
Ke empat remaja laki-laki sedang menyantap sarapan mereka. Sarapan di kantin itu adalah kebiasaan mereka, yang selalu sarapan di sekolah Daripada di rumah.
Mengapa mereka tidak sarapan dirumah?
Karena kata mereka takut telat, selain itu alasan nya mereka malas sarapan bersama dengan keluarga nya. Malas ditanya tentang apapun yang mereka lakukan.
Walaupun mereka sering bolos dalam pelajaran, mereka sangat lah pintar dalam mata pelajaran yang mereka sukai. Kecuali Melvino, Melvino itu selalu bisa dalam pelajaran apapun.
"Otak nya tidak seperti kamu kayak udang dan ulat." Sindir author untuk yang suka contek.
Pikir an mereka selalu sama adalah Orang akan menilai baik buruk diri kita dari sikap kita kepada mereka. Inti nya mereka tidak peduli tentang itu.
"Ehh.... Kata orang ada murid baru loh cuy!" Ucap Zayn membuka topik pembicaraan yang sedari tadi hanya keheningan setelah selesai sarapan.
"Cewek atau cowok?" Tanya Zaky antusias.
Ya, Zayn dan Zaky sudah berbaikan. Seperti itu lah mereka tidak butuh waktu yang lama pasti mereka akan saling memaafkan.
"Ya, gue juga nggak tahu sih." Jawab Zayn sambil cengengesan yang membuat Zaky merasa kesal karena diri nya hanya mendapat kan informasi nya hanya sedikit.
"Yah." Ucap Zaky kecewa.
"Lo kok cuman kasih informasi nya setengah - tengah sih!" Protes Zaky kesal setengah mati.
"Jangan salah kan gue dong, gue pun juga tak tahu. Gue saja nggak sengaja dengar dari para cewek - cewek yang gosip di tengah kelas kok." Seru Zayn dengan acuh sambil memutar kan ke dua bola mata nya.
Seorang gadis cantik keluar dari mobil Lamborghini Aventador dengan hoodie biru yang berada di genggaman nya. Banyak sekali pasang mata yang menatap nya dengan tatap an memuja, kagum dan ada juga yang menatap nya iri dengan paras dan juga body goals yang dimiliki gadis itu.
Siapa kah gadis itu?
Gadis itu adalah Erlena Ive sara. Gosip - gosip pun mulai beredar. Erlena melewati koridor kampus banyak sekali yang membicarakan diri nya.
"*Gila cantik bet."
"Geulis pisan uy."
"Mantap bening banget say."
"Ini mah lebih cantik dari cewek luaran sana."
__ADS_1
"Mbak, mau jadi pacar ku nggak?"
"Mana mau dia sama lu, nggak level njir."
"Kenapa sih lu tuh? Sirik amat dari tadi."
"Halah, cantik an gue juga."
"Heh, wajah lu saja pas - pas an, masih cantik kan dia juga."
"Iri bilang bos!"
"Ngapain iri sama bocah bau kencur! Punya kaca kan lu dirumah? Kaca situ, jelek nya minta ampun tuh wajah."
"Ehh, itu kalau nggak salah Erlena kan?"
"Ha? Yang benar lu?"
"Iya astaga! Dia Erlena Cok."
"Kalian kenal?"
"Padahal bukan Erlena, yang bunuh adik nya sampai koma itu adalah musuh keluarga nya sendiri."
"Ih.... Bego banget ya si Melvin! Nggak nyangka gue."
"Pantas saja dia nggak mau di dekatin cewek lain."
"Ternyata oh ternyata dia menyesal menyia - nyia kan cinta tulus nya Erlena*."
"Cih, gue nggak bakal ngejar - ngejar dia lagi." Ucap Erlena di dalam hati yang mendengar kan gosip - gosip mereka mengenai hubungan antara diri nya dan Melvino.
Gosip - gosip yang mulai beredar dari mereka. Hanya di anggap angin lalu oleh Erlena. Dengan acuh Erlena tetap mencari letak ruang kepala sekolah dengan gaya cool.
Erlena yang belum mengetahui tempat ruang kepala sekolah pun menyusuri jalanan. Erlena yang melihat ada seorang siswi yang baru keluar dari toilet langsung mengejar nya.
Erlena menghampiri siswi yang tadi lalu menepuk bahu seorang siswi dari belakang.
"Halo." Sapa Erlena sambil melambai kan tangan kanan nya.
__ADS_1
"Boleh tanya tidak?" Tanya Erlena ramah sambil tersenyum manis.
Mendengar suara gadis yang menurut nya sangat familiar. Langsung saja cewek tadi menoleh ke arah belakang dan mendapati seseorang yang menegur nya tadi.
"Ha? Astaga! Nggak mimpi kan ini gue?" Teriak cewek tadi yang membuat semua orang menoleh ke arah nya.
"Lu Erlena kan?" Tanya cewek tadi.
"Iya, ini gue Lena. Jangan teriak - teriak ihh Dev, malu di lihatin semua orang." Ucap Erlena yang merasa kesal dengan Devina.
Devina yang baru menyadari tingkah laku nya yang membuat semua orang menatap diri nya dengan tatap an aneh. Devina pun cengengesan dan melanjut kan pertanyaan lagi.
"Kok lu pulang nggak kabarin gue sih Len?" Tanya Devina merasa kesal sambil melipat kan ke dua tangan nya di atas dada nya.
"Kan gue mau kasih surprise buat kalian semua, ehh tahu - tahu nya malah ketemu elu." Jawab Erlena santai.
"Pokok nya Lo harus cerita ke kita semua, apa saja yang lu lakukan disana sampai bisa pulang kesini lagi." Titah Devina dengan nada ketus.
"Iya deh, iya..." Ucap Erlena pasrah tanpa mau memperpanjang perdebatan nya dengan sahabat nya.
Kalian masih ingat sama Devina kan?
Harus ingat dong, berarti kalian nggak baca dari awal hahaha.
"Ayuk antar kan gue ruang kepala sekolah dahulu." Ajak Erlena.
"Ohh iya gue lupa, yuk gue antar kan." Ajak Devina sambil menggandeng tangan nya Erlena agar mengikuti diri nya.
Interaksi dan perlakuan Devina terhadap Erlena
banyak pasang mata yang melihat mereka berdua yang ada di dekat toilet tersebut.
Sesampai di ruang kepala sekolah...
"Nah, ini ruang kepala sekolah-Nya. Lo masuk saja, gue tunggu in lu disini, kalau lama gue tinggal nggak mau tahu," ucap Devina sambil tersenyum lebar.
"Oke, jangan tinggal kan gue loh ya! Gue nggak tahu tempat ini. Kalau lu pergi gue hajar lu habis-habisan," ancam Erlena sambil menatap tajam ke arah Devina.
"Iya bos-iya gue mah nurut-nurut saja," Patuh Devina cekikikan geli melihat tingkah laku Erlena yang menurut nya sangat menggemaskan.
__ADS_1