Berjuang Atau Menyerah

Berjuang Atau Menyerah
Episode 64


__ADS_3

Erlena langsung mengambil kunci motor-Nya di atas lemari, dengan cepat Erlena berlari dan menuju ke arah motor-Nya. Dia mengendarai motor-Nya dengan laju.


Erlena tidak menyadari bahwa sedari tadi, ada yang mengikuti-Nya. Seseorang itu mengendarai mobil hitam-Nya. Di dalam mobil terdapat seseorang sedang mengamati Erlena yang nampak-Nya terburu-buru.


"Lihatlah, wajah-Nya bak mentari pagi yang cerah. Mengapa dia sangat terburu-buru saat berjalan? Seperti kayak orang mau maling saja yang takut ketahuan oleh sang pemilik-Nya?" humam Melvino dengan kacamata hitamnya di tulang hidung mancung-Nya.


Ya, seseorang yang ada di mobil hitam itu adalah Melvino. Di dalam hati-Nya tergerak ingin mengikuti perjalanan si Erlena yang entah dia pun belum tahu arah jalan-Nya si Erlena.


Kalau kalian bertanya, bukankah Melvino menginap di rumah-Nya si Erlena? Kok bisa dia memakai mobil-Nya dengan cepat? Padahal dia di rumah si Erlena dia hanya berdiam diri dan tidak keluar rumah sedikit pun?


Dia memiliki asisten pribadi-Nya, saat di pagi hari asisten-Nya datang untuk mengantarkan mobil-Nya si Erlena. Melvino menelpon asisten-Nya untuk membawa mobil-Nya.


Sampailah si Erlena di cafe milik-Nya. Dia memakirkan motor-Nya di parkiran khusus.


Erlena mengambil masker hitam milik-Nya, di dalam jok motor-Nya lalu memasang-Nya.


Dia melepaskan ikatan rambut-Nya. Erlena menggerai rambut panjang-Nya, yang membuat-Nya terlihat semakin cantik dan manis. Tidak lupa dia memakai jaket hitam agar tidak ketahuan bahwa dia memakai bajutidur-Nya. Bisa malu diri-Nya jika ketahuan oleh semua orang apa lagi dengan karyawan-Nya sendiri. Erlena memasuki cafe itu dengan jalan yang anggun dan angkuh.


Erlena menaiki tempat pertemuan yang khusus. Tidak ada yang bisa menaiki tempat tersebut. Di karenakan jika ingin memasuki tempat khusus, mereka harus memiliki kartu identitas yang sudah tercantum di cafe itu.


"Kalian lapar ya, sudah tidak usah di jawab saya tahu kalau kalian itu sudah lapar ha-ha-ha?" tanya Erlena sambil melepaskan masker-Nya dan menutup kembali pintu-Nya yang di akhiri dengan tawa-Nya.

__ADS_1


"Iya nih. Itu nona sudah tahu bahwa kami semua sudah menahan lapar karena menunggu nona Erlena datang sampai ke sini. Kami sangat lapar sekali dari tadi para cacing di salam perut kami berteriak kelaparan," jawab salah satu anak buah-Nya si Erlena sambil mengusap perut-Nya.


"Ha-ha-ha, baiklah kalau seperti itu. Tunggu sebentar aku akan menelpon sekretarisku terlebih dahulu," ucap Erlena menenangkan hati mereka untuk bersabar.


"Baik, nona. Siap," ucap mereka serentak sambil tersenyum lebar karena menantikan makanan yang sangat mewah dan sangat luar biasa untuk rasa makanan-Nya


Setelah Erlena menelpon sekretaris-Nya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari seseorang.


"Ya, silakan kalian masuk!" titah erlena sambil bersandar di kursi, untuk menikmati suasana langit yang cerah di jendela.


"Ini nona. Makanan-Nya sudah siap silakan di nikmati makanan ini!" Ungkap pelayan.


"Ya, silakan di taruh di sini!" titah Erlena tanpa mengalihkan pandangannya di luar jendela.


Daun yang tertiup angin berjoget layaknya tidak memiliki masalah. Damai sekali di luar sana, ingin sekali Erlena hidup dengan tenang tanpa melakukan apapun.Tetapi itu hanya khayalannya saja.


Erlena mengarahkan pandangnya di sebuah mobil hitam yang terparkir di luar sana. Erlena menyipitkan matanya, untuk bisa melihat lebih jeli siapa orang tersebut yang sedari tadi melihat kearahnya, sambil menelpon seseorang di dalam ponsel genggaman tangannya.


Lama-kelamaan Erlena memperhatikan gerak gerik seseorang yang belum dia ketahui. Erlena menghela napas kasarnya lalu mengalihkan pandangannya dari seseorang tersebut. Erlena menatap anggotanya yang sedang menikmati makan mewah.


"Apakah kalian menikmatinya?" tanya Erlena sambil menatap kearah anggotanya.

__ADS_1


"Sangat," jawab anak buah di seberang sana.


"Ha-ha-ha," tawa kecil Erlena.


"Baiklah, sekarang kita bahas rencana agar penculik handal itu bisa masuk ke perangkap kita. Kita akan menemukan anak kecil tersebut," ucap Erlena lantang dengan aura wibawanya.


"Siap, nona!" Seru mereka semua.


"Kev, anak kecil itu berumur berapa? Nama-Nya siapa? Foto-Nya yang mana?" tanya Erlena berturut-turut sambil menatap kearah wajah Kevin yang masih meminum juz anggur.


"Nih, baca sendiri," jawab Kevin sambil menyerahkan kertas formulir yang di dalam tulisan tersebut ada identitas anak tersebut.


Erlena membacanya dengan seksama. Saat melihat foto anak kecil yang hilang tersebut, Erlena seketika mata-Nya membulat dengan mata yang berbinar.


"Tampan sekali, kau nak," gumam Erlena dengan hati naluri seperti ibu kandung-Nya.


"Rangga bumi permata, baru lahir, ayahnya meninggalkan diri-Nya dan ibunya meninggal karena terkena serangan jantung," ucap Erlena sambil meneliti formulirnya.


"Tinggal bersama nenek-Nya?" tanya Erlena entah kepada siapa.


"Iya, Len. Mereka hidup berdua di sebuah gubuk," jawab kevin.

__ADS_1


"Motif penculikan-Nya?" tanya Erlena penasaran.


"Karena, neneknya memiliki hutang kepada penculik tersebut. Nenek-Nya belum bayar hutang-Nya selama satu bulan. Jadi, di ambillah si Rangga itu," jawab Kevin detail.


__ADS_2