Berjuang Atau Menyerah

Berjuang Atau Menyerah
Episode 92


__ADS_3

"Erlena," jawab Erlena singkat.


"Seperti-Nya aku melihat kamu dari negara Indonesia ya? Karena aku lihat-lihat wajahmu ada keindonesiaan-Nya gitu loh. Benar nggak sih yang aku ucapkan?" tanya seseorang memakai bahasa Indonesia.


"Ya kalau lu sudah tahu, mengapa lu tanya-tanya lagi hah dan apa kah kamu bisa bahasa Indonesia dengan lancar ya?" tanya Erlena balik sambil menatap datar ke arah seseorang yang ada di hadapan-Nya ini.


"He-he-he iya , perkenalkan nama aku adalah Olivia," ucap seseorang yang telah diketahui nama-Nya adalah Olivia.


"Nggak tanya sih gue tuh, mau jungkir balik kah mau nama lu kayak artis kah kayak monyet sekalian mah gue bodo amat. Karena itu bukan urusan gue juga toh," gumam Erlena sambil memutarkan kedua bola mata-Nya.


"Kan aku cuman kasih tahu doang, emang nggak boleh ya. Kenapa juga kamu itu kayak sewot gitu kalau ngomong sama aku. Oh, mungkin emang udah jadi orang sewot pas lahir kali ya he-he-he," sungut Olivia sambil mengerucutkan bibir-Nya ke depan.


Plak.


"Auch, kok kamu tampar bibirku yang seksi ini sih. Bibir seksi ku ini tidak ada salah loh sama kamu tahu nggak?" tanya Olivia kesal.


"Jijik gue lihat bibir monyong lu tuh, kayak bebek kayak gini nah.... Kayak bebek bibir depan dan suara beo ha-ha-ha," ucap Erlena sambil menirukan bibir-Nya seperti hewan bebek beneran lalu dia tertawa terbahak-bahak.


"ihh, kamu kok jahat sih sama aku, padahal aku ini cewek yang paling cantik di negara iniloh," ucap Olivia narsis.


"Sudah gue bilang gue nggak tanya, nggak peduli kalau lu cantik-Nya kayak apa. Kalau lu sama gue jika di bandingkan pun masih cantik kan dan elegan gue," sahut Erlena sambil memutarkan kedua bola mata-Nya.


"Kamu tuh ya kok bisa ya bikin aku kesal dengan ucapanmu itu. Tau kok aku kalau kamu itu paling cantik di bandingkan aku," dramatis si Olivia sambil menyentuh dada-Nya.


"Hm," Erlena hanya berdeham saja.


"Aku selalu melihat mu sendiri terus saat disini? Emang-Nya orang tua kamu ada di mana? Apa kah kamu berpisah dengan orang tua kamu untuk mengejar cita-cita atau karir?" tanya Olivia kepo sambil menaikkan sebelah alis-Nya.

__ADS_1


"Orang tua gue ada di Indonesia," jawab Erlena singkat dengan tatapan nanti datar.


"Sudah ya, gue mau masuk terlebih dahulu. Sampai jumpa jika kita bakalan bertemu," sambung Erlena sambil tersenyum tipis.


"Iya, sampai jumpa juga juga," balas Olivia sambil tersenyum senang.


"Semoga kita bakalan bertemu kembali, karena aku sudah mulai merasa nyaman jika berada di dekatmu. Jarang sekali ada orang yang bakalan respon pembicaraanku he-he-he," ucap Olivia di dalam hati sambil berbalik arah untuk menuju ke bawah.


"Huft, tuh orang kok sok kenal dan sok akrab banget dah sama gue hih" ucap Erlena ketika sudah memasuki apartemen-Nya.


"Apa lagi tanya-tanya tentang kehidupan gue segala. Menyebalkan sekali sih, emang dia siapa? kayak wartawan saja huh. Hari ini sudah di buat pusing sama tuh anak!" Gerutu Erlena kesal langsung pergi menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh-Nya.


......................


MELVINO POV


"Mengapa semua menjadi seperti ini sih, aku sangat bodoh sekali bisa mempercayai omongan si dia. Karena dia aku jadi salah paham dengan Erlena jika tidak ada dia, mungkin aku akan selalu bahagia bersama gadis yang kucintai," ucapku bagai orang yang tak waras.


Aku pun menendang pot bunga yang ada di sekitarku, sehingga pot bunga tadi menjadi hancur. Hanya demi melampiaskan emosiku saja, tempat ini yang bisa menyembuhkan rasa rinduku terhadap Erlena yang entah keberadaan-Nya masih belum di temukan.


"Mengapa tidak ada yang memberitahu u? Jika Erlena tidak ada lagi disini? Mengapa? Arrgghhhhh..." Teriakku dengan emosi yang memuncak sambil menjambak rambutku dengan kasar.


"Aku rindu padamu Lena, aku sangat mencintaimu. Aku sangat berharap kamu masih mencintaiku sampai saat ini," gumam Melvino tak yakin.


Aku memejamkan mataku untuk meredamkan emosiku yang memuncak ini, dengan rasa sakit ini dan sesakku.


Aku selalu melihat disekitar tempat ini, dimana dahulu aku selalu menyakiti diri-Nya dengan ucapanku yang tak pantas sehingga membuat-Nya menangis dan membuat-Nya merasakan terluka. Pasti perasaan itu masih membekas di hati Erlena.

__ADS_1


"Kau sangat bodoh Melvin, kau baru menyadari kesalahanmu dan terlambat mengungkapkan perasaanmu yang sebenar-Nya. Ck, ck, dasar kau bodoh!"


"Benar, aku memang sangat bodoh."


"Kau teramat bodoh Melvin, kau sudah kehilangan diri-Nya ha-ha-ha dan itu semua atas permintaanmu sendiri,"


"Tidak! Tidak, aku tidak akan biarkan itu terjadi! Kali ini biarkan aku yang memperjuangkan cinta-Nya kembali."


"Cih, apa yang kau katakan? Memperjuangkan-Nya? Ck, Semua-Nya sudah terlambat. Semua sudah terlambat atas kesalahan mu sendiri!"


"Tidak, semua-Nya tidak ada yang terlambat bagiku!"


Aku berperang dengan hati dan pikiran kecilku sendiri dan itu membuatku merasakan seperti orang gila yang ada di jalanan.


"Emang kamu orang gila Vin! Cih, bodoh sekali!" Umpat author.


Aku akan memperjuangkan diri-Nya, seperti dia memperjuangkan diriku tanpa kenal lelah. Walaupun aku tahu bahwa itu tidak akan mudah untuk memperjuangkan-Nya setelah apa yang pernah aku lakukan kepada diri-Nya.


Menyesal? Tentu saja aku teramat menyesal. Aku sangat menyesal karena menyakiti hati sosok gadis yang aku cintai, gadis yang tulus mencintaiku. Bukan dari fisik maupun harta, akan tetapi dia mencintaiku dengan hati dan perasaan yang tulus.


Terserah apa yang ingin kalian katakan, aku tidak peduli dengan ucapan maupun umpatan kalian. Tidak ada yang tidak mungkin. Karena


'Tidak ada kata-kata yang terlambat, selama aku mau mencoba dan berusaha semampuku.'


Aku terus merapalkan kalimat seperti itu dimana pun aku berada. Seolah-olah kata-kata itu adalah sumber kekuatanku untuk melangkah lebih maju.


"Kamu di mana sayang? Aku terus mencarimu? Akan tetapi aku tidak menemukanmu, bahkan secuil informasi tentang dirimu tak kudapatkan," keluh Melvino sambil menatap sendu ke arah langit senja.

__ADS_1


"Masalah boy, aku sudah menyelesaikan-Nya sayang. Aku sudah membunuh diri-Nya, maafkan aku yang mudah percaya dengan orang asing sayangku," gumam Melvino sambil melihat foto Erlena yang ada di galeri-Nya.


__ADS_2