada teman kalau papimu sedang bekerja di kantor. Sampai-sampai kalah sudah sibuk dengan pekerjaan-Nya di meja kerja sudah mana mau lagi peduli sama mami," Ucap mami Erlena sambil bertepuk tangan sambil menatap remeh ke arah papi Erlena.


"Idih, kan aku juga sibuk bekerja untuk kalian semua, yang pakai uang-Nya juga kalian berdua," ucap papi Erlena sambil memutarkan kedua bola mata-Nya.


"Apa lu, itu kan emang kewajiban lu untuk mencari nafkah keluarga-Nya sendiri jadi jangan ngeluh dong?" tanya mami Erlena sambil berkacak pinggang pinggang.

__ADS_1


"Apa, orang aku kasih tahu yang benar kok, apa mau apa?" tantang papi Erlena sambil berkacak pinggang.


"Cih, malam ini jangan harap kamu tidur di kamarku. Tidur di luar sana bila perlu tidur di sofa tuh lebih luas dan nyaman!" Titah mami Erlena sambil menunjukkan ke arah sofa dengan jari telunjuk-Nya.


"Ahh..... Jangan atuh mi, papi cuman bercanda doang," ucap papi Erlena dengan pupy eyes-Nya.


"Kenapa tuh mata? Kelilipan? kayak anjing saja," umpat mami Erlena sambil menoleh ke arah samping.


"Astagfirullah, suami-Nya di bilang anjing lagi. Tobat, tobat. Ya Gusti, punya istri galak amat!" Teriak papi Erlena sambil mengusap wajah-Nya dengan kasar.


"Apa sih? Kamu tuh teriak-teriak kayak monyet saja yang nggak di kasih makan! Sudah malam tahu!" Sungut mami Erlena sambil mendelikkan mata-Nya.


"Kamu sekolah di universitas Indonesia, papi sudah daftarkan kamu di sana. Jadi tinggal masuk saja," ucap papi Erlena langsung pergi dari ruang keluarga.


"Dih, gini amat gue punya keluarga, tetapi seru juga ya ha-ha-ha," ucap Erlena yang di akhiri tawa-Nya.


Tralala Lala tralala Lala.


Jam weker sudah menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit. Akan tetapi seorang gadis yang sudah berumur sembilan belas tahun masih tertidur pulas dibawah selimut-Nya.


"Ten minutes mi," ucap Erlena.


"Lena! Cepatan kata-Nya mau masuk kuliah hari ini," ucap mami Erlena sambil menampar bokong Erlena.


Plak.


"Aduh sakit tahu mi, coba pakai perasaan," ringis Erlena sambil mengelus-elus bokong cantik-Nya.


"Emang jam berapa sih sekarang mi?" tanya Erlena dengan suara serak khas baru bangun tidur.


"Sudah jam enam lewat dua puluh menit, kenapa hah," jawab mami Erlena.

__ADS_1


"Fu*k, Sudah jam enam lewat dua puluh menit! Lena bisa telat dong mi," teriak Erlena panik.


"Di jaga tuh mulut, jangan ngomong kasar," peringat mami Erlena sambil menggeleng-gelengkan kepala-Nya.


"Iya-iya mi," patuh Erlena.


"Nggak janji," ucap Erlena di dalam hati-Nya.


"Ya sudah, kamu mandi sana! Ini baju kuliahmu!" Perintah sang mami Erlena sambil meletakkan pakaian kuliah untuk Erlena di tempat tidur Erlena.


Tanpa protes dan banyak tanya lagi, Erlena langsung bergegas untuk membersihkan diri-Nya terlebih dahulu.


"Terima kasih mami cantik," teriak Erlena dari kamar mandi. Mami Erlena keluar dari kamar putri-Nya dan menuju ke dapur untuk membuatkan sarapan.


SKIP.


Hanya butuh waktu sepuluh menit saja bagi Erlena untuk bersiap-siap untuk kuliah. Kini dia tengah menatap diri-Nya di pantulan cermin. Pakaian kuliah yang di berikan oleh mami-Nya sudah melekat pas di tubuh-Nya.


Erlena memoleskan bedak pigeon pada wajah-Nya dan sedikit lipblam pada bibir-Nya agar tidak kering dan pucat. Tanpa berlangsung lama Erlena pun turun ke bawah untuk menemui mami dan papi-Nya.


TAP


TAP


TAP


Suara sepatu beradu dengan lantai tangga. Datang lah seorang gadis yang cantik dan manis yaitu Erlena Ive sara.


"Selamat pagi mami dan papiku sayang," sapa Erlena dengan nada lembut sambil mengecup pipi kedua orang tua-Nya.


"Pagi juga sayang," balas mami dan papi Erlena sambil membalas kecupan sang anak.

__ADS_1


"Kita langsung sarapan ya," ucap papi Erlena sambil tersenyum.


"Iya," ucap mami dan Erlena.


__ADS_2