Berjuang Atau Menyerah

Berjuang Atau Menyerah
Episode 71


__ADS_3

..."Saat Anda tidak jujur dengan diri sendiri, Anda terputus dari kenyataan. Anda akan membuat keputusan yang buruk. Anda akan keluar dari momen dan Anda akan kurang bahagia dan Anda akan menjadi salah." - Naval Ravikant...


Dua polisi tersebut langsung mendobrak pintu yang ada di hadapan mereka. Langsung saja para polisi menaiki tangga untuk memasuki ruangan yang di tempati si Bimo. Sedangkan ketiga polisi sedang membantu membuka ikatan tali di tubuh kelima anak tersebut.


"Heyy!Angkat tanganmu, jangan bergerak kemana-mana jika kau tidak ingin kami tembak!" Ancam polisi tegas.


"Eh.... pak polisi, ada apa ya? Emang saya salah apa sehingga pakpol datang kemari?" tanya Bimo pura-pura bego padahal hatinya sudah berdetak sangat cepat dan pikirannya pun kemana-mana.


"Masih tanya lagi! Kamu itu sudah menculik anak-anak yang tak memiliki dosa atau pun salah! Kamu tidak pernah merasakan perasaan orang tua yang mengkhawatirkan anaknya di luaran sana? Ha? Iya!" Teriak polisi marah.


"Ya, saya tidak mempunyai orang tua, orang tua sayalah yang membuang saya di tengah jalan. Mengapa? Mengapa kau menanyakan hal yang tak pantas kepada saya? Saya tidak peduli dengan orang tua mereka yang sedang mengkhawatirkan anak-anaknya. Saya tidak peduli!" Teriak Bimo seperti kesetanan.


"Kamu saya tangkap, karena kami sudah lama untuk mencarimu, ternyata kau berada di sini rupanya pantas saja kau tidak bisa di temukan. Kau selalu bersembunyi di balik batu dan akhirnya kami menemukan kamu!" Bentak polisi sambil mengarahkan pistolnya ke arah jantung Bimo.


"Siapa yang kasih tahu lu?" tanya Bimo lirih.


"Queen," jawab polisi yang sedari tadi berdiam diri.


"Queen? Queen kalian siapa namanya?" tanya Bimo sekali lagi.


"Queen Erlena," jawab polisi singkat.


"Sialan! Lu sudah bocorin rahasia gue Len, gara-gara lu gue di tangkap oleh polisi!" Umpat Bimo sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Heh! Queen kami sangatlah baik, mengapa saya bilang Queen kami baik? Apa kah kau tahu?" tanya polisi sambil menurunkan pistolnya dan memasukkan kedalam saku celananya.


Bimo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menenangkan diri dan otaknya.


"Yang seharusnya kau di hukum selama 30 tahun, tetapi kau di selamatkan oleh Queen agar kau masuk di penjara selama 10 tahun saja. Coba kau pikirkan ada kah orang sebaik dirinya? Yang menolong orang lain yang sebenernya salah hanya karena mengangapmu sebagai temannya?" ucap polisi sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.


Lagi-lagi Bimo hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Sekarang kamu saya tangkap dan di hukum di dalam penjara selama 10 tahun," sambung polisi sambil mengambil borgolnya.


"Hancur sudah, tetapi nggak apa-apalah. Untuk nebus kesalahan gue yang membuat orang tua mereka mengkhawatirkan anaknya!" Ucap Bimo di dalam hati yang sudah sadar akan kesalahan yang di perbuatannya.


"Terima kasih Len, sudah menyadarkan perasaan gue. Gue akan terima hukumannya apa pun yang terjadi," sambung Bimo di dalam hati.


"Baik, silakan tangkap saya. Saya sadar bahwa saya memang salah!" Sahut Bimo pasrah.


"Memang kau salah, masak benar menculik anak kecil yang tidak salah!" Sindir polisi ketiga.


"Baguslah, kalau kamu sudah sadar. Jadi kami tak perlu mengotori tangan kami," sindir polisi sambil menyimpan pistolnya.


Kedua polisi tersebut memborgol tangannya si Bimo lalu menyeretnya dengan kasar.


"Untung saja nggak terjadi apapun, maka tadi hati gue gelisah banget ha-ha-ha," ucap polisi di dalam hatinya.


......................


"Sudahkan?" tanya polisi yang tadi membantu melepaskan ikatan kelima anak tadi.


"Iya ayuk," ajak polisi.


......................


"Queen, terima kasih atas bantuannya. Coba kalau nggak ada Queen. Pasti kami belum bisa menemukan si penculik ini," ucap polisi sekaligus menyindir Bimo.


"Sorry ya Bim, gue cuman mau lu sadar apa yang sudah lu perbuat. Apa lagi itu sama anak kecil yang tidak mempunyai kesalahan terhadap elu," ucap Erlena sedikit merasa bersalah dengan teman balap motornya.


"Iya nggak apa-apa Len, gue emang salah," ucap Bimo sambil menundukkan kepalanya karena malu.


"Semoga ini bisa menjadi pelajaran elu. Jika lu sudah keluar dari penjara, jangan lu lakuin lagi perbuatan ini. Kasihan orang tua mereka yang mengkhawatirkan anaknya," nasihat Erlena sambil memperhatikan kelima anak di hadapannya yang sedang menatap kearah dirinya.

__ADS_1


"Iya, semoga saja," ucap Bimo lirih.


"Sekali lagi terima kasih ya queen, telah membantu kami. Kami izin pergi dahulu ya Queen," pamit kelima polisi.


"Sama-sama pak," ucap Erlena sambil tersenyum manis.


Para polisi beserta kelima anak-anak dan Bimo pergi dari kawasan tersebut. Erlena dan para anggotanya tersenyum lebar.


"Nona," panggil salah satu anggota Erlena.


"Iya ada apa?" tanya Erlena sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Tumben nona nggak nyiksa si buronan tadi? Biasanya nona selalu menyiksa apa yang mereka perbuat itu salah?" tanya salah satu anggota tadi merasa heran dengan Queennya.


"Gue nggak mau nyiksa orang lagi walaupun itu yang bersalah, lebih baik gue serahkan sama para polisi saja. Biar mereka yang tanganin," jawab Erlena yang masih mencium tangan Rangga yang sudah bangun.


"Lucu banget ya, si Rangga ini, tembam banget pipinya huhuhu," ucap Kevin sambil mencium pipi Rangga.


"Nona, sama king kayak suami istri saja," celetuk salah satu anggota Erlena.


"Iya, kayak ngurus anaknya yang sedang rewel saja," ledek salah satu anggota di samping Kevin.


"Hustt!" Ucap Kevin sambil memukul bahu anggota di sebelahnya.


"Ha-ha-ha canda king," sahut anggota di samping Kevin tadi.


"Sudah hih, jangan bercanda mulu. Kita balik ke gubuknya neneknya Rangga yuk," ajak Erlena sambil berjalan meninggalkan para anggotanya.


"Aish kita di tinggalkan sama Lena kan. Gara-gara kalian sih becandanya tu loh bikin greget," sungut Kevin sambil mendelikkan matanya dan pergi mengikuti Erlena.


"Salah lagi," ucap para anggota Erlena sambil menggeleng-gelengkan kepalanya masing-masing.

__ADS_1


"Woi! Ayuk!" Teriak Erlena yang sudah memasuki mobil.


"Iya nona, sebentar," teriak balik anggota Erlena.


__ADS_2