
Melvino memejamkan mata-Nya dengan air mata yang mengalir sangat deras. Sakit, itu lah yang di rasakan-Nya. Melvino mendekap surat dari Erlena dan mengelus dengan kasih sayang, seolah-olah di hadapan-Nya adalah Erlena.
Melvino menatap nanar ke arah depan. Pemandangan awan yang membendung bewarna ke abu-abuan di rooftop sekolah ini tidak seperti biasa-Nya. Langit tetap memancarkan warna ke abu-abuan dan oranye yang menyilaukan, yang baru pertama kali Melvino melihat-Nya.
Ada pun awan hitam yang bergelayut manja di atas sana, seolah-olah tahu isi hati Melvino yang sekarang. Melvino menghela napas berat-Nya dan melihat surat di hadapan-Nya.
Di pikiran-Nya sekarang adalah kosong. Semua ini rasa-Nya seperti di dunia maya bukan si Luna Maya, namun diri-Nya harus terima kenyataan bahwa ini adalah dunia yang nyata. Lagi-lagi air mata-Nya pun ikut menetes, warna mata Melvino sekarang memerah akibat menangis.
Teringat jelas waktu dahulu Melvino selalu menolak bekal pemberian Erlena, akan tetapi dia selalu menolak-Nya dengan bentakkan atau menggunakan suara notasi tinggi-Nya. Wajah Erlena yang masih teringat jelas, dia membendung air mata-Nya dengan bibir yang bergetar.
Melvino tak kuasa menahan rasa sakit dan nyeri di hati-Nya, sakit, sungguh rasa-Nya sangat sakit. Rasa sakit ini tak mampu terucap dengan kata-kata. Di luaran sana, langit yang sudah mendung, dengan awan hitam yang menggantung seperti jemuran.
Hujan ingin turun, namun masih tertahan di kelopak awan. Karena hujan sudah turun di kelopak mata seseorang yaitu Melvino. Rasa-Nya ingin sekali Erlena di sini, selalu menenangkan jika dia emosi maupun sedih.
Diri-Nya sangat menginginkan gadis itu, dia bukan gadis bodoh lagi. Tetapi dia gadis tubuh yang kecil berbanding terbalik dengan kekuatan. Itu lah yang bisa Melvino diskripsikan gadis yang dia cintai.
"Sayang aku mohon maafkan lah aku atas apa yang pernah kuperbuat di masa lalu. Maafkan si brengsek ini yang sangat ingin gadis yang dia sangat cintai ke dalam dekapan diri-Nya lagi," ucap Melvino sambil membaringkan tubuh-Nya di lantai tanpa menghiraukan bahwa di lantai sudah banyak kotoran air hujan saat Melvino belum datang ke sini.
"Aku akan berusaha mencarimu di mana pun kamu berada, karena hati ini sudah di bawa olehmu yang artinya aku percayakan bahwa hatiku akan aman bila bersamamu. Aku sangat menyayangi dan mencintaimu Erlena Ive Sara," lirih Melvino yang di akhiri senyuman nanti pedih-Nya.
......................
Di sisi lain di tempat Jerman. Di Negara Erlena berada sudah menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh menit malam.
__ADS_1
Kini Erlena sendirian di dalam apartemen milik-Nya, sedang duduk di seberang tempat tidur-Nya.
lalu kemudian Erlena pun mengistirahatkan tubuh-Nya di atas ranjang.
"Akhir-Nya ya Lord, gue bisa rebahan juga hiks.." Ucap Erlena sambil merentangkan kedua tangan-Nya dan memejamkan mata-Nya.
Baru sebentar saja Erlena teringat dengan ucapan sang mami-Nya jika kalau setiap mau tidur harus video call sama mami-Nya. Sebena-Nya Erlena malas melakukan hal tersebut. Nemun, setelah di pikir-pikir itu sangatlah bagus karena orang tua-Nya masih menganggap dan mengkhawatirkan kepada anak-Nya.
"Huh, untung saja gue ingat. Kalau gue nggak vc mami bisa barabe hidup gue kena ocehan marathon," keluh Erlena langsung mengambil ponsel-Nya di atas nakas.
DI DALAM TELEPON ERLENA DENGAN MAMI NYA...
"Heh, kemana saja kamu tuh? Mami dari tadi nungguin kamu telepon tahu nggak, mami sudah khawatir jika kamu ada apa-apa?" tanya mami Erlena di seberang sana.
"He-he-he, sorry mam Lena hampir lupa," jawab Erlena cengengesan.
"Iya tadi lena hampir lupa karena mau ketiduran mamiku sayang cintaku," jawab Erlena sambil menguap akibat lelah bekerja.
"Kemana saja kamu, sampai-sampai kamu mau ketiduran hm?" tanya mami Erlena kembali.
"Habis jalan-jalan dan cuci mata mi," jawab Erlena santai.
"Hah? Cuci mata? Emang bisa ya cuci mata, kalau bisa cuci mata mami juga pingin dong dan pingin cobain rasa-Nya bagaimana?" tanya mami Erlena polos.
__ADS_1
"Haduh, mami gue ini polos atau bodoh sih," umpat Erlena di dalam hati.
"Halo? Lena?" panggil mami Erlena sedikit meninggi.
"Hah? Iya mi, ada apa?" tanya Erlena tersadar.
"Kamu cuci mata di mana mami pingin tahu?" tanya mami Erlena kembali.
"Lihat cogan mamiku, sayangku," jawab Erlena dengan suara yang di imut-imutkan.
"Owh, bagus tuh. Biar kamu bisa move on sama Melvino," balas mami Erlena senang.
Erlena pun terdiam, dia teringat sudah delapan bulan dia tidak menganggu Melvino saat kejadian itu. Apakah Erlena masih mencintai Melvino? Jawaban-Nya adalah masih, cuman Erlena masih di tahap untuk melupakan Melvino.
"Hai! Nggak usah ngingat dia lagi. Fokus saja di sana. Semoga apa yang kamu inginkan tercapai," ucap mami Erlena menyadarkan keterdiaman Erlena.
"Iya mi, aamiin," balas Erlena sambil tersenyum tipis.
"Sudah ya, mami mau tidur nih. Papi dari tadi manggil terus," pamit mami Erlena.
"Oke mi siap," balas Erlena.
Tut
__ADS_1
Tut
Tut.