
SESAMPAI DI BALI.......
"Woh, sangat gila epribadeh!" teriak Amanda kesenangan.
"Akhir-Nya kesini lagi, yey huaaaa!" teriak Zanna sambil merentangkan tangan-Nya ke udara.
"Yey, akhir-Nya bisa ke sini lagi sekian lama-Nya senang-Nya hati berkelilingi kota hendak melihat-lihat keramaian cintaku!" jerit Erlena sambil tepuk tangan.
Melvino yang melihat tingkah laku Erlena yang menurut-Nya sangat lucu hanya tersenyum tipis.
"Papi kita ke sini lagi yes, yuhu!" jerit mami Erlena sambil memeluk papi Erlena.
"Papi ingat nggak kita pernah ke sini? Kira-kira sudah berapa lama ya kita nggak ke tempat ini lagi pi?" tanya mami Erlena sambil mendongakkan kepala-Nya untuk melihat wajah sosok yang dia cintai selama ini.
Papi Erlena pun menurunkan kepala-Nya untuk melihat wanita yang paling dia cintai di dunia ini setelah ibunda-Nya.
"Eum, kapan ya kita ke sini lagi? Kira-kira mami tahu nggak kita sudah berapa lama nggak ke sini lagi?" tanya papi Erlena balik sambil mencium dahi sang istri-Nya.
"Loh kamu tuh nggak jelas ya! Kan aku yang tanya sama kamu, kamu kok malah tanya balik ke aku sih? Dasar nggak jelas," jawab mami Erlena langsung melepaskan pelukan-Nya tadi.
Papi Erlena yang melihat tingkah laku-Nya istri-Nya seperti itu kalang kabut. Karena takut sang istri menjadi marah kepada-Nya yang berakibat dia tidak bisa tidur bersama istri-Nya.
Papi Erlena pun mendekati sang istri dengan hati yang tidak karuan.
"He-he-he, papi kan cuman becanda mamiku sayang, kita sudah tidak ke sini lagi inti-Nya saat Lena sudah berusia tujuh tahun," ucap papi Erlena langsung memeluk tubuh-Nya istri-Nya dari belakang dan menaruh dagu-Nya di bahu sang istri.
"Owh, iya yah. Aku baru ingat. Kok aku bisa lupa sih?" tanya maki Erlena sambil memiringkan kepala-Nya sambil melihat wajah suami-Nya yang menahan senyum-Nya.
"Iya mam," ucap papi Erlena sambil memeluk balik tubuh istrinya dan mengelus-elus rambut istri tercintanya.
"Mami lu sama papi lu bucin juga ya Len," ucap Zaky dengan nada yang kecil agar tidak di dengar oleh kedua orang tua Erlena.
"Iya tuh, yang di katakan oleh Zaky benar," sahut Devina dengan nada yang kecil sambil memperhatikan kedua orang tua Erlena.
"Sudah tahu kan, mami sama papi gue kalau bucin ya kayak gitu," ucap Erlena dengan nada kecil karena dia takut telinganya akan di jewer.
"Tan, kita menginap di mana?" tanya Melvino singkat kepada ke dua orang tua Erlena.
"Di vila xxxx sayang, sudah ada orang yang menyewakan tempat untuk kita," jawab mami Erlena sambil tersenyum tipis.
"Owh, oke tan," balas Melvino singkat.
__ADS_1
"Ini saya pesankan taksi-Nya ya, sekarang?" tanya Zayn yang sudah ingin memesan taksi dari ponsel-Nya.
"Ekhhh nggak usah nak, sudah ada sopir kok yang bentar lagi akan datang, jadi nggak perlu repit-repit untuk memesan taksi," jawab papi Erlena yang sedang duduk di kursi.
"Owh gitu toh, maaf om baru tahu he-he-he," balas Zayn yang membatalkan niat-Nya untuk memesan taksi.
"Ya, nggak apa-apa lah orang saya juga baru ngasih tahu kok sama kalian," balas papi Erlena sambil tersenyum lebar.
"Sip deh om," jawab Zayn sambil memberikan jempol kepada papi-Nya Erlena.
"Oh iya! Om kan sama tante belum kenal sama kalian, coba kalian perkenalkan diri kalian masing-masing!" titah papi Erlena sambil menatap teman-teman anak-Nya.
"Nama saya Zayn, teman Erlena, dan pacar-Nya Zanna he-he-he," ucap Zayn sambil merangkul bahu Zanna dengan rasa percaya diri.
"Ihh malu Bodoh, ck!" sarkas Zanna sambil mendelikan matanm-Nya.
"Sorry beb. Janganlah marah-marah nanti cantik-Nya hilang loh," jawab Zayn sambil menggarukan tengkuk lehernya.
"Terus kalau cantik-Nya hilang kamu mau sama cewek banci atau jablay hah?" tantang Zanna emosi sambil mengacak pinggang-Nya dan menatap tajam ke arah Zayn.
"Idih mana mau aku sama cewek yang begituan, mending aku jomblo seumur hidup hih!" Umpat Zayn sambil bergidik ngeri.
Semua orang yang melihat-Nya pun tersenyum geli sambil menggeleng-gelengkan kepala-Nya.
"Saya Zaky, pacar-Nya Devina," ucap Zaky dengan senyum lebar-Nya.
"Saya Raja!" Ucap Raja singkat.
"Saya Devina, om tante," ucap Devina.
"Saya Zanna, om Tan," ucap Zanna sambil tersenyum tipis.
"Saya amanda, om Tan," ucap Amanda.
"Ouhh oke," jawab mami Erlena singkat.
TIT
TIT
TIT
__ADS_1
"Pak Rudi?" tanya sopir.
"Iya!" jawab papi Erlena singkat.
"Mari pak, saya yang akan mengantarkan kalian menuju ke arah villa," balas sopir dengan ramah.
"Siap om, terima kasih!" Ucap Erlena nimbrung.
Mereka semua pun telah memasuki taksi yang di suruh oleh dia. Mereka menikmati perjalanan yang mereka lewati, mereka sibuk masing-masing. Devina, Amanda, dan Zanna tertidur sambil memeluk bantal mereka masing-masing.
Sedangkan Melvino, Zaky, zayn, dan Raja bermain game 'FREE FIRE'. Kalau kalian bertanya sedang apakah Erlena. Erlena sedang bertukar pesan dengan dia.
"Len, dia sudah ada di sana apa belum?" tanya mami Erlena sambil melihat ke arah anak-Nya.
"Sudah mami, dia lagi nungguin kita sambil merokok kok. Kata-Nya santai saja," jawab Erlena singkat sambil melihat ke arah mami-Nya kemudian mengalihkan oandangan-Nya ke arah samping.
Yang lain-Nya hanya diam mendengarkan percakapan seorang anak dan ibu-Nya.
"Kebiasaan tuh anak!" pungkas mami Erlena sambil mengepalkan tangannya.
"Dia siapa Len?" tanya Zayn penasaran.
"Ada deh, lihat saja nanti. Jangan penasaran," jawab Erlena singkat dan mematikan ponsel-Nya.
"Orang pacar gue tanya ya berarti penasaran dong Len, terus apa kalau bukan penasaran ha-ha-ha," ucap Zanna yang di akhiri dengan tawa-Nya.
"Hum," deham Zayn.
"Siapa dia itu? Sampai-sampai Erlena dan kedua orang tua Erlena mengenal-Nya, apa kah dia pacar Erlena? Atau sepupu? Atau teman dekat? Akhh bodolah, ngapain juga gue kayak gini! Nggak! Nggak, nggak boleh mikirin dia!" ucap Melvino yang menerka-nerka siapa dia itu.
Melvino langsung menggelengkan kepala-Nya dan memukul kepala-Nya.
"Ekhh! Elvin pusing?" tanya Erlena khawatir.
Melvino hanya menggelengkan kepala-Nya.
"Kalau pusing bilang ya!" titah Erlena sambil mengelus-ngelus rambut Melvino.
Melvino tiba-tiba merasakan detak jantungnya terasa cepat.
"Jiakhhhhh huhuyy," sorak mereka semua.
__ADS_1
"Hm," sahut Melvino dingin sambil menjauhkan tangan Erlena dari kepala-Nya.
"Huft," sahut Erlena menghembuskan napas kasar-Nya.