
"Lu cari saja Sean, Alex, sama Devan di kelas sebelah nanti gue nyusul kok," titah Erlena.
"Iya dah gue tunggu.Sampai nggak ada ya sudah gue nggak peduli," ucap Bimo langsung pergi keluar dari kelas-Nya.
"Dih, emang gue peduli gitu sama lu? Dih geer banget tuh orang," ucap Erlena sambil menatap jijik saat Bimo telah pergi dari kelas-Nya.
"Len, tu cowok ganteng loh kok lu bisa jadiin dia asisten?" tanya Zanna sambil menatap ke arah Erlena.
"Ya bisa dong, apa sih yang nggak bisa dari Erlena Ive Sara!" jawab Erlena santai.
"Astagfirullah kok bisa sih dalam keadaan gini masih saja nyombongin diri lu sendiri. Eh, btw kok lu bisa kenal sama tuh anak baru? Secara kan lu cuman dekat sama tiga sahabat cowok lu," tutur Devina dengan tatapan menyelidik.
"Nggak usah gitu juga kali natap-Nya," ucap Erlena dengan mata yang melotot.
"Gue sudah kenal lama kok sama dia," sambung Erlena berbohong.
"Owh gitu toh," ucap Zanna, Amanda, dan Devina sambil menganggukkan kepala-nya tanpa curiga sedikit pun terhadap Erlena.
"Eh, bentar ya gue mau ngejar Elvin dahulu," pamit Erlena beranjak dari tempat duduknya dan langsung pergi tanpa menghiraukan ucapan sahabatnya.
"Kasihan Lena ngejar-ngejar tuh cowok nggak tahu diri. Gue jadi kesal sumpah sama tingkah laku-Nya Melvino yang semakin menjadi," ucap Zanna sedih.
"Padahal Lena tuh tahu. Kalau tuh cowok sudah nolak Lena berulang kali. Tetapi masih saja di kejar terus his.Greget gue sampai pingin makan kepala-Nya. Tetapi sadar gue manusia huh," gerutu Amanda kesal sekaligus kasihan terhadap Erlena.
"Doain saja semoga Lena selalu bahagia, kalau tuh cowok bre***ek nyakitin hati Lena, gue akan maju untuk nyadarin tuh cowok," sungut Devina dengan tangan yang mengepal.
__ADS_1
"Iya," ucap Zanna dan Amanda.
KEADAAN ERLENA DI KANTIN..........
"Elvin, aku boleh duduk di sini?" tanya Erlena meminta izin terhadap Melvino.
"Tidak, emang nggak ada tempat lain hah! Ganggu saja," ucap Melvino sedikit meninggi tanpa mengalihkan matanya dari ponselnya.
"Apaan sih Vin, sudah lah Len duduk aja di sini!" ajak Zayn mempersilahkan Erlena duduk di hadapan Melvino.
"Iya tuh, jangan kasar sama cewek," ucap Raja dingin.
"Ya sudah deh, nggak jadi maaf ya ganggu kalian," ucap Erlena merasa bersalah, karena Melvino di salahkan karena dirinya.
"Hiks.., kapan kamu bisa bersikap lembut terhadap aku Vin, hiks.... Aku pernah berpikir hiks.. hiks.. kalau aku sebaiknya mundur hiks...." ucap Erlena terhadap dirinya sendiri sambil memukul dadanya yang terasa perih.
"Terkadang aku ingin menyerah hiks....Tetapi, hiks, itu tidak mungkin karena aku telanjur cinta sama kamu!" bisik Erlena dengan tangisan yang makin kencang.
Kemudian Erlena langsung membasuh wajahnya lalu menatap cermin sambil berkata.
"Gue nggak boleh nangis! Nggak boleh! Gue harus berjuang lebih keras lagi, biar Elvin jatuh cinta terhadap gue," tekad Erlena sambil mengepalkan tangannya yang artinya tanda semangat.
"Ayuk, jangan nangis lagi dong, ck!" seru Erlena sambil mengelap air matanya yang jatuh terus-menerus.
"Sip oke, jangan sampai sahabat gue tahu kalau gue habis nangis.Yang ada gue pasti di suruh mundur, tidak akan gue biarkan itu terjadi!" ucap Erlena langsung pergi meninggalkan toilet.
__ADS_1
Erlena berlari dengan sangat cepat dan langsung menendang pintu kelasnya. Sontak semua orang melihat aneh terhadap Erlena karena keadaan Erlena sangat kacau.
"Kamu mengapa Len? Keadaanmu terlihat sangat kacau?" tanya Bu Heny khawatir dengan murid kesayangannya itu.
"Tidak apa-apa Bu, tadi saya main sama anak-anak," jawab Erlena dengan senyum merekahnya padahal hatinya tidak semerekah seperti senyumannya.
"Baik lah kalau seperti itu, kamu duduk ya," titah Bu Heny.
"Ya," ucap Erlena singkat.
Setelah Erlena duduk di bangkunya. Bimo langsung mengasih surat. Erlena langsung melihat kertas yang di berikan oleh Bimo.
DI TULISAN YANG DI BERIKAN OLEH BIMO ADALAH......
"Len, mengapa lu terlihat sangat kacau? Gue khawatir sama elu, padahal tadi lu baik-baik saja tidak seperti sekarang. Ngomong saja Len, gue pasti dengarkan curhatan elu."
Setelah Erlena membaca surat dari Bimo, langsung mengambil pulpennya dan menulis.
"Gue nggak apa-apa, lu nggak usah mikir macam-macam tentang gue, nanti gue kasih tahu saat kita sudah pulang sekolah."
Selesai menulis suratnya langsung saja Erlena melemparkan suratnya ke Bimo, untung saja Bu Heny tidak melihat Erlena.
Melvino yang melihat Erlena yang melempar surat kepada Bimo hanya mendesis, dia tidak tahu perasaan yang dia rasakan.Tetapi, ketika Erlena dekat dengan cowok lain ada perasaan tidak suka.
Maklum karena dia tidak pernah berdekatan dengan cewek kecuali bunda dan adiknya.
__ADS_1