Berjuang Atau Menyerah

Berjuang Atau Menyerah
Episode 41


__ADS_3

Saat Erlena melihat diri-Nya di cermin, dia menatap diri-Nya biasa saja tetap cantik. Cuman berantakan doang mengapa mereka mempersalahkan-Nya?


Erlena pun membolak-balikkan seluruh tubuh-Nya sambil merapikan rambut kusut-Nya, setelah itu Erlena menggukung-gulungkan rambut-Nya dengan tangan kanan-Nya sambil tersenyum menatap ke arah cermin.


"Cantik banget gila gue cuy," ucap Erlena di dalam hati sambil tersenyum miring.


"Tetapi mengapa gue masih belum bisa membuat Melvino tertarik dengan gue? Padahal banyak cowok yang ngejar-ngejar gue. Eh malah gue yang mengejar cinta-Nya cowok, apa lagi masih nggak di anggap," gumam Erlena sambil tersenyum sinis.


"Karma is the real, dunia sekarang terbalik dahulu mereka yang gue cuekin sama cowok. Sekarang malah gue yang di cuekin sama orang yang membuat gue jatuh cinta semenjak tiga tahun yang lalu," ucap Erlena sambil tersenyum miring.


Setelah selesai menatap dirinya kemudian Erlena dengan cepat memperbaiki rambut, pakaian, dan seluruh wajahnya. Ketika Erlena sudah tidak merasa berantakan lalu dia berjalan kembali kearah meja makan bersama.


"Sudah Len?" tanya Zanna mengejek.


"Hm," deham Erlena malas.


"Sebelum kita makan kita harus?" tanya papi Erlena.


"Berdoa," jawab mereka semua serentak.


"Aamiin," ucap mereka setelah selesai berdoa.


Mereka pun makan dengan tenang dan khidmat, hanya terdengar suara gentingan sendok dan garpu. Erlena makan dengan cepat, hingga dengan cepat dia menghabiskan makanannya dalam waktu 4 menit.


"Lu kelaparan atau doyan Len?" tanya Zanna sambil memasukan nasi kedalam mulutnya.


"Iya, dua-duanya," jawab Erlena santai sambil mengusap-usap perutnya.


"Ooo," balas mereka semua.


Selesai mereka semua makan, mereka pun membersihkan meja makan sehabis mereka makan tadi. Mereka berkumpul di depan villa, menikmati suasana malam yang indah dan udara yang sejuk.


"Ekh, daripada kita diam-diaman mendingan kita main," ajak Devina.

__ADS_1


"Main apa yank?" tanya Zaky penasaran.


"Truth or dare," jawab devina singkat.


"Ayuklah gas!" sahut Zanna sambil mendekatkan dirinya dengan Devina.


"Vin kamu mau ikutan nggak?" tanya Erlena lembut.


"Hm," jawab Melvino singkat.


Padahal Melvino tadinya tidak mau karena permainan itu sangat membosankan, tetapi saat Erlena mengajak dirinya seakan-akan dia dengan cepat menurutinya. Satu kata yang ada di dalam hatinya yaitu "Aneh".


"Ekh tetapi btw kita nggak punya botolnya," ucap Devina dengan sorot mata yang menyiratkan kesedihan.


"Bentar gue cari dahulu," ucap Zayn langsung berdiri untuk mencari botol.


"Nah, dapat botolnya, nih..." ucap Zayn girang sambil menyerahkan botolnya kepada Devina.


"Oke. Thanks," ucap Devina berterima kasih.


"Terus yang mulai dahulu siapa?" tanya Zanna heran.


"Pakai hom pim pah dong," jawab Raja.


"Hom pim pah ala yum gam brenggg," ucap mereka sambil membolak-balikan tangannya.


"Zanna, lu putar botolnya. Nanti saat botolnya berhenti mengarah kesiapa yang kena, lu kasih pertanyaan truth or dare," seru Amanda sambil menepuk tangannya dengan girang.


"Oke. Sip," jawab Zanna dengan girang.


Zanna pun mengambil botol yang ada di depannya, setelah mendapatkan botolnya kemudian Zanna memutar botolnya. Saat botolnya hendak berhenti, mereka semua berdoa di dalam hati untuk siapa yang pantas untuk mendapatkan botol tersebut.


"Zaky!" seru mereka serentak kecuali Melvino hanya menatap datar.

__ADS_1


"Haduh, gini amat udah nasib gue!" ucap Zaky pasrah sambil menghembuskan napas kasarnya.


"Ha-ha-ha," tawa mereka semua.


"Cepat buruan jangan aneh-aneh kasih pertanyaannya," titah Zaky.


"Lu To**l, elu yang harus memilih truth or dare be*o," bentak raja dingin.


"Hah? Iya kah? Sorry, gue lupa ha-ha-ha," ucap Zaky yang di akhiri dengan tawanya.


"Hm," jawab Raja hanya berdeham.


"Gue pilih truth," ucap Zaky sambil mengusap-usap kedua tangannya karena ketakutan.


"Zan, apa pertanyaan elu?" tanya Devina tersenyum miring saat melihat pacarnya ketakutan.


"Gila kali kamu Vina, pacar kamu lagi takut malah tersenyum aneh!" sindir author.


"Lu kan punya mantan banyak tuh, dari pacar lu semua ada nggak yang bikin lu merasa berubah?" tanya Zanna dengan kedua tangan yang melipat di depan dadanya.


"Hah, janganlah yang lain saja deh pertanyaan nya," tolak Zaky mentah-mentah dengan wajah yang sedikit memerah.


"Kamu nggak boleh tolak yank! Jawab saja he-he-he," titah Devina sambil menepuk-nepuk punggungnya Zaky.


"Huft, gue pernah pacaran sama mantan gue yang namanya Sonya, dahulu gue orangnya baik-baik saja. Tetapi lama-kelamaan dia ngajak gue untuk minum bir bersama teman-teman cowoknya. Sebelumnya gue nggak tahu kalau itu minuman bir, kira gue cuma juz anggur. Nah pas gue minum birnya itu rahang gue tuh panas sekali," ucap Zaky berhenti sesaat lalu melanjutkan ucapannya.


"Untung saja gue masih sadar, kalau Sonya itu suka main sama cowok. Ya sudah gue putusin lah. Makanya sifat gue sekarang nggak sebaik dahulu," jawab Zaky lirih, sambil meratapi masa lalunya bersama sonya. Untung saja dia sadar bahwa Sonya hanya membawa keburukan bagi dia.


"Sudah itu doang?" tanya Zanna menatap kasihan kepada Zaky.


"Sudah," jawab Zaky singkat.


"Apa kamu menyesal memutuskan dia?" tanya Devina sedikit cemburu dengan Sonya.

__ADS_1


"Tidak! Malahan aku menyesal pernah pacaran sama dia. Beruntungnya aku di miliki kamu, kan kamu pacarnya aku," ucap Zaky sambil menggoda Devina.


"Tuh tahu!" sahut Devina sambil menatap tajam kearah Zaky.


__ADS_2