
"Wa'alaikum salam Lena," ucap mami Erlena lirih sambil menatap bersalah kearah anaknya.
Papi Erlena pun menasehati Erlena agar kalau ngomong sama orang yang lebih tua itu harus sopan. Terlebih lagi dia adalah orang tua kita.
"Ah, sudah lah pi. Bela saja mami-Nya terus, Lena paling nggak suka jika mami ngomong-Nya kayak seperti tadi! Mentang-mentang papi donatur di sekolah boleh terlambat sesekali? Belajar dari mana sih? Kok ada orang tua yang mendukung anak-Nya untuk terlambat ke sekolah walau pun hanya sekali ha-ha-ha?" ucap Erlena yang di akhiri tawa-Nya.
"Nama-Nya peraturan ya tetap peraturan pi, Lena tidak mau teman-teman di sekolah Lena memandang sebelah mata! Itu tidak akan Lena biarkan, nanti Lena di bilang sombong. Padahal mah Lena nggak sombong maka-Nya Lena menyembunyikan latar belakang Lena asal papi sama mami tahu!" Ucap Erlena lantang sambil menatap datar ke arah mami dan papi-Nya itu.
Papi Erlena hanya berdiam diri tanpa membalas perkataan anak-Nya. Memang ada benar-Nya yang di katakan oleh anak-Nya, diri-Nya merasa malu tadi membela istri-Nya yang jelas-jelas salah.
"Maafkan papi Len. Papi tahu salah, tetapi kamu jangan pernah menjawab orang tua seperti itu," ucap papi Erlena sambil menatap lembut ke arah anak-Nya.
"Hm. Lena tahu itu, Kasih tahu tuh istri papi di rumah kalau ngomong tuh di pikir dahulu. Jangan asal ceplos. Sebelum ngomong tuh alangkah lebih baik-Nya di pikir dahulu," sahut Erlena sambil membuka pintu-Nya.
"Assalamualaikum Lena pamit mau pergi dahulu ke sekolah," pamit Erlena langsung menutup pintu mobilnya papi-Nya.
"Wa'alaikum salam, hah mengapa juga aku tadi bela mami, betul yang di katakan oleh Lena. Nanti deh aku kasih tahu dia. Memang sih kadang-kadang mami itu suka nyeplos kalau ngomong," gumam papi Erlena di dalam hati sambil pergi dari kawasan tersebut.
"Pagi guys!" Sapa Erlena dengan senyum tipisnya.
"Pagi juga Lena," sapa semua anak-anak yang ada di kelas.
"Mari kita belajar, semangat ya guys dalam menghadapi ujian hidup!" Ucap Devina sambil menyemangati teman-teman-Nya.
__ADS_1
"Semangat guys!" Seru mereka semua serentak.
Mereka pun belajar dengan penuh semangat karena mereka akan menaiki kelas dua belas. Banyak tugas yang di berikan oleh guru mereka masing-masing untuk kita bisa mengerjakan ulangan nanti-Nya.
"Elvin kusayang yuhu!" Panggil Erlena sambil berlari menuju ke arah Melvino.
"Ya, ada apa Len?" jawab Melvino sambil tersenyum tipis saat melihat kehadiran Erlena.
"Kamu mau permen nggak? Aku bawa permen loh, mau nggak enak loh permen-Nya?" tanya Erlena sambil menyodorkan permen stroberi milkita-Nya.
"Boleh deh, gue mau juga permen-Nya rasa-Nya kayak apa sih," jawab Melvino sambil mengambil permen dari Erlena.
"Pasti enak kok permen-Nya, manis banget ada rasa susu-Nya juga loh," ucap Erlena antusias.
"Oh iya? Gue belum tahu rasa-Nya seperti apa, karena gue belum pernah makan permen sebelum-Nya," balas Melvino sambil memegang permen milkita dari Erlena sambil tersenyum tipis.
"Iya, beneran. Gue aja kalau lihat permen kayak apa ya. Aneh saja gitu rasa-Nya kayak menolak hati ini," jawab Melvino sambil menatap ke arah Erlena.
"Ya, iyalah orang kamu saja selalu merokok kok. Jadi kalau tanpa merekomendasikan nggak bisa hidup kali kamu tuh ha-ha-ha," balas Erlena yang di akhiri dengan tawa-Nya.
"Makasi," balas Erlena sambil tersenyum manis.
"Kenapa makasi? Kan seharusnya gue yang berterima kasih?" tanya Melvino bingung.
__ADS_1
"Makasi, karena kamu menerima permen dari aku. Sebab selama ini kamu selalu nolak pemberian dari aku..." ucap Erlena lembut sambil menatap lembut kearah melvino.
Melvino yang mendengar ucapan Erlena merasa bersalah, karena ulahnya dahulu. Pasti sakit yang di rasakan oleh Erlena. Kini dia sudah menyadari bahwa dia juga mulai mencintai Erlena, ekh bukan mulai mencintai akan tetapi sudah mencintai Erlena. Namun, dia masih gengsi untuk mengungkapkannya.
"Sorry," sahut Melvino sambil membalas tatapan lembut ke arah erlena.
"Permen ini biar kamu nggak dingin lagi sama aku, supaya kamu bisa cinta sama aku. Kan warnanya pink he-he-he..." ucap Erlena spontan.
"Permennya juga semoga kita bisa saling memiliki, tetapi itu pasti tidak mungkin. Karena kita tidak akan bisa bersatu," lirih Erlena sambil mengalihkan pandangan-Nya kearah lapangan sekolah.
"Ingat ya, Vin... Kamu harus ingat jika aku sudah pergi dari sisimu, bahwa aku adalah cewek yang terhebat bisa berjuang sampai saat ini. Aku nggak maksa kamu buat ingat perjuanganku sih, cuman kalau aku sudah pergi jangan lupakan cewek bodoh ini ya..." ucap Erlena panjang lebar.
"Sudah ya Vin, aku pergi dahulu. Jangan lupa di makan permen nya. Dadah..." pamit Erlena sambil pergi dari hadapan Melvino
"Permen ini adalah permen yang spesial menurut gue Len, karena ini pemberian elu. Sorry selama ini gue selalu nyakitin perasaan lu dengan sikap gue yang keterlaluan ini," ucap Melvino menatap sedih kearah Erlena yang kian mulai menjauh.
"Gue mencintai lu Len, tetapi gue masih belum berani untuk mengungkapkannya. Kita ikutin saja alurnya seperti apa ya Len, gue cuman berharap semoga perasaan elu masih belum berubah," ucap Melvino di dalam hati sambil pergi dari rooftop.
Saat semua murid pulang sekolah, kini Erlena tengah menunggu Bimo. Erlena sudah menelpon Kevin untuk menyampaikan bahwa mereka agar cepat kesekolah Erlena untuk mengikutinya secara diam-diam.
"Lena," panggil Bimo yang mengendarai motornya.
"Hum?" ucap Erlena aneh.
__ADS_1
"Buruan cepat, gue sudah dapat tempatnya," ungkap Bimo di atas motor nya.
"Ha? Ohh iya gue lupa. Buruan!" Pungkas Erlena sambil menaiki motornya Bimo.