
..."Kepercayaan itu adalah sesuatu yang tidak terlihat, tetapi sangat berharga. Jika di sia-siakan akan membawa kekecewaan."...
......................
..."Jangan sia-siakan seseorang yang terus bertahan meski kau mudah meninggalkan, dan jangan sia-siakan dia yang mampu menerimamu apa ada-Nya meski seringkali luka itu kau berikan pada-Nya. Sungguh dia sangat setia."...
......................
Di sebuah rumah sakit terdapat seseorang yang sedang duduk sendirian dengan tangisan yang mengalir terus menerus. Orang-orang yang melewati seseorang tersebut pasti akan merasa iba dengan keadaan-Nya.
Datang lah Erlena dengan sahabat Melvino dan mendekati di mana Melvino berada. Erlena datang dengan tatapan kosong, ingin sekali dia memeluk Elvin-Nya dan berkata bahwa sebenar-Nya bukan diri-Nya yang membunuh Adelia. Akan tetapi musuh keluarga-Nya sendiri.
Sudah berulang kali Erlena mengatakan seperti itu dan mengakui bukan diri-Nya lah pelaku-Nya. Namun, musuh keluarga-Nya si Melvino. Hanya saja Melvino hingga saat ini masih belum mempercayai perkataan-Nya. Melvino selalu menolak kepercayaan-Nya dari seorang Erlena.
Bibir Erlena terasa kelu, diri-Nya tidak bisa berkata apapun. Erlena pun berjongkok di hadapan Melvino sambil berkata.
"Vin, sebenar-Nya yang membunuh Adelia itu bukan aku. Akan tetapi musuh keluargamu sendiri. Aku baru saja datang saat pembunuh itu datang, aku nggak tahu kejadian yang sebelum-Nya Vin. Benar-benar bukan aku pelaku-Nya," ucap Erlena yang di ikuti bibir yang menggetar.
"Halah! Dasar lu tuh memang munafik! Nggak mungkin lah si boy yang melakukan ini semua! Dia sudah menyesal apa yang sudah dia perbuat di masa lalu, jadi tidak mungkin. Gue percaya sama dia bukan sama lu. Gue juga sudah lihat dengan mata kepala gue sendiri sebelum dia memberikan bukti video bahwa lu membiarkan si Adelia saat dia mulai terbaring lemah!" Bantah Melvino tegas dengan tubuh yang tegak.
"Sungguh dan sumpah aku nggak pernah bohong sama kamu Vin, dia yang bunuh Adel karena orang tua-Nya sakit jiwa Vin. Saat orang tuamu memecat mereka karena mereka telah korupsi di perusahaan orang tuamu Vin. Aku pun nggak mungkin melakukan hal itu sama Adelia," ucap Erlena lirih sambil memejamkan mata-Nya dengan hati yang merasa sesak.
"Dasar lu tuh cewek murahan ya! Gue menyesal sudah pernah mencintai lu, sumpah gue sangat menyesal! Untung saja gue tahu kebusukan lu, sebelum gue mencintai lu sedalam mungkin ha-ha-ha!" Ucap Melvino yang di akhiri dengan tawa-Nya yang membuat hati Erlena tertimbun pisau.
"Kamu cinta sama aku Vin, apa kah itu benar?" tanya Erlena merasa bahagia dan kecewa. Bahagia karena Melvino pernah mencintai-Nya dan kecewa karena Melvino masih tidak mempercayai perkataan diri-Nya.
__ADS_1
"Ya, tetapi sekarang gue sudah nggak cinta sama lu lagi, setelah apa yang lu perbuat kepada adik gue yang paling gue sayangi di dunia ini setelah bunda gue. Gue sangat menyesal sudah pernah mencintai lu apa lagi lu cewek murahan!" Jawab Melvino berbohong.
DEG.
"****, gila ucapan
"Nggak apa-apa, yang penting kamu sudah pernah mencintaiku dengan ikhlas. Terima kasih Vin, terima kasih banyak," balas Erlena dengan air mata yang membendung.
"Hm," deham Melvino sambil mengalihkan pandangan-Nya ke arah pintu operasi.
Zaky, Zayn dan Raja hanya duduk berdiam diri. Mereka tidak ingin menganggu atau ikut campur dalam pembicaraan antara Erlena dengan Melvino.
Erlena pun bangkit dari jongkok-Nya dan berdiri di sebelah Zayn. Erlena pun bersandar di dinding sambil memejamkan mata-Nya agar air mata-Nya tidak menetes di pipi-Nya.
"Ekhm," ucap dokter.
"Adik anda saat ini sedang koma," jawab dokter sambil menatap kedua bola mata Melvino yang menyiratkan kesedihan yang sangat dalam.
"Mengapa dokter tidak memindahkan adikku di ruangan lain?" tanya Melvino dingin.
"Iya saat ini Penderita koma akan dirawat di ruang ICU, agar kondisi-Nya dapat terpantau secara intensif. Selama dirawat di ruang ICU, penderita koma dapat dipasangkan alat bantu pernapasan untuk menjaga laju pernapasan-Nya," ucap dokter panjang lebar.
"Kapan dia akan sadar?" tanya Zayn mewakili perasaan mereka semua.
"Pada umum-Nya, seseorang akan mengalami koma selama beberapa minggu dan jarang lebih dari itu. Namun, ada pula yang mengalami koma hingga waktu berbulan-bulan. Jika hal itu terjadi, kemungkinan untuk meninggal dunia lebih besar," jawab dokter detail dengan kedua tangannya di masukkan ke dalam saku jas dokter-Nya.
__ADS_1
"Jangan pernah kau mengatakan jika adik saya akan meninggal dunia," ucap Melvino sedikit meninggi.
"Loh, kan saya bilang kemungkinan bagaimana sih. Saya juga akan memastikan bahwa adik anda tidak akan meninggalkan dunia, karena dia tidak terlalu parah?" ucap dokter bingung.
"Intinya berikan pengobatan yang terbaik untuk adik saya! Saya tidak mau tahu dan saya akan membayar biaya pengobatan untuk adik saya yang termahal!" Ucap Melvino dingin.
"Semua dokter, pasti akan memberi kan yang terbaik untuk pasien-Nya mas, tidak ada yang tidak baik. Yang tidak baik pasti akan di masukkan ke dalam hukum atau pun di penjara. Ini juga bukan masalah biaya pengobatan yang termahal. Namun, ini hanya rencana Tuhan saya hanya menjalankan tugas dan saya hanya memastikan saja," balas dokter sambil menghela napas panjang-Nya karena menghadapi anak muda seperti Melvino ini.
"Baik lah, saya percayakan ke dokter," timpal Melvino pasrah.
Erlena pun mendekat ke arah Melvino untuk menenangkan emosi Melvino.
"Sudah Vin, sabar ya. Pasti Adel akan sadar percaya sama aku dan kamu jangan selalu membawa emosi yang akan membuat orang menjadi sakit karena ucapanmu," ucap Erlena lembut sekaligus menyindir si Melvino sambil mengelus-elus tangan-Nya Melvino.
Melvino merasa hangat jika di tenangkan oleh Erlena, tetapi dia sadar atas perilaku-Nya. Dengan cepat Melvino menepis tangan-Nya dari Erlena lalu menjauhkan diri-Nya dari Erlena.
"Apaan sih lu, sok-sokan tenangin orang?" Gertak Melvino sambil menatap tajam ke arah Erlena.
"Aku cuman nenangin emosi kamu Vin," jawab Erlena lembut.
"Nggak usah lu nenangin emosi gue. Gue cuman minta satu hal," ucap Melvino.
"Apa itu?" tanya Erlena.
"Bangunin adik gue bisa nggak dari koma-Nya? Kalau bisa gue tidak akan bersikap kasar terhadap elu!" Jawab Melvino sambil tersenyum miring.
__ADS_1
Erlena lagi-lagi terdiam dengan ucapan Melvino. Ingin sekali Erlena menampar wajah-Nya Melvino. Namun, Erlena tak tega untuk melakukan hal seperti itu. Mana mungkin Erlena bisa menyadarkan Adelia, sedangkan diri-Nya bukan lah Tuhan.