Berjuang Atau Menyerah

Berjuang Atau Menyerah
Episode 44


__ADS_3

Semua orang yang di pantai melihat Erlena bernyanyi merasa kagum dengan suara Erlena yang sangat merdu, lembut, dan sangat enak di dengarkan di telinga mereka masing-masing.


"Wow. Suara kakak itu sangat bagus sekali," seru anak kecil yang masih berumur delapan tahun.


"Wah anak itu punya bakat yang sangat bagus ya jeng," bisik ibu kacamata.


"Iya jeng, aku jadi pingin punya anak seperti dia, udah cantik, pintar, suara-Nya bagus lagi ah. Pingin banget aku culik jeng bakalan aku rawat sampai sukses deh. Tetapi aku sadar bahwa kalau dia sudah besar, jadi dia bakalan sadar kalau misal-Nya aku culik dia!" bisik ibu hamil sambil tersenyum-senyum sendiri.


"Kamu ini ada-ada saja sih jeng. Jangan bikin malulah. Itu loh dia masih ada kedua orang tua-Nya di sana yang sedang duduk berdua. Lagian kalau kamu culik emang berani? Sedangkan dia kulihat ada hawa yang sangat kuat. Menurut kujuga ya jeng anak itu orang yang nggak sembarangan," balas ibu kacamata sambil menyipitkan kedua bola mata-Nya ke arah si Erlena.


"Wajah-Nya seperti orang luar negeri loh, kalau di lihat lihat ya," ucap cowok yang bertelanjang dada.


"Iya! Cantik banget! Aku saja belum pernah melihat cewek secantik diri-nya. Fiks sih ini paling cantik tuh cewek!" seru cowok yang di samping bertelanjang dengan raut wajah sumringah.


Tiba-tiba ada anak kecil yang masih berumur delapan tahun tadi berjalan menuju ke arah Erlena.


"Hai! Kakak yang cantik!" sapa anak kecil yang masih berumur delapan tahun.


"Hai juga, anak yang manis. Ada apa anak ganteng?" sapa balik Erlena yang belum tahu siapa anak kecil yang ada di hadapan-Nya.


"Aku... Nama aku Alaska kak he-he-he," ucap anak kecil yang masih berumur delapan tahun yang sudah di ketahui nama-Nya yaitu Alaska.

__ADS_1


"Oh, Alaska nama yang bagus dan indah ya! Ada apa Alaska datang kemari?" tanya Erlena dengan raut wajah bingung.


"Eum... Aku mau kenalan sama kakak, nama kakak siapa ya kira-kira?" tanya Alaska sambil tersenyum lebar.


"Nama kakak Erlena, panggil saja Lena adikku sayang dan ganteng," jawab Erlena langsung bungkuk untuk menyamai tinggi-Nya dengan Alaska.


Semua orang yang ada di pantai masih menatap Erlena dan Alaska, mereka bertambah kagum saat melihat keramahan sifat-Nya terhadap anak kecil. Melvino yang melihat itu tanpa sadar menaikkan sudut bibir-Nya ke atas.


"Alaska di mana orang tuamu, apa kah orang tuamu ada di sini?" tanya Erlena sambil mengelus rambut-Nya Alaska.


"Orang tua-Nya Alaska? Tuh lagi memperhatikan kita di sana!" jawab Alaska sambil menunjuk kearah orang tua-Nya.


Orang tua Alaska yang di tunjuk oleh anak-Nya hanya tersenyum simpul dan melambaikan tangan-Nya kearah Erlena dan Alaska. Erlena pun membalas lambaian ke arah orang tua Alaska.


Alaska yang melihat Erlena seperti itu, dengan cepat tangan Alaska menyentuh dahi Erlena untuk mengelap keringat Erlena. Kemudian Alaska mendekatkan wajah-Nya kewajah Erlena dan mencium bibir-Nya Erlena sekejap.


Sontak perilaku Alaska membuat Erlena tertegun sambil mengingat Briyan. Bukan hanya Erlena yang tertegun tetapi semua orang yang melihat kejadian tersebut juga ikut tertegun sekaligus terkejut. Sangat berani sekali anak kecil itu mencium Erlena pikir mereka.


Orang tua alaska langsung datang mendekati Alaska dan Erlena. Lalu menarik tangan anak-Nya dengan sedikit kasar


"Hai, Alaska nggak boleh seperti itu! Nggak sopan banget sih, dia itu lebih tua daripada kamu, jangan seenak-Nya Aska mencium kakak-nya apa lagi kamu baru kenalan sama dia!" bentak ibu Alaska.

__ADS_1


"Tetapi Alaska cuman mau kasih perhatian sama kakak-Nya ibu," lirih Alaska menatap ke arah pasir.


"Hai! Jangan bentak Aska dong Bu. Kasihan tuh anak-Nya jadi merasa bersalah. Padahal juga tidak apa-apa sih bu. Ibu tidak boleh seperti itu juga," ucap bapak Alaska sambil mengelus punggung istri-nya.


"Hiks...hiks... maaf...Aska... cuman keingat kakak doang hiks..hiks.." ucap Alaska dengan air mata yang bercucuran.


"Hiks..hiks.. maaf.... Aska nggak sengaja..hiks.." sambung Alaska meminta maaf kepada Erlena.


"Tante jangan bentak Alaska dong! Kasihan Alaska masih kecil belum tahu apa-apa! Saya tidak mau jika Alaska akan takut dengan sikap tante!" ucap Erlena sedikit meninggi karena dia paling tidak suka jika ada orang tua yang membentak anak kecil.


Lagi-lagi mereka salut dengan ucapan Erlena yang membela alaska, padahal baru saja bertemu.


"Aaa... Maaf Aska ibu nggak sengaja," ucap ibu Alaska dengan nada yang menyesal.


Mami Erlena bangkit dari tempat duduk-nya dan mendekatkan diri-nya kepada ibu alaska.


"Ibu jangan pernah membentak anak kecil, karena kita tidak tahu kalau dari sikap kita bisa membuat anak kecil depresi atau akan membenci kita," nasihat mami Erlena sambil tersenyum ramah.


"Iya maafkan saya, saya menyesal!" ucap ibu Alaska lirih dan menyesal.


"Maafkan anak saya, yang tidak sopan mencium anak ibu," sambung ibu Alaska sambil memeluk tubuh anaknya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa tan, nama-nya anak kecil he-he-he," ucap Erlena sambil mencairkan suasana.


"He-he-he," ucap ibu Alaska sambil menggaruk tengkuk lehernya.


__ADS_2