
KEESOKAN HARI-NYA......
TOK
TOK
TOK
"Non, bangun yuk sudah pagi non," panggil bibi di depan pintu.
Erlena menggeliat ketika mendengar suara bibi-Nya, Erlena menyingkirkan selimut yang menutupi wajah cantik-Nya. Mata-Nya terbuka secara perlahan-lahan, netra-Nya mencari jam dinding di sana. Sekarang sudah pukul 08.23, sudah lima jam dia tertidur dengan nyenyak.
Mengapa Erlena hanya tertidur lima jam? Karena Erlena habis mengerjakan berkas-berkas lamaran di cafe milik-Nya, bukan-Nya sudah ada kak Siska? Mengapa tidak kak Siska saja yang mengerjakan hal tersebut? Karena dia sedang keluar kota dan Erlena pun mempunyai prinsip jika dia sendiri bisa melakukan atau mengerjakan-Nya dia akan melakukan-Nya sendiri tanpa bantuan orang lain.
"Non, mari sarapan terlebih dahulu. Sudah pagi loh non, nanti non kesiangan bagaimana," ucap bibi di depan pintu karena sengaja Erlena kunci.
Erlena mengucek-ngucek kedua mata-Nya. Membangunkan diri-Nya untuk bangun dari tidur-Nya itu.
"Iya bi, Lena sudah bangun kok. Nanti Lena turun ke bawah. Bibi pergi saja dari sini ll nanti Lena susul kok," ucap Erlena dengan suara khas bangun tidur.
Ketika sudah tidak terdengar lagi suara bibi Elma, berarti wanita itu sudah tidak lagi di depan pintu kamar Erlena. Erlena beranjak dari tempat tidur-Nya, kemudian membersihkan dan merapikan tempat tidur-Nya.
Erlena segera memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri-Nya. Setelah Erlena membersihkan diri-Nya, tidak lupa untuk selalu skincare wajah-Nya dan seluruh tubuh-Nya. Selesai skincareran Erlena bersiap-siap memakai pakaian-Nya yang sudah siap
"Good morning mami dan papi," sapa Erlena memenuhi ruangan meja makan.
"Morning too," ucap kedua orang tua Erlena dengan senyum yang mengembang.
"Mami sama papi sudah bangun dari tadi ya?" tanya Erlena sambil mengucek-ngucek mata-Nya.
"Sudah dong, kami berdua loh sudah berolahraga. Kamu mah kagak olahraga di pagi hari," ucap mami Erlena sambil menggeleng-gelengkan kepala-Nya.
"He-he-he, Lena nggak bermaksud untuk bangun kesiangan loh," balas Erlena dengan mata yang membulat.
"Kesiangan mulu ya Len?" celetuk papi Erlena dengan wajah yang mengejek.
"He-he-he iya pi, habis Erlena ngantuk banget sumpah," pungkas Erlena sambil menguap.
"Dasar manusia pengantukkan, gitu saja sudah ngantuk. Kalau kamu tadi nggak di bangunin sama bibi bagaimana tuh? Mungkin kamu bakalan telat untuk masuk ke sekolah lalu di hukum deh. Baru tahu rasa," sahut papi Erlena sambil menggeleng-gelengkan kepala-Nya.
"Dih, Lena sebenar-Nya sudah bangun dari tadi. Cuman saja Lena...." elak Erlena.
__ADS_1
"Cuman apa? Cuman boker atau lagi apa heh?" ejek papi Erlena.
"Nah itu dia yang di maksud oleh Lena. Lena tadi tuh boker terus lanjut tidur lagi deh jadi-Nya kebablasan. Lena juga nggak tahu bakalan seperti ini sumpah ha-ha-ha," balas Erlena yang di akhiri dengan tawa-Nya.
"Sudah woi, sudah debat mulu nggak capek tuh ngomong mulu mulut-Nya?" tanya mami Erlena kesal.
"Nggak tuh," jawab papi dan Erlena.
"Kalian itu ya, bikin erosi saja! Huh," ucap mami Erlena sambil mengelus-elus dada-Nya
"Emosi mi, bukan erosi, nanti di sangka Rosy pembalap motor itu ha-ha-ha," ralat papi Erlena yang di akhiri dengan tawa-Nya.
Mami Erlena hanya berdian diri sambil menghela napas yang panjang dan menutup mata-Nya.
Papi dan Erlena tersenyum geli melihat mami-Nya seperti itu.
"Ayuk kita sarapan terlebih dahulu, baru kita ngobrol lagi, mami sudah lapar berat nih. Nggak tahan banget," ajak mami Erlena manja sambil mengusap-usap perut-Nya.
"Jangan kayak begitu mi, kayak orang hamil saja ngusap-ngusap perut-Nya kayak di dalam-Nya ada isi-Nya saja," celetuk Erlena sambil duduk di tempat duduk meja makan-Nya.
"Ngapain punya anak lagi, ngurusin satu anak saja bikin pusing sampai kelimpungan hah," balas mami Erlena sambil mendesah berat.
"Ha-ha-ha," tawa Erlena dan papi Erlena.
"Makan!" sahut mami Erlena antusias.
Lima menit kemudian.......
"Mami papi kitakan berangkat-Nya jam 2 siang," ucap Erlena.
"Terus?" ucap kedua orang tua Erlena penasaran.
"Erlena mau pergi sama teman-teman boleh?" tanya Erlena sambil meminta izin kepada kedua orang tua yang dia sayangi.
"Boleh kok!" jawab papi dan mami Erlena.
"Dari jam berapa sampai jam berapa Len?" tanya mami Erlena.
"Eum maybe jam tiga sampai jam setengah enam kayak-Nya loh ya. Kalau bukan ya berarti di ganti arah jam-Nya," ucap Erlena sambil tersenyum tipis.
"Oke lah tetap hati-hati ya sayangku," balas mami Erlena sambil mencium pucuk rambut sang gadis yang dia lahirkan sejak enam belas tahun yang lalu.
__ADS_1
"Ya sudah Erlena pamit ya, Assalamualaikum," pamit Erlena sambil Salim kepada kedua orang tuanya.
"Wa'alaikum salam," jawab mereka.
......................
"Hai, guys!" sapa Erlena dengan senyum yang mengembang.
"Hai, juga Lena!" sahut mereka semua
Ya, mereka semua berkumpul di taman yang sering Erlena kunjungi. Di taman tersebut mereka berkumpul siapa saja yang ada di taman itu? Ada Melvino, Zaky, Zayn, Raja, Devina, Zanna, dan Amanda.
"Dari mana saja Len? Sudah mulai siang lu baru datang!" sindir Amanda memulai pembicaraan.
"He-he-he sorry, gue ketiduran tadi tuh," jawab Erlena dengan senyum malu.
"Dasar kebiasaan!" sungut Devina.
"Eh iya, lu sama Zaky kok bisa pacaran?" tanya Zayn penasaran dengan tangan yang memegang tangan-Nya Zanna.
"Iya tuh ceritain dong," timpal Zanna sambil menyenderkan kepala-Nya di bahu Zaky.
"Dasar bucin! Dikit-dikit nyender, dikit-dikit nyender! Nggak tahu tempat!" ucap Amanda sebal.
"Lah nggak apa-apa nanti lu juga tahu rasanya di mabuk cinta!" sungut Zanna dengan mata membulat.
"Hilih!" sahut Amanda sambil memutarkan kedua bola matanya.
"Nyender kok di sosmed? Nyender tuh di bahu!" ucap Zanna menyindir Amanda.
"Itu mah nyindir bego! Bukan nyender!" sindir Amanda.
"Rendah betul kayaknya, nilai bahasa Indonesia elu!" sambung Amanda sambil tersenyum miring ke arah Zanna.
"Ck, kan gue cuman ngikutin trend. Apa salahnya sih?" ucap Zanna.
"Salahnya ucapan elu menyindir gue!" tandas Amanda.
"Loh? Berarti lu ngerasa dong?" celetuk Zanna sambil menaikkan sebelah alisnya.
Skakmat.
__ADS_1
"Au ah," goyah Amanda.
“ Jangan tanyakan pada diri Anda apa yang di butuhkan dunia. Bertanyalah apa yang membuat Anda hidup, kemudian kerjakan. Karena yang dibutuhkan dunia adalah orang yang antusias” - Harold Whitman