
"Lu serius? Jangan berikan harapan palsu lu kepada gue deh, gue lelah dengan semua ini? Gue rindu berat sama dia, apa kah lu benar-benar bahwa lu tidak berbohong kepada gue?" tanya Melvino kegirangan.
"Iya tuan, saya serius masak saya bisa bohong kepada bos syaa sendiri. Jadi tuan hanya menunggu keadaan nona Erlena minggu depan tidak perlu datang ke sana," jawab anak buah Melvino merasa puas atas apa yang dia cari selama ini dia dapatkan.
"Oh gue nggak akan nunggu Lena sampai seminggu lagi. Lu tahu kan kalau gue utu sudah rindu berat sama dia, inti-Nya gue mau datang susulin dia," ucap Melvino nekad.
"Bos, tolong turutin ucapan saya. Kalau bos akan datang menyusul nona Lena yang akan kena dampak besar adalah bos sendiri. Mungkin saja setelah bos menyusul dia ke Jerman bos pasti tidak akan bertemu dengan nona Lena lagi," balas anak buah Melvino memperingati bos-Nya itu.
"Ha! Maksud lo gue nggak bisa bertemu dengan diri-Nya lagi, saat gue menyusul dia ke Jerman?" tanya Melvino bingung.
"Iya bos, karena anda kan pasti datang langsung menemui nona Lena bukan?" tanya anak buah Melvino tepat sasaran.
"Ya iyalah terus apa lagi yang harus gue lakukan di sana untuk menemui diri-Nya?" tanya balik Melvino.
"Yang pasti dia tidak akan memaafkan anda dan akan membenci anda. Bos juga harus ingat atas perlakuan yang anda buat di masa lalu sehingga nona Lena pergi dari kehidupan anda. Dia juga butuh ketenangan dan mengobati rasa luka di dalam hati-Nya bos," jawab anak buah Melvino panjang lebar.
"Baik terima kasih banyak atas bantuan-Nya ya. Tidak sia-sia saya membayarmu ha-ha-ha," ucap Melvino yang di akhiri dengan tawa-Nya.
"Saya akan transfer lagi untuk kamu. Anggap saja itu bonos karena selama dua tahun kamu selalu mencari dia dengan hasil yang memuaskan," tutur Melvino.
"Terima kasih banyak tuan atas bonus-Nya," balas anak buah Melvino sambil tersenyum lebar.
"Sama-sama," sahut Melvino sambil tersenyum tipis.
"Saya matikan ya telepon-Nya," pamit Melvino sambil senyum yang tertahan.
"Iya bos," balas anak buah Melvino.
Tut
Tut
Tut.
__ADS_1
"Akhir-Nya, kita bisa bertemu kembali Lena kusayang," gumam Melvino sambil mengelus-elus foto Erlena.
"Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan seperti yang pernah aku lakukan. Aku tidak akan menyia-nyiakan kamu lagi itu janjiku," tekad Melvino sambil mengepalkan tangan kanan-Nya dan mengarahkan ke dada-Nya.
"Sudah dua tahun kamu meninggalkan diriku. Tetapi kamu juga tidak salah kok. Sebenar-Nya aku yang salah paham sama kamu di antara kita kamu yang paling sakit," ucap Melvino lirih sambil mendekap foto Erlena di dada-Nya.
"Aku cinta kamu Lena sayang dan aku akan selalu menjaga hati ini," sambung Melvino.
Melvino pun tertidur di ranjang-Nya sambil mendekap foto Erlena di dada-Nya.
......................
"Aaaa mami, Lena nggak mau pulang sekarang, kan masih ada waktu hiburan," rengek Erlena.
"Nggak bisa, kita hari ini harus pulang ke Indonesia. Sekarang titik nggak pakai koma," balas mami Erlena tegas.
"Mami! Kan Lena bilang minggu depan lagian lima hari lagi juga kita pulang kok ke Indonesia, sebentar lagi coba sabaran," bantah Erlena tegas.
"Nggak bisa! Papi di sana di mutasikan!" Ucap mami Erlena.
"Bodo amat ayuk kita pulang! Nggak usah banyak cek cok, gas! Kita pergi dari sini!" Ajak mami Erlena sambil menarik koper yang sudah disiapkan sedari tadi.
"Loh! Kok mami sudah bawa koper?" tanya Erlena heran.
"Mami sudah tahu dari kemarin malam. Cuma kamu-Nya saja yang kunci kamar, jadi salah kamu yang baru tahu sekarang," kawab mami Erlena sambil memeletkan lidah-Nya lalu pergi dari apartemen Erlena.
Brak.
"Astagfirullah, untung lu mamak gue. Kalau bukan gue seret kepala lu Mak!" Umpat Erlena kesal.
"Au ah mending gue siap-siap saja dahulu," gumam Erlena sambil membereskan pakaian-Nya untuk dimasukkan ke dalam koper.
Lima belas menit kemudian....
__ADS_1
"Huh, selesai juga," keluh Erlena.
"Gue kabarin mereka nggak ya? Eum, nggak usah deh. Gue mau kasih kejutan ke mereka semua bahwa aku telah kembali lagi ha-ha-ha," ucap Erlena yang di akhiri tawa-Nya.
Ceklek.
"Apa mi?" tanya Erlena malas.
"Ayuk buruan ke bawah! Sudah di tunggu papi loh! Dasar anak malas!" Jawab mami Erlena sambil mengeratkan genggaman tangan-Nya di pintu.
"Bukan-Nya malas mami, cuman tunggu info dari mami dahulu. Baru Erlena turun, kalau Lena turun terus nggak ada mami sama papi gimana hayo Lo," jelas Erlena sambil menatap ke arah mami-Nya.
"Jawab saja terus, jawab," bentak mami Erlena.
"Loh aneh mami ini," umpat Erlena.
"Kamu yang aneh! Cepat! Dasar anak siapa sih kamu tuh!" Ucap mami Erlena sambil memicingkan mata-Nya.
"Anak-Nya mami sama papi lah. Kalau nggak ada mami sama papi bersatu, mungkin Lena nggak ada di dunia ini mami. Ck, ck, ck," ucap Erlena yang menurut mami Erlena masuk akal.
"Iya-iya deh mami nyerah, debat sama kamu tuh bawaan-Nya emosi terus," adu mami Erlena.
"Ya, nggak usah debat dong," jawab Erlena sambil membuang muka-Nya.
"Heh! Papi tungguin kalian malah masih ngoceh! Dasar para wanita banyak oceh!" Pungkas papi Erlena kesal karena lelah menunggu sang istri dan anak-Nya
"Papi tuh yang banyak oceh!" Bentak mami Erlena dan Erlena.
Papi Erlena yang mendengar bentakan dari wanita yang di sayangi-Nya, hanya bisa menghela napas kasar dan mengelus elus dada-Nya.
"Tobat! Tobat!" Gerutu papi Erlena.
"Cepat buruan kita pakai jet pribadi," ajak papi Erlena sambil menarik koper-Nya dan berjalan meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Hayuk!" Balas mami Erlena menarik koper-Nya di ikuti oleh Erlena dan berjalan mengikuti papi Erlena.