
Melvino manggut-manggut tanda mengerti,
wajah-Nya kembali murung. Dia mengusap wajah-Nya dengan kasar lalu bersandar di sandaran sofa.
"Kamu kenapa sih? Bikin ayah bingung dengan tingkah lakumu itu?" tanya ayah Melvino greget sambil merangkul pundak anak laki-laki-Nya yang tersayang itu.
Melvino menoleh melihat ayah-Nya yang sangat dia sayangi lalu menggeleng-gelengkan kepala-Nya.
"Lagi galau yah, patah hati biasa lah. Anak cowok kan seperti itu yah," celetuk bunda Melvino.
"Hah, patah hati? Kok bisa? Tumben amat dah? Bukan-Nya kamu tampan seperti ayah ya? Jadi mengapa kamu bisa patah hati hanya karena seorang cewek saja hah?" tanya ayah Melvino menatap anak-Nya yang tidak seperti biasa-Nya.
Melvino tak menghiraukan pertanyaan dari ayah-Nya. Dia masih terdiam sambil mengingat perlakuan manis Erlena untuk diri-Nya. Inti-Nya semua bayang-bayang wajah-Nya Erlena penuh di otak-Nya.
"Heh, Melvin! Kenapa sih? Cerita dong, jangan diam-diam mulu, kesal ayah lama-lama sama kamu tuh?" tanya ayah Melvino kesal.
Pletak.
"Haduh, sakit tahu yah. Kenapa sih ayah mukul kepalaku. Sebagai orang tua seharus-Nya nggak boleh memukul anak-Nya apa lagi ini otak yang untuk berpikir. Haduh ada ya orang tua seperti ini," sungut Melvino sambil mengusap-usap kepala-Nya.
"Halah, pintar betul ceramahin orang tua. Giliran orang tua yang ceramahin anak-Nya nggak di ladenin sama sekali," sungut ayah Melvino.
"Ya, nggak gitu juga kali yah, jadi apa yang tadi ayah katakan?" tanya Melvino sambil menaikkan sebelah alis-Nya
"Maka-Nya! Orang tua lagi bertanya malah di diam kan!" Pungkaa ayah Melvino sambil mendelik kan mata nya.
"Iya-iya apa tadi?" tanya Melvino yang mulai sedikit mengerti.
"Kamu kenapa sih? Ayah perhatikan kamu lesu amat pas habis pulang sekolah?" Tanya ayah Melvino mengulangi pertanyaan-Nya.
__ADS_1
"Melvino itu jatuh cinta sama cewek yang Melvino cintai dan sayangi. Tetapi Melvino sendiri yang menyakiti-Nya dengan perkataan Melvino yang sangat kasar. Melvino pun yang menyuruh-Nya untuk pergi dari kehidupan Melvino. Melvino salah paham saat kejadian Adelia di bunuh," tutur Melvino panjang lebar dengan bibir yang sedikit bergetar.
Ayah Melvino pun menganggukkan kepala-Nya tanda mengerti dengan ucapan sang anak.
"Oh, kejadian itu itu sih memang kesalahan dirimu," ucap ayah Melvino.
"Kamu yakin dia pergi karena mau meninggalkan dirimu?" tanya ayah Melvino sambil menaikkan sebelah alis-Nya.
"Pasti lah yah, mungkin dia sudah lelah dengan tingkah laku Melvino atau dia pasti letih menunggu Melvino menyatakan cinta kepada-Nya," balas Melvino tak bersemangat.
"Yakin? Coba kamu pikir-pikir ulang dahulu deh! Kalau kamu letih berjuang untuk mendapatkan-Nya kembali, lantas cewek yang kamu cintai itu bisa berjuang sampai mana? Kalau suatu saat kamu berjumpa dengan dia lagi. Kamu harus menjelaskan-Nya dan perlihatkan lah tanda menyesalmu itu," jelas ayah Melvino.
"Akan tetapi kamu harus mengingat vin. Hati perempuan itu sangat lah lembut. Menangis itu seperti melakukan bicara namun melalui mata, karena bibirmu tak sanggup berucap untuk menjelaskan hatimu yang merana. Sekali kamu sakitin dia mungkin akan cepat pulih tetapi nggak bisa seperti semula," sambung ayah Melvino sambil menepuk-nepuk pundak-Nya Melvino.
"Ayah tanya boleh nggak?" tanya ayah Melvino.
"Boleh dong masak nggak boleh," jawab Melvino lirih.
"Nggak bisalah ayah," jawab Melvino cepat sambil menggeleng-gelengkan kepala-Nya.
"Nah seperti itu hati seorang perempuan," celetuk ayah Melvino langsung pergi meninggalkan anak-Nya yang sedang merenung.
"Huft, pertanyaan-Nya sama kayak si kocak," umpat Melvino.
Setelah ayah Melvino pergi meninggalkan anak-Nya. Sang bunda pun langsung mendekati anak-Nya yang masih merenung.
"Dengarkan nasihat ayah yang diberikan untukmu. Jangan di dengarkan doang, akan tetapi di pahami dan dilakukan juga," tutur bunda Melvino sambil mengusap rambut anak-Nya yang mulai agak memanjang.
Melvino yang mendengarkan ucapan sang bunda hanya menganggukkan kepala-Nya saja.
__ADS_1
"Kamu berjuang mencari-Nya tidak?" tanya bunda Melvino.
"Sudah Bun, sudah dua tahun Melvino mencari-Nya tetap nggak ada hasil-Nya dan Melvin akan terus mencari dia sampai dapat," jawab Melvino lesu.
"Berusaha dong," ucap bunda Melvino memberikan semangat untuk anak-Nya.
"Pasti Bun, Melvino akan berjuang untuk mendapatkan-Nya kembali dan dia akan Melvin jadikan calon masa depan," tekad Melvino sambil menegakkan tubuh-Nya.
"Bun, Melvin masuk kamar dahulu ya, mau istirahat," pamit Melvino.
"Iya, istirahat saja dahulu," balas bunda Melvino.
Di dalam kamar-Nya Melvino...
"Sayang, aku sangat merindukanmu, aku lelah dengan semua ini," ucap Melvino lirih sambil mengusap foto kebersamaan-Nya dengan Erlena.
"Aku sangat mencintaimu Lenaku sayang," ucap Melvino.
Melvino yang hendak tertidur menjadi terbangun karena mendengar suara telepon dari seseorang yang belum di ketahui siapa yang menelpon Melvino.
"Halo ada apa sih, ganggu tahu nggak!?" tanya Melvino dengan suara tinggi-Nya.
"Bos ini saya ada informasi tentang nona Erlena," jawab anak buah Melvino.
Melvino yang tadi-Nya marah karena ada seseorang yang menelpon-Nya, kini Melvino langsung melunak ketika anak buah-Nya memberikan informasi yang sudah dua tahun dia menunggu-Nya.
"Apa kah kau surah mendapatkan informasi-Nya?" tanya Melvino antusias.
"Nona Erlena sedang di Jerman, Minggu depan dia akan pulang ke Indonesia, kabar baik bukan bos?" jawab anak buah Melvino sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kau terhebat, bagus sekali," balas Melvino girang sambil tepuk tangan-Nya.