
"Gue pulang duluan ya kawan," pamit Erlena.
"Iya hati-hati," ucap mereka semua kecuali Melvino.
"Hm, hati-hati di jalan Len," ucap Melvino di dalam hati dengan tatapan sendu ke arah pintu.
SESAMPAI DI PANTI ASUHAN.....
"Vin, untung saja lu ingatin gue, kalau tidak haduh nggak tahu lagi gue harus apa Ha-ha-ha," ucap Erlena sambil menepuk-nepuk pundak-Nya Kevin.
"Iya lah Queen, lagian sudah jadwal-Nya juga kan?" balas Kevin sambil tersenyum tipis melihat kelakuan Queen-Nya ini.
"Hm, iya sih benar," timpal Erlena.
"Ehh, lu sudah belikan sembako-Nya tadi? Jangan bilang kalau lu belum beli sembako-Nya?" tanya Erlena dengan tatapan intimidasi.
"Belum Len," jawab Kevin berbohong dengan wajah yang merasa bersalah.
"Hah! Apa? Jadi lu belum beli sembako-Nya? Jadi bagaimana dong? Ini sudah mau jam 12 orang mau shalat jumatan," pekik Erlena.
"Iya Len, gue sama mereka belum beli. Maafkan kami Len," ucap Kevin sambil menundukkan kepala-Nya agar diri-Nya tidak ketahuan yang sedang menahan tawa-Nya.
"Haduh, lu tuh sudah gue kasih tanggung jawab penuh malah kayak nggak becus gini sih," ucap Erlena sambil menggeleng-gelengkan kepala-Nya.
"Aduh jangan marah-marah mulu dong neng, gue kan cuman bejanda doang. Ekh, maksud-Nya bercanda deng," ucap Kevin sambil menutup mulut-Nya dengan mata yang membuat.
"Hah, maksud lo? Gue gagal paham! Cepat jelaskan!" Pungkas Erlena sambil menatap dalam ke arah Kevin.
"Gue sama mereka sudah beli saat jam 9 pagi tadi, yang gue belum tadi kan gue cuman Pura-pura doang toh? Gue kan pingin isengin lu," ucap Kevin menjelaskan.
"Ck, sudahlah jadi kalian sudah beli sembako-Nya ya?" tanya Erlena.
"Sudah. Queen," jawab Kevin singkat.
"Jangan manggil gue Queen lagi," ucap Erlena tegas.
"Loh? Terus panggil apa?" tanya Kevin sambil menaikkan sebelah alis-Nya.
"Lena saja," jawab Erlena singkat.
"Oke. Len," patuh Kevin.
"Ya sudah, hai kalian," panggil Erlena sambil menunjuk segerombolan geng-Nya itu.
"Kami Queen?" tanya mereka dengan jari jempol-Nya yang menunjuk ke arah dada mereka masing-masing.
"Iya lah! Terus apa!?" bentak Erlena sewot sambil memutarkan kedua bola mata indahnya.
"He-he-he, maaf Queen," sahut mereka sambil cengengesan.
"Kalian ambil semua sembako, yang kalian beli tadi!" perintah Erlena.
"Kalian langsung masuk saja ke dalam duluan, nanti gue nyusul," sambung Erlena.
__ADS_1
"Baik. Queen," patuh mereka semua.
Mereka pun sudah masuk ke dalam panti asuhan termasuk Kevin.
KEADAAN ERLENA.....
DI DALAM TELEPON ERLENA BERSAMA AMANDA.
"Halo, ada apa?" tanya Erlena singkat.
"Lu di mana Len?" tanya balik Amanda.
"Gue ada urusan!" jawab Erlena tegas.
"Urusan apa?" tanya Amanda kepo.
"Rahasia!" jawab Erlena dingin.
"Janganlah dingin-dingin Len, ohh iya lu mau ke cafe nggak?" tanya Amanda sambil mengajak Erlena ke cafe.
"Nope! i'm so lazy," jawab Erlena menolak mentah - mentah.
"Ada pujaan hati lu loh len, yakin nggak mau ikut?" tanya Amanda dengan nada membujuk.
"Serius?" tanya Erlena dengan tatapan berbinar dan tanpa menjawab pertanyaan Amanda.
"Iya, jadi mau nggak?" tanya kembali Amanda.
"Emang jam berapa ke sana?" tanya Erlena kembali dingin, karena dia melihat ada anak kecil yang di bullying.
"Sore, jam 4," jawab Amanda heran karena Erlena kembali dingin lagi.
"Oke," sahut Erlena langsung mematikan teleponnya.
DI SISI LAIN.....
"Mau nggak, si Lena?" tanya Zanna penasaran.
"Mau dong," jawab Amanda bangga, karena bisa menaklukkan hati Erlena yang dingin itu.
"Serius lu!?" tanya Devina sambil membulatkan kedua bola matanya. Tidak biasanya Erlena akan ikut jika ada urusan penting pikirnya.
"Iya," jawab Amanda dengan melebarkan senyumnya.
"Kita bersamaan atau sendiri-sendiri?" tanya Zaki kepada semua orang.
"Gue sama bebep Zanna," jawab zayn sambil memeluk tangannya Zanna.
"Apaan sih Zay! Lepas is malu tahu nggak ah!" Sungut Zanna sambil melepaskan tangannya Zayn.
"Iss, aau ah, kamu jahat sama aku ya!" sungut balik Zayn dengan bibir yang mengerucut dan menyilangkan tangan-Nya di depan dada.
"Gue sendiri saja," jawab Melvino dingin.
__ADS_1
"Gue juga," jawab Raja singkat.
"Okelah, para ciwi?" tanya zaki kembali kepada cewek-cewek yang ada di depan-Nya.
"Gue bersamaan dengan Devina aja deh," jawab Amanda antusias.
"Sip, dah!" ucap Zaki.
Bel pun berbunyi.
"KRING"
"KRING"
"KRING"
"Gue pulang duluan ya sama bebep gue," pamit Zayn sambil menarik tangan Zanna.
"Gue juga duluan ya," pamit Zanna langsung pergi mengikuti arah Zayn.
"Pulang," pamit Melvino dingin dengan memasukan tangan-Nya di dalam saku celana.
"Yo," sahut mereka.
Sebelum Melvino pergi ke cafe dia akan mengantar adek-Nya terlebih dahulu yaitu Adelia. Setelah itu dia mengganti pakaian-Nya, kemudian langsung merebahkan tubuh-Nya sambil memainkan ponsel-Nya.
BALIK KE ARAH ERLENA.
"Ibu," panggil Erlena dengan senyum manis-Nya.
"Iya. Len," sahut ibu panti sambil memeluk tubuh Erlena.
"Kamu sudah lama banget nggak ke sini Len, ibu kangen kamu loh!" Girang Ibu panti dengan nada kesal padahal dia hanya berpura-pura saja, dia hanya ingin mengerjai Erlena sudah lama sekali tidak mengerjai Erlena yang sudah dia anggap sebagai anak kandung-Nya sendiri.
"Maaf Bu, Erlena banyak kesibukan di sekolah dan mengurus cafe Erlena," ucap Erlena tanpa menyadari ucapannya bahwa dia sudah memberi tahu jika dia memiliki cafe xxxx.
"Hah! Jadi selama ini kamu yang punya cafe xxxx?" tanya ibu panti terkejut bukan main, karena di umur Erlena yang seharus-Nya bersenang-senang dengan teman-Nya, malah sekarang sudah bisa mengurus cafe xxxx sebesar itu.
"Ha? Apa Bu?" tanya Erlena polos sekaligus bingung.
"Jadi kamu yang punya cafe xxxx?" tanya kembali ibu panti.
"What! Sejak kapan ibu mengetahui jika cafe xxxx itu milik aku!?" tanya Erlena terkejut, Erlena masih belum menyadari bahwa sejak tadi dia sudah keceplosan.
"Kan kamu yang ngomong sendiri Len! Bagaimana sih kamu tuh, dasar ada-ada saja!" sungut ibu panti sambil memutarkan kedua bola mata-Nya.
"Eeee... Ohh iya, Lena lupa bu lagi nggak konek otak-Nya si Lena ha-ha-ha," ucap Erlena malu sambil menggarukan kepala-Nya.
Ibu panti hanya menggelengkan kepala-Nya.
"Kak Ive," panggil anak kecil yang masih belum di ketahui nama-Nya.
Erlena sontak langsung mengalihkan pandangan-Nya ke arah belakang. Alangkah terkejut-Nya dan bahagia-Nya Erlena saat melihat sosok anak kecil yang sangat menggemaskan.
__ADS_1