
"Ini kak, buat kak Kenzo.Ada hadiah misteri untuk kakak ha-ha-ha," ucap Erlena sambil memberikan kotak hadiah yang belum di ketahui oleh kenzo yang di akhiri dengan tawa-Nya.
"Apa ini dek, isi-Nya apa?" tanya Kenzo sambil membolak-balik kotak hadiah tersebut.
"Di buka dong. Masak gue kasih tahu hadiah misteri harus kasih tahu. Itu mah nama-Nya bukan hadiah misteri bang," pungkas Erlena sambil menatap tajam ke arah Kenzo.
"Iya, di buka dong pak. Kami penasaran nih sama isi-Nya!" ucap teman-teman Erlena kecuali Melvino yang diam tetapi dia juga penasaran dengan kotak hadiah tersebut.
"Iya-iya sebentar saya buka," ucap Kenzo sambil membuka kotak hadiah yang di berikan oleh Erlena.
"Wow! Jam tangan impian gue!" teriak Kenzo kesenangan sambil loncat-loncat bak anak kecil.
"Ini serius kan Len? Untuk gue? Lu nggak becanda kan? Apa gue yang salah lihat! Oh, mungkin gue mimpi kali ya?" tanya Kenzo beruntung sambil membola-balikkan jam tangan yang di berikan oleh Erlena.
Erlena yang melihat tingkah laku Kenzo hanya bisa tersenyum tipis, dia senang jika kak Kenzo juga senang.
"Iya gue serius kak, itu emang untuk kakak. Kan Lena tadi ngasih kado-Nya ke kakak. Kakak nggak salah lihat kok. ini beneran nggak bohong. kakak nggak lagi mimpi, tetapi kakak sadar bahwa sudah menerima kado-Nya dari Erlena," jawab Erlena panjang lebar sambil tersenyum lebar.
"Makasih banyak dek! Hu, gue senang banget sumpah!" ucap Kenzo sambil memeluk tubuh Erlena dengan erat.
ANGGAP SAJA JAM TANGAN-NYA SEPERTI INI
"Sama-sama kakak kusayang," ucap Erlena sambil membalas pelukan kenzo.
"Udah ih, coba di pakai Lena pingin lihat tahu," titah Erlena yang mulai melepaskan pelukan-Nya tadi.
"Iya!" jawab Kenzo sambil menatap ke arah jam tangan impian-Nya.
__ADS_1
Saat Kenzo hendak memakai jam tangan yang di berikan oleh Erlena. Sontak membuat mata Melvino membulat, karena itu jam tangan yang dia pilih saat Erlena menyuruh-Nya untuk memilih jam tangan di sana.
"Loh itukan yang gue pilih jam tangan-Nya, pantas Lena nyuruh gue milih ternyata untuk dia toh. tetapi jam tangan satu-Nya lagi untuk siapa lagi? Apa kah orang yang di anggap penting menurut Erlena?" gumam Melvino yang bingung dengan jam tangan yang satu lagi, di berikan kepada siapa.
"Woah! Bagus banget ini Len, memang adik terbaik kakak ha-ha-ha," ucap Kenzo sambil mencium hidung Erlena yang di akhiri dengan tawa-Nya.
"Iya dong!" sahut Erlena sambil menepuk-nepuk dada-Nya yang arti-Nya merasa bangga terhadap diri-Nya sendiri.
"Len kamu dapat uang dari mana, itu harganya sekitar lima belas jutaan Len! Mahal banget itu jam tangan-Nya!" Jerit mami Erlena yang sedari tadi berdiam diri sambil memperhatikan jam tangan yang ada di tangan-Nya Kenzo.
"Eee... Dari itu loh..." ucap Erlena menggaruk tengkuk leher-Nya.
"Jawab Len dari mana kamu dapat uang sebanyak itu hah. Kalau kamu jawab uang jajan itu nggak sebanding dengan beli jam tangan mewah. Len?" tanya mami Erlena dengan nada cepat.
"Lena dapat uang itu dari kerja dan dari mami dan papi kasih setiap bulan-Nya. Lena jujur kok," jawab Erlena santai sambil tersenyum tipis.
"What! Kamu kerja, kerja apaan kamu!" bentak papi Erlena terkejut mendengar jawaban Erlena yang ke lewatan santai.
"Jangan pernah membentak Lena, itu tidak pantas!" bentak balik Kenzo tidak terima saat papi Erlena membentak Erlena.
"Maafkan papi nak, papi cuma khawatir denganmu. Kapan? Di mana kamu bekerja Len?" tanya papi Erlena berturut-turut.
"Di cafe xxxxx," jawab Erlena.
"Loh kok bisa?" tanya mami Erlena bingung, karena tidak sembarang orang yang bisa di terima bekerja di situ.
"Ya bisa dong, orang cafe itu milik gue ha-ha-ha," jawab Erlena di dalam hati yang di akhiri tawanya.
"Bisa lah! Sudah mami papi, ga usah tanya-tanya lagi," Sungut Erlena sebal karena di interogasi.
__ADS_1
"Ngapain lu kerja Len? Bokap lu saja sudah kaya, tinggal minta aja kebokap lu," sambar Zaky sambil menaikkan kedua alisnya.
Pletak.
"B**o nggak tahu sopan santun lu, pacar siapa sih ini!" dengus Devina yang tadi memukul dahinya zaky sambil menatap tajam ke arah Zaky.
Plak.
"Kasar banget ngomongnya sama pacar sendiri!" ucap Zaky yang tadi menampar bibir Devina.
"Bodo!" sungut Devina sambil memeletkan lidahnya.
Mereka yang melihat tingkah laku gila Zaky dan Devina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Iya Len, betul kata Zaky. Menapa kamu kerja, kan papi sudah kerja?" tanya mami Erlena tidak suka jika anaknya bekerja padahal di usia muda, Erlena ini seharusnya bermain dengan teman-temannya bukan untuk bekerja.
"Mau mandiri saja!" jawab Erlena singkat.
"Sudah ih nggak usah di bahas Mulu, dan untuk Vino dan papi awas saja! Karena kalian sudah membuatku pingsan!" peringat Erlena sambil menatap tajam kayak mata elang kearah papi Erlena dan Vino.
Papi Erlena dan Vino saat mendengar peringatan dari Erlena langsung meneguk ludah sendiri.
Erlena langsung naik menuju keatas untuk memasuki kamarnya, tanpa pamit kepada mereka semua.
"Kan sudah mami bilang kalian keras kepala, jadi kayak ginikan Lena nya," ucap mami Erlena dengan mata yang melotot.
"Iya mi, tan kami ngaku salah," ucap papi Erlena dan Vino meminta maaf kepada kami Erlena.
"Jangan minta maaf ke mami, tante, tetapi ke Erlena lah. Kan kalian sendiri yang membuat kejadian ini terulang kembali," titah mami Erlena sambil menatap datar ke arah Vino dan suami-Nya itu.
__ADS_1
"Iya Tan, saya akan minta maaf kepada Erlena," patuh Vino yang dari tadi menundukkan kepalanya, karena tidak berani melihat wajah mami Erlena yang menyeramkan itu.
"Iya mi, papi juga akan meminta maaf kepada Erlena," patuh papi Erlena yang masih belum berani melihat wajah sang istri.