Berjuang Atau Menyerah

Berjuang Atau Menyerah
Episode 81


__ADS_3

...Tidak perlu menyalahkan waktu dan perasaan, jika memang itu ingin kamu perjuangkan, upayakanlah sampai akhir....


"Satu, dua, tiga... satu dua tiga," aba-aba dari Erlena.


HAP.


Adelia pun langsung terbaring lemah yang di ikuti dengan darah yang menetes. Erlena mengambil pisau yang di lempar sama orang yang ingin membunuh Adelia.


"Kak.... Tolong bantu aku, aku.... Tolong ambil pisaunya di perutku ini... Aku kak.. Tolong aku sudah tidak kuat aku tidak kuat...." Lirih Adelia yang sudah tergeletak di lantai.


"Iya ini kakak bakalan tolongin kamu, tunggu sebentar kamu harus kuat del," ucap Erlena di ikuti rasa panik.


"Uhhh.... Perih sangat kak," teriak Adelia dengan berlinangan air mata dan wajah yang memerah karena menahan rasa sakit yang menjalar di tubuhnya.


Erlena dengan berhati-hati melepaskan tali yang sangat kuat di seluruh tubuh nya Adelia dengan menggunakan pisau.


Sret


Sret


Sret.


Terdengar suara pisau yang sangat nyaring di rooftop, sesekali Adelia meringis karena kesakitan karena tali yang di ikat oleh seseorang itu sangatlah kuat. Tali yang mengikat seluruh tubuhnya sangat kuat hingga dia merasakan sesak nafas.


Untung saja Erlena dengan cepat membantunya. Jika tidak ada Erlena di sini untuk menolong diri-Nya mungkin saja dia pasti tidak ada lagi di dunia. Memikirkan akan hal itu membuat bulu kuduk-Nya merinding.


"Akhh..." Ringis Erlena dengan mata yang tertutup.


"Kenapa kak, apa kah kakak terluka ahhh?" tanya Adelia lirih yang tersirat khawatir di dalam hati-Nya.


"Tidak apa-apa. Hanya sedikit terkena luka yang tidak parah di tanganku saja," jawab Erlena santai menutupi luka yang sangat perih.


"Kak aku....Nggak kuat... Tolong sampaikan kepada kak Melvin ya, jika ahh... Musuh kita masih yang ada di masa lalu...." Ucap Adelia dengan air mata yang mengalir.

__ADS_1


"Tahan dahulu oke? Aku akan mencari seseorang untuk membantumu. Tunggu sebentar saja, kamu harus kuat nggak boleh lemah aku yakin kamu pasti bisa," titah Erlena kelabakan langsung berdiri dan ingin meninggalkan rooftop untuk mencari bantuan.


TIBA-TIBA.....


"Mengapa lu bunuh adik gue Len, dia nggak ada salah sama lu hah?!" Teriak Melvino murka saat melihat adik-Nya yang hendak menutup mata-Nya.


"Gue nggak bunuh adik lu Vin, gue tolongin dia dari seseorang yang berniat membunuh adik lu!" Teriak balik Erlena tidak terima atas tuduhan Melvino yang di berikan untuk-Nya.


"Nggak usah ngelak lu! Bukti-Nya lu megang pisau yang sudah banyak darah-Nya dan di pisau tersebut sudah ada sidik jari lu. Dasar bajingan!" Bentak Melvino sambil menatap tajam ke arah Erlena.


"Maling mana ada yang mau ngaku untuk mengakuinya ha-ha-ha!" Tuduh Melvino sambil tersenyum miring.


"Gue bukan pembunuh, gue cuman nolongin Adel!" Teriak Erlena dengan air mata yang mengalir di pipi-Nya.


"Sudah Vin! Cukup, lu bawa adik lu ke rumah sakit terlebih dahulu! Masalah bahas-Nya nanti saja! Kasihan adik lu, sudah menahan rasa sakit!" Bentak Raja sambil memukul punggung-Nya Melvino.


"Kenapa lu mukul gue bangsat, kenapa lu nggak mukul si pembunuh itu?" tanya Melvino sambil mengepalkan kedua tangan-Nya di ikuti mata yang memancarkan kemarahan.


"Gue sudah lihat dari video yang di kasih sama dia, gue sudah lihat semuanya tahu nggak lu!" Teriak Melvino di ikuti rasa emosi.


"Sadar bego! Adik lu butuh bantuan lu, bukan bacotan lu!" Ucap Zaky dengan napas yang memburu.


Melvino pun berlari mendekati sang adikdan bersimpuh di lantai sambil mengelus pipi-Nya sang adik.


"Kuat ya Del, kakak bakal bawa kamu ke rumah sakit! Kakak bakal balas dendam sama si pembunuh itu!" Ucap Melvino khawatir dengan keadaan Adelia yang mengenaskan.


Erlena yang mendengar tuduhan Melvino merasakan sakit di hati-Nya, apa lagi mata Melvino menyiratkan dendam yang sangat dalam kepada Erlena padahal yang sebenarnya Erlena lah yang menolong Adelia dari pembunuhan yang sempat terjadi.


"Bukan aku yang bunuh Adel, tetapi dia musuhmu Vin....." Ucap Erlena sangat kecil. Tetapi Zaky, Zayn, dan Raja mendengar ucapan Erlena.


"Siapa musuh-Nya Melvin?" Tanya mereka di dalam hati sambil menerka-nerka.


"Lu! Awas saja, gue nggak akan bakalan diam atas apa yang lu lakuin terhadap adik gue!" Ancam Melvino lalu berdecih di hadapan wajah-Nya Erlena.

__ADS_1


Melvino pun mengangkat tubuh Adelia dengan perlahan-lahan, tetapi, pasti.


"Bukan kak..... Lena yang... membunuhku kak, tetapi dia musuh kita yang ada di masa lalu kita kak...." Ucap Adelia terbata-bata.


"Kamu jangan pernah membela perempuan murahan itu, dia tidak pantas mendapatkan kebaikan atau pun pembelaan darimu!" Ucap Melvino sambil menekankan kata-kata yang di ucapkan-Nya.


"Aku bukan perempuan murahan Vin yang seperti kamu ucapkan!" Bantah Erlena.


"Kenapa gue bilang kalau lu perempuan murahan? Karena lu selalu mengemis cinta ke gue! Sebenar-Nya gue muak sama tingkah laku lu yang kayak cewek-cewek di luaran sana, emang ya semua cewek sama saja!" Ucap Melvino dengan meninggikan suara-Nya.


Melvino yang sudah termakan omongan dari si pembunuh yang sebenarnya sudah tidak peduli dengan perasaan Erlena yang akan membuat hati-Nya Erlena terluka karena ucapan-Nya.


"Bukan kak Lena, kak.Tetapi musuh kita yang sebenarnya. Tolong percaya sama Adel kak," sangkal Adelia dengan napas yang terengah-engah.


"Bodoh anjing! Gue nggak perduli! Dasar cewek kok murahan, dasar anak dakjal, anak setan!" Ejek Melvino sambil tersenyum miring ke arah Erlena, lalu pergi meninggalkan mereka semua yang ada di dalam rooftop.


"Gue bukan pembunuh. Kalian percayakan sama gue?" ucap Erlena dengan air mata yang ikut menetes.


Mereka pun terdiam atas ucapan Erlena yang di berikan kepada mereka, akhir-Nya Zaky pun menjawab ucapan-Nya si Erlena.


"Kita belum bisa percaya Len, maaf. Karena, kita akan mencari bukti terlebih dahulu," sahut Zaky menatap kasihan dengan Erlena.


"Nggak apa-apa, silakan kalian mencari bukti-Nya. Inti-Nya aku bukan pembunuh yang sebenarnya, yang pembunuh itu adalah musuh keluarga Melvino-Nya," balas Erlena sambil menatap sayu ke arah langit.


"Kalian bisa pergi dari sini karena di sini ada pembunuh," usir Erlena secara halus.


"Gue akan cari bukti-Nya, kalau lu benar-benar tidak terlibat dari masalah ini," final Zayn.


"Sebelum itu lu harus minta maaf terlebih dahulu dengan Melvin, lu bisa jelaskan secara perlahan-lahan tentang kejadian tadi yang sebenarnya," ucap Zaky.


"Ya," jawab Erlena singkat sambil mengusap kasar air mata-Nya yang mengalir secara terus menerus.


"Apa kah aku akan bertahan mencintaimu, setelah tuduhan dan bentakan yang kau berikan kepadaku? Apa kah aku masih pantas untuk mencintaimu, huft sudahlah," ucap Erlena di dalam hati-Nya.

__ADS_1


__ADS_2