
Saat Melvino ingin membuka kotak hadiah-Nya, tiba-tiba Erlena mencegah-nya agar Melvino tidak membuka kotak hadiah-nya sekarang.
"Mengapa sih lu tuh?" tanya Melvino penasaran sambil menaikkan sebelah alis-Nya.
"Tidak apa-apa kok Vin," jawab Erlena sambil tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa? Tetapi mengapa lu mencegah gue agar tidak membuka kotak hadiah dari pemberian elu, apa kah ini hadiah yang akan mengejutkan diriku atau lu macam-macam sama gue?" tanya Melvino dingin sambil menatap tajam ke arah Erlena.
"Nggak mungkin aku macam-macam sama kamu, aku saja takut lihat wajahmu itu yang sangat menyeramkan kayak monster," sahut Erlena sambil tersenyum tipis.
"Jadi gue itu monster gitu? Iya hah!? Kalau gue pun monster mengapa lu bisa cinta sama gue dan mengapa banyak yang ngejar-ngejar gue?" tanya Melvino sambil tersenyum miring.
"Nggak gitu juga sih Vin, kan cinta nggak mandang fisik, harta atau hal-hal yang lain. Ya, mana kutahu kalau banyak yang ngejar-ngejar kamu," jawab Erlena malas sambil memutarkan kedua bola mata-Nya.
"Hilih, seterah lu ah, tetapi apa dahulu alasan-Nya mengapa gue belum boleh buka ini kado dari pemberian elu?" tanya Melvino sambil menaikkan sebelah alis-Nya.
"Eum...Aku rasa tidak sih maksud-Nya aku. kamu jangan buka sekarang kado-nya, nanti saja, kapan-kapan lah!" ucap Erlena tegas.
"Terus kapan? Tahun depan atau kapan lagi sih? Gue ini sudah terlanjur penasaran?" tanya Melvino sambil memutar kedua bola mata-Nya.
"Boleh juga sih, tetapi jangan deh kelamaan. Ketika kamu rindu sama aku atau aku sudah pergi jauh dari sisimu saja deh itu lebih baik seperti-Nya," jawab Erlena becanda padahal dalam hati-nya mengiyakan ucapan-nya.
Melvino yang mendengar ucapan Erlena menyeringitkan dahi-Nya yang artinya bingung dan merasa aneh dengan gerak-gerik Erlena. Namun, diri-Nya lebih bersikap bodo amat terhadap si Erlena agar dia tidak di curigai oleh Erlena.
"Aneh! Dasar bodoh, ada-ada saja kelakuan-Nya!" Ledek Melvino sengaja sedikit mengeraskan suara-nya agar Erlena mendengar ledekan-nya.
Erlena yang mendengar umpatan dari Melvino hanya diam dan tersenyum pedih. Namun, dia tepis perasaan-Nya itu tidak baik untuk hati-Nya.
__ADS_1
"Sudah ya, aku cuman datang kesini hanya memberikan kamu kado doang! Ingat jangan di buka sekarang! Di simpan baik-baik jangan sampai hilang itu bagi aku untuk kenang-kenangan saja. Tetapi kalau kamu ingin membuang kado-Nya ya sudah seterah kamu!" ucap Erlena sambil menatap tajam ke arah kado yang ada di tangan Melvino.
"Iya-iya cerewet banget ah!" Sungut Melvino sebal.
"Sudah-sudah sana, nggak usah banyak omong! Lu lebih baik balik ke kamar elu deh!" Usir Melvino dengan mengibas-ngibaskan tangan-nya.
"Siap Elvinku sayang! Tetapi sebelum itu boleh nggak aku meluk kamu, ya boleh ya. Plis banget nih? Kan kamu baik atuh!" Izin Erlena dengan pupy eyes-nya.
"Hah? Nggak, nggak, nggak. Gue nggak mau ya kalau di peluk sama lu!" Ucap Melvino menolak mentah-mentah sambil menggeleng-gelengkan kepala-nya.
"Ishhh, masak nggak mau sih!" desis Erlena sambil merengutkan wajah-nya dan menghentak-hentakkan kaki-nya.
"Dua menit saja kok! Please! Please! Boleh ya ya!" Ucap Erlena memaksa dengan tangan yang memohon.
Ketika Melvino melihat tingkah laku dan ucapan memohon Erlena, hati-Nya terenyuh dan merasa tidak tega untuk menolak-nya. Melvino langsung menganggukkan kepala-nya dua kali.
"Yey, akhir-Nya bisa meluk kamu huhuhu!" Sorak Erlena sambil tepuk tangan dan tersenyum lebar.
"Kamu tuh, memang bodoh, sudah menyia-nyiakan cewek secantik dan sebaik diri-Nya!" Sungut author.
"Loh, kok aku bodoh thor! Kan kamu yang buat peranku seperti ini, jadi kamu yang bodoh, sebenar-Nya aku juga nggak mau nyia-nyiakan Lena!" Sungut mMelvino emosi yang tidak terima saat di katakan bodoh.
"Ahh tahu ah bodo amat, emang gue pikirin!" ucap author kesal.
"Amat nggak bodoh!" seru Melvino sambil menjulurkan lidah-nya.
"Hah, sudahlah!" seru author.
__ADS_1
SKIP.
Erlena langsung berlari mendekati Melvino dan.......
Grep.
Erlena memeluk tubuh Melvino dengan erat sambil mengendus-endus di dada-Nya Melvino, yang membuat Melvino merasakan geli di dada-Nya.
Tubuh Melvino menegang saat tubuh-Nya di peluk erat oleh Erlena, tanpa ragu dari hati dan otak-nya. Melvino membalas pelukan Erlena sambil mengusap rambut panjang erlena.
Melvino pun menaruh dagu-nya di atas kepala Erlena, diri-nya merasa nyaman sekali. Selama ini Melvino tidak pernah merasakan kenyamanan seperti ini. Jika bersama bunda-nya Melvino merasakan kehangatan dari sang ibu, akan tetapi ini berbeda.
Melvino tidak bisa mendiskripkan gejola perasaan yang di rasa kan aneh dan juga jantung-nya berpacu dengan sangat cepat saat bibir Erlena mengecup dada Melvino dan menaruh kepalanya di depan dada-nya melvino.
Erlena merasa bingung sekaligus senang. Bingung karena Melvino tidak menolak pelukan diri-nya. Senang karena di peluk balik oleh Melvino.
Tak terasa dua menit sudah berlalu dan kini mereka berpelukan hingga lima menit.
Erlena pun tersadar dan karena ini sudah lebih dari 2 menit. Langsung saja Erlena melepaskan pelukan-Nya dengan kasar.
Melvino kaget karena pelukan yang membuat-nya terasa nyaman, di lepas dengan kasar. Terkejut itulah yang di rasakan oleh Melvino.Tetapi Melvino sangat cerdik untuk menutupi keterkejutan-nya tadi.
"Sudah kan?" tanya Melvino dingin.
"Su..dah.." jawab Erlena gugup.
"Ya sudah, elu balik kekamar lu. Sudah jam 1 malam," titah Melvino dingin.
__ADS_1
"Oke," patuh Erlena langsung pergi dari kamar-nya Melvino.
Melvino hanya menatap kepergian Erlena dari kamar-nya.